
"Apa yang kalian bicarakan?" Suara seorang wanita penuh kecurigaan tiba-tiba terdengar, membuat semua lantas menoleh ke sumber suara. Mereka terbelalak kaget melihat orang wanita itu.
"Ve-vera!" Ucap Farah terkejut.
"Ya? Kenapa? Ada apa, Kenapa kalian terlihat tegang?" Tanya Vera terkekeh pelan.
"Ka-kau bisa ada di sini?" Tanya Axcel tak kalah gugup.
"Ini ada di bawah rumah ku, tidak mungkin jika aku tidak punya akses masuk" Jawab Vera santai dengan senyum nya.
"Kemarilah, duduk dekat nenek" Ucap nenek Rosa ramah. Vera berjalan mendekat dan duduk di samping nenek Rosa.
"Nek, Frans Hopper adalah dalang dari semua ini bukan?" Tanya Vera dengan suara dan sikap yang berubah 180 derajat. Anggota dewan kembali terkejut saat mendengar nama Frans Hopper.
"Mungkin benar, tapi kita masih melakukan penyelidikan" Jawab nenek Rosa.
"Kau kenal Frans Hopper?" Tanya Kang Dong Won.
"Tidak terperinci" Jawab Vera dengan menatap Kang Dong Won tajam. Dong Won tertegun dengan tetapan itu.
"Damn it! Dasar anak iblis!" Umpat Dong Won kesal.
"Jangan mengumpatku atau ku potong lidahmu" Ancam Vera membuat Dong Won merinding.
"Apa dia indigo? Sial!"
"Aku benci mengatakan hal yang sama 2 kali, kau paham?" Ucap Vera membuat semua membisu.
"Dan ingat, aku belum resmi menjadi jajaran dewan, aku masih bisa membunuh mu dengan tangan ku, Kang Dong Won" Ucap Vera.
"Apa kau punya masalah dengan Frans Hopper?" Tanya Jacob.
"Tentu tidak!" Jawab Vera.
"Apa mungkin, Hopper mengincar para anggota dewan?" Tanya Lucas berpangku tangan.
__ADS_1
"Hopper bersaudara..!!" Geram Charles dengan tangan mengelap di atas meja.
"Bersaudara? Maksud nya?" Tanya Ansel ikut buka suara.
"Aish! Anak jaman sekarang memang tidak mudah di bohongi" Ucap Genzo samb8o memijat kening nya.
"Nenek jelaskan" Pinta Vera dengan raut wajah serius. Vera merasakan bad feeling saat memulau pembicaraan tentang Frans Hopper. Entah kenapa Vera merasa bahwa Frans Hopper ini akan menjadi ancaman di masa depan.
"Hopper bersaudara, karena cerita ini panjang, lebih baik kita singkat. Semua di mulai dari bibit pertama, Amun Hopper. Amun adalah awal dari semuanya, dulu ia sangat terobsesi dengan kursi dewan yang saat itu masih terdapat 4 kursi kosong, selain itu Amun adalah sahabat baik Caius, suami ku. Amun bisa di katakan bukan benar-benar seorang mafia, bahkan hanya menggegam pistol saja sudah gemetar. Amun dulu adalah seorang buronan karena kedapatan melakukan bisnis narkoba jenis ganja yang luas ladang nya mencapai 10 hectare" Ucap nenek Rosa menceritakan.
"Karena obsesi nya sudah semakin akut, ia meminta agar Caius memasukkan namanya dalam kursi dewan. Tapi Caius dan 7 anggota dewan yang lain tidak setuju, mengingat Amun yang tidak ada tanda-tanda kemafian dalam dirinya, lebih parahnya Amun bersahabat dengan para tentara, polisi, dan ada di antara teman nya yang merupakan anggota FBI. Tapi anggota dewan saat itu menemukan kejanggalan, jika Amun benar-benar hidup di lingkup hukum dan politik, mengapa ia tidak di penjara saat mereka tau Amun seorang bandar narkoba?"
"Ada kemungkinan jika Amun itu bersekongkol dengan orang berhukum dan politik untuk menghancurkan 11 anggota dewan ini" Ucap Vera memberikan pendapat nya.
"Benar. Itulah titik keanehan nya, seorang bandar narkoba bersahabat dengan anggota kepolisian namun tidak pernah di tangkap sebagai bandar narkoba" Tukas William ikut berseru.
"Jadi dengan kata lain, anggota dewan saat itu menolak masuk nya Amun ke dalam jajaran dewan" Ucap Farah ikut bersuara setelah hanya sibuk mendengar.
"Ya! Amun yang merasakan ditolak tidak dan jadi membenci anggota dewan termasuk Caius. Dan saat itu juga Amun mulai melakukan serangan kepada anggota dewan, Amun berencana menghancurkan anggota dewan hingga keakarnya, sampai tidak ada lagi satu benih pun tertinggal" Ucap nenek Rosa melanjutkan cerita nya.
