Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 54


__ADS_3

Sinar mentari masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Terlihat 2 orang gadis masih bergulat dengan kasur nya, yup! Vera dan Jessy. Tapi tak lama Vera bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran shower Vera terus berpikir tentang ucapan Ansel pada nya.


-----------


Flashback siang hari sebelum ke hotel..


-Ruangan ketua, markas-


"Vera, menurut ku Jessy bisa jadi salah satu penghianat nya" Ucap Ansel.


BRAK!!


"Ansel, atas dasar apa kamu menuduh nya?!" Pekik Farel yang tidak terima di sertai gebrakan meja.


"Farel duduk, Ansel lanjutkan" Ucap Vera tanpa menghadap Ansel.


"Baik lady" Jawab Ansel.


"Vera!" Bentak Farel.


"Duduk" Jawab Vera dingin dan penuh penekanan berhasil membuat farel terdiam dan kembali duduk tenang.


Ansel lalu menceritakan semua kejadian saat Ansel dan Jessy berjalan-jalan di taman. Vera, Lucas dan Farel mendengar kan dengan seksama. Otak Vera di paksa untuk berpikir keras mengusut siapa penghianat ini. Vera sedikit takut jika di antara sahabat nya merupakan penghianat itu. Karena Vera tidak sanggup membunuh mereka.


"Baik Ansel, aku mengerti maksud mu. Tapi aku juga ingin mendengar siapa lagi yang kau curigai berhianat?" Tanya Vera.


"Refa dan Marco" Ucap Ansel sukses membuat Vera, Lucas dan Farel tersentak.


Vera spontan berputar dengan kursi kerja nya menghadap Ansel. Raut wajah yang serius amat terpancar di sana.


"Ulangi" Ucap Vera.


"Refa dan Marco" Jawab Ansel perlahan takut menyinggung lady nya.


"Beri alasan" Ucap Vera.


"Vera, lu tau sendiri Refa itu siapa. Dia adek Jeon Jinho, lu sendiri tau kenapa Refa membunuh nya kan? Dia pasti punya dendam sama lu karena lu dulu pernah nolak perjodohan yang akibatnya Jinho bunuh keluarga nya sendiri kan" Ucap Ansel.


"Kalo Marco, jujur gua pernah denger dia telfon seseorang dan bawa-bawa nama lu. Di situ gua emang gak sengaja lewat terus denger omongan dia. Dan lu tau? Parahnya pas lu ngasih tau kalo kita nyerang cabang WH, Marco sempet telfonan lagi dan ngomong 'in tentang penyerangan kita" Tambah Ansel.


Flashback Of~


Otak Vera serasa sudah tidak berfungsi lagi. Vera bingung dan sangat sangat bingung tentang ini. Jika benar yang di katakan Ansel, bahwa teman dan orang kepercayan 'nya berhianat Vera akan sangat terpukul. Bagi Vera, membunuh orang kepercayan yang benar-benar berhianat itu mudah. Tapi jika seorang teman yang bahkan sudah di anggap keluarga sendiri oleh Vera berhianat, Vera pasti akan sangat kecewa dan tentu saja Vera tidak akan bisa membunuh orang itu.


Lebih baik Vera berurusan dengan dokumen 2 perusahaan sekaligus dari pada masalah ini.


"Apa benar mereka berhianat? Ini kah balasan yang mereka berikan jika mereka benar seorang penghianat? Terlebih lagi Jessy dan Refa, mereka teman ku dan aku gak bisa bunuh mereka. Oh God~" Batin Vera frustasi.


30 menit Vera selesai mandi dan memakai handuk yang hanya menutupi sampai atas lutut dengan satu handuk di atas kepalanya. Saat membuka pintu ternyata Jessy sudah bangun dari tidur nya.


"Lu udah bangun?" Tanya Vera basa basi.


"Iya" Jawab Jessy.


