
"VERA!!" Teriak Jessy dkk, Lucas, Alex dan bi Diah yang berlari menghampiri Vera yang sudah tergeletak itu.
Sayu-sayu mata Vera melihat teman-temannya berlari ke arah nya sambil menangis. Vera sedikit mengukirkan senyum tipis nya. Lucas membalikan badan Vera dan memangku kepala Vera di paha nya.
"Vera, lu harus kuat. Kita ke rumah sakit sekarang" Ucap Lucas.
"KENAPA DIEM! SIAPIN MOBIL!!" Bentak Lucas pada mafioso Vera.
"Baik!" Jawab mafioso Vera.
"Lucas.. gua.. gua.. sayang lu.." Jawab Vera yang menyimpang.
"Iya, gua sayang lu juga Ver. Karena out sayang gua, lu harus bertahan" Pinta Lucas.
"Sa.. kit.. gak.. ta.. han.." Jawab Vera.
"Vera hear me! You are a strong woman! You have to hold on for our sake. Must!" Ucap Jessy yang menahan tangis nya.
"To.. long.. kalo.. gua.. ti.. dur.. ka.. lian.. ha.. harus.. jaga.. diri.." Pinta Vera.
"Gak Vera! Lu gak boleh gitu" Jawab Refa.
"Kak Vera.. Maafin Alex, Alex gak ikut perintah" Ucap Alex.
"Non.. Bibi mohon berhatan ya.." Pinta bi Diah dengan air mata keluar deras.
"Ma.. maaf.. gua.. u.. dah.. buat.. ka.. lian masuk.." Ucap Vera.
Vera merasakan perlahan penglihatan nya mulai memudar, telinga nya juga sudah tidak bisa mendengar dengan jelas. Lama kelamaan Vera merasa matanya sangat berat, Vera pun menutup mata nya. Vera hilang kesadaran.Mereka panik, Lucas segera menggendong Vera yang sudah di penuhi merah nya darah. Mereka masuk ke mobil dan langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Kini Jessy dkk, Farel, Alex, bi Diah, Marco dan Ansel duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi. Tak lupa Mark dkk (Mark, Ender, Justin dan Darren) juga ada di sana. Lucas berdiri menyandarkan tubuhnya di tembok menatap kosong ke pintu ruang operasi itu.
4 jam kemudian Darrel keluar dari ruang operasi. Lucas pun langsung melemparinya dengan sejuta pertanyaan.
"Rel, gimana Vera? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Lucas yang sangat khawatir itu.
"Operasi nya lancar kan?" Tanya Jessy.
"Sebelum nya gua punya 2 kabar. Kabar baik dan kabar buruk. Kalian mau denger yang mana dulu?" Jawab Darrel.
"Kabar baik dulu" Jawab Lucas.
"Kabar baik nya operasi Vera berjalan lancar, gua udah keluarin semua peluru dari badan Vera dan Vera juga udah melewati masa kritis nya. Darah dari Farel juga berguna banget" Jawab Darrel.
"Terus kabar buruk nya?" Tanya Farel yang cemas akan keadaan saudara perempuan nya.
__ADS_1
"Kabar buruk nya karena banyak nya luka sayatan yang cukup dalam membuat Vera kehilangan banyak darah, kita harus cepat-cepat dapet donor darah, kalo nggak Vera bakal tidur selamanya." Jelas Darrel.
"Astaga.. Gawat gua harus telfon orang rumah!" Ucap Farel.
"Maksud lu apa Rel?" Tanya Ender.
"Keluarga William punya golongan darah yang sangat special, gak semua orang di dunia ini punya golongan darah itu" Jawab Farel.
"Emang golongan darah apa yang lu maksud?" Tanya Jessy.
"Es merah" Jawab Farel.
"What?! Es merah? Yang bener?" Ucap Mark kaget.
"Darrel, Vera punya waktu berapa lama buat bisa transfusi darah?" Tanya Lucas.
"48 jam" Jawab Darrel.
"Vera butuh berapa kantong?" Tanya Justin.
"2 kantong" Jawab Darrel.
"Tapi Vera bakalan sadar kan?" Tanya Refa.