"Tapi Amun sudah mati saat Hendrick berimur sekitar 16 tahun. Kami merasa bahwa ancaman yang membahayakan jajaran dewan sudah musnah. Tapi ternyata tidak! 4 tahun setelah nya kami mendapatkan informasi tentang 8 orang bersaudara dengan marga dan raut wajah yang sampir sama. Dari situlah ancaman Hopper Bersaudara muncul, tujuan Hopper Bersaudara ini sama dengan Hopper sebelumnya, yaitu menghancurkan anggota dewan hingga keakarnya" Jelas nenek Rosa panjang kali lebar itu.
"Jika sebuah itu kami sudah melenyapkan mereka dari dulu. Hooper Bersaudara hidup terpisah, bahkan kami tidak bisa bisa melacak mereka di manapun" Ucap Genzo menjawab pertanyaan Jessy.
"Tidak! Walaupun kita tidak tau mereka dimana, tapi lama-kelamaa mereka akan mengekspos diri mereka sendiri" Ucap Vera yang nada bicaranya sudah menjadi sangat dingin dengan tataoan mata lebih dendam dan kebencian. "Ada 1 di Indonesia, Frans Hopper, First Hopper"
******
Gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Seorang wanita yang sedang membersihkan tubuhnya. Diri nya sangat tidak sabar menunggu pertempuran dengan para Hopper Bersaudara itu. Tapi Ada kata-kata yang selalu terngiang di telinga nya.
"Vera terlahir dari 2 cairan berbeda"
"...Jack Dawson, dia juga adalah Ayah Vera selain Hendrick"
"...Jack Dawson, dia adalah kakek ku"
__ADS_1
Tak mau otaknya semakin stress, Vera dengan cepat menyelesaikan ritual mandi nya. Dengan jubah mandi, Vera merebahkan diri nya diatas kasur empuk king size.
TOK! TOK! TOK!
Mendengar ketukan pintu Vera beranjak dari posisi nya dan membukakan pintu. Seorang wanita berambut pendek berdiri di depan pintu.
"Ohh.. Masuk!" Ucap Vera mempersilahkan Jessy masuk ke kamar nya.
"Talk it, sisters" Ucap Vera dengan sedikit jeda. Jessy tertegun mendengar Vera memanggil nya 'sisters', Jessy mendongak melihat Vera yang membalikkan badan, enggan melihat Jessy.
"Ka-kau tau semua nya?" Tabya Jessy gugup. Vera berjalan menuju balkon menatap lurus kedepan.
"Aku kendengar semua pembicaraan kalian" Jawab Vera. "Jelas, sangat jelas"
"Vera..."
"Jack Dawson ayah ku, kau saudari ku" Ucap Vera.
"Vera, aku-"
"Kau masih mau melanjutkan hubungan mu dengan Farel, notable nya adik mu?" Tanya Vera dingin dengan tangan mengepal. Jessy tentunduk tidak menjawab pertanyaan Vera. "Kau sudah tau ini semua?"
"Ya.."
"Sejak kapan?" Tanya Vera yang berusaha untuk mencegah diri nya hilang kendali.
"Sejak aku tau kau bagian keluarga William" Jawab Jessy.
"Jessy, kau boleh membohongiku, mengkhianati ku, menikam ku dari belakang, apa pun itu. Tapi tidak dengan Farel, kau tau janji yang pernah aku ucapkan pada mendiang ibu kandung Farel?" Tanya Vera. "Aku berjanji melindungi Farel dari segala ancaman yang hadir, menyayanginya bagai adik kandung ku dan tak akan ku biarkan satu pun orang yang bisa melukai nya"
"Jadi apa Farel tau semua ini?" Tanya Vera menatap Jessy tajam. Jessy menggelengkan kepala nya tanda ia belum memberi tau kebenaran yang sebenarnya.
"Vera, maaf" Ucap Jessy tertunduk sedih.
"Jangan meminta maaf padaku, tapi pda Farel, dialah orang yang akan kau lukai hati nya. Ingat Jessy, luka yang paling dalam dan paling sudah sembuh adalah luka di hati. Tidak ada obat untuk benar-benar menyembuhkan nya" Ucap Vera. "Tolong, keluar, aku lelah"
__ADS_1
Dengan berat hati Jessy keluar dari kamar Vera. Vera hanya melihat punggung Jessy yang perlahan hilang tanpa berkata apa-apa. Setelah Jessy keluar dari kamar Vera, Vera mendongakkan kepala nya ke atas, menahan air mata agar tidak keluar. Matanya terpejam, bibir nya bergetar.
Sementara di tempat lain, Jessy meringkuk dengan pintu kamar nya sebagai sandaran. Jessy merasa bersalah, sedih, kecewa. Jessy menangis sejadi-jadinya di kamar kedap suara itu.