"Vera koma" Jawab Darrel sambil menunduk.
JEDER!
Bak tersambar petir di sore hari yang cerah. Mereka tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. Mereka juga tidak habis pikir Vera bisa melakukan semua itu hanya karena teman-temannya sekaligus the second family in London, seakan Vera tidak memikirkan tentang diri nya sendiri.
"Vera.." Lirih Farah mendengar jika Vera koma.
BRUK!!
"FARAH!" Ucap teman-temannya kaget saat Farah tiba-tiba pingsan.
Untung nya Justin yang berada tepat di samping Farah dengan sigap menangkap tubuh Farah itu. Darrel pun langsung mendekati Farah.
"Bawa dia ke ruangan" Suruh Darrel.
PIP..
Saat yang sama pintu ruang operasi terbuka memperlihatkan beberapa perawat dan satu dokter lain mendorong brankar Vera. Terlihat wajah Vera pucat pasi, selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuhnya.
"Bawa pasien ke ruang VIP no. 7" Suruh Darrel.
__ADS_1
"Baik dokter.." Jawab perawat itu.
-oOo-
Esok hari nya semua kegiatan yang berkaitan dengan Vera harus di batalkan. Janji Vera yang ingin pergi ke Indonesia pun harus batal karena kondisi Vera yang sangat tidak memungkinkan. Vera masih tertidur lelap dengan alat-alat kesehatan rumah sakit masih terpasang. Wajah pucat nya tidak sedikit pun melunturkan kecantikan alami Vera.
Tok tok tok..
KREKK..
Pintu ruangan Vera terbuka, terlihat seorang dokter pria yang tampan dengan 2 orang suster menemani nya.
"Gua punya kabar baik" Ucap Darrel pada Lucas dan Farel yang sedang duduk di sofa menonton tv.
"Apaan?" Tanya Lucas sambil beranjak dari duduk nya.
"Vera udah dapet donor darah. Vera bisa transfusi darah sekarang" Jawab Darrel.
"Syukurlah.." Ucap Lucas dan Farel kompak.
"Suster lakukan transfusi nya sekarang" Suruh Darrel pada suster itu.
"Baik dokter.." Jawab suster itu.
Suster itu mendekati Vera dan memasangkan selang kecil yang akan digunakan untuk transfusi darah ke Vera. Vera pun akhirnya mendapatkan darah setelah menunggu semalaman.
"Darrel, siapa yang donorin darah buat Vera? Gua mau hilang terima kasih" Ucap Farel.
"Tadi ada cowok yang sukarela donorin darah nya buat Vera, dan ternyata darah nya cocok. Tapi gua gak tau nama cowok itu, dia gak ka kasih tau" Jawab Darrel.
"Ini aneh sangat sangat aneh. Dari mana orang itu tau kalo ada yang cari pendonor dengan golongan darah yang sangat langka itu" Batin Farrel.
"Darrel cowok itu sekarang dimana?" Tanya Lucas.
"Dia udah keluar sejam yang lalu sama bodyguard nya" Jawab Darrel.
"Bodyguard?" Tanya Lucas keheranan.
"Iya" Jawab singkat Darrel.
"Boleh tau ciri-ciri cowok yang donorin darah itu sama bodyguard nya?" Tanya Farel.
"Kalo yang donorin darah orang nya tinggi, badan nya juga kekar plus atletis, rambut coklat kaya Vera gitu, terus bola matanya hitam" Jawab Darrel sembari mengigat-ngigat ciri fisik cowok itu.
"Kok kaya gak asing ya? Tapi masa iya bang Dion? Dia udah meninggal 2 tahun lalu? Tapi kenapa ciri fisik nya mirip bang Dion? Alah! Banyak kai yang mirip bang Dion! Dasar otak dangkal!" Batin Farel sembali menyumpahi diri nya sendiri.
__ADS_1
"Terus kalo bodyguard nya?" Tanya Lucas.
"Ohh.. Kalo yang itu orang nya keliatan kaya orang Jepang gitu, rambut panjang se bahu, kumis tipis dan ada luka di muka nya" Jelas Darrel.