"Buruan mandi nanti kita langsung ke rumah William" Ucap Vera sambil menunggu pakaian nya sampai.

__ADS_1


Jessy tidak menjawab langsung masuk ke dalam kamar mandi. Vera duduk di pinggir ranjang sambil bermain handphone nya.


Tok tok tok!


"Lady, ini baju mu!" Teriak Ansel dari balik pintu hotel.


Vera berjalan membuka kan pintu dan mengambil paperback dan menutup pintu nya lagi. Setelah selesai berpakaian, Jessy keluar dari kamar mandi.


"Pakai itu, kita berangkat sekarang" Ucap Vera.


"Oke" Jawab Jessy.


Setelah berpakaian mereka turun untuk ke rumah nenek Vera. Tapi sebelum itu Vera sempat meminta Hans untuk ikut bersama mereka. Hans pun menyetujui Vera. Kini mereka membawa 3 mobil dan masing-masing berpasangan kecuali Hans, Vera dengan Lucas dan Jessy dengan Farel. 30 menit lamanya kini mereka sampai di gerbang rumah nenek.


Mereka memarkirkan mobil sampai depan pintu masuk. Mereka keluar dari mobil kecuali Hans, karena Vera ingin memberi kejutan untuk Farel dan keluarga besar William.


"Selamat datang nona Vera tuan Farel" Ucap para pelayanan yang berjejer rapi.


"Nenek!!" Teriak Farel sambil menemui nenek nya.


"Vera, Farel" Ucap nenek dengan mata berkaca-kaca.


Vera, Farel dan nenek berpelukan melepas rindu nya setelah beberapa bulan tidak bertemu. Nenek Rosa pun menangis di pelukan Vera dan Farel.


"Don't cry oma" Ucap Vera sambil menghapus air mata nenek Rosa.


"Kalian sudah sampai?" Tanya om Rio sambil menggandeng tante Ana turun dari tangga.


"Farel!!" Teriak tante Ana sambil berlari kecil.


"Bundaa!!" Jawab Farel yang ikut berlari memeluk tante Ana.


Vera melihat Farel dengan kedua orang tuanya berpelukan hanya tersenyum pahit melihat itu. Nenek Rosa yang menyadari nya juga ikut merasakan apa yang Vera rasakan.


"Andai Hendrick, Vina, Risa dan Dion masih disini mungkin cucu ku Vera tidak akan berubah" Batin nenek Rosa sedih.


"Vera" Panggil nenek Rosa membuat lamunan Vera buyar.


"Oh iya! Sesuai permintaan nenek, Vera dan Farel juga membawa calon mantu mu" Ucap Vera lembut dan menyembunyikan kesedihan, kecemburuan, kerinduan dan kekecewaan dalam dirinya.


"Mereka berdua?" Tanya nenek Rosa memandang tajam Lucas dan Jessy dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Lucas dan Jessy tersenyum kaku dan sedikit takut dengan tatapan tajam nenek Rosa. Vera yang melihat pacar dan teman nya mematung segera memberi kode keras untuk mereka berdua.


"Halo nek!" Sapa Lucas sedikit kaku.


"Halo nek" Sapa lembut Jessy.


"Kalian calon mantu ku?" Tanya nenek Rosa dengan sedikit dingin.


"Nenek Vera kenapa ikut-ikutan dingin?" Batin Lucas.


"Nenek killer" Batin Jessy.


"Iya nek" Jawab Lucas dan di eertai anggukan dari Jessy.

__ADS_1


"Lucas Vanderbilt Ananta, anak pertama Zico Vanderbilt dan Vivian Shaun. Kakak dari Yura Vanderbilt Ananta, pewaris tunggal keluarga Vanderbilt" Ucap nenek Rosa mengidentifikasi calon mantu nya.


"What?! Nenek Vera kenapa bisa tau?" Batin Lucas.


"I-iya nek, bener, saya Lucas" Jawab Lucas.


"Dan kamu Jessy Alvander Devara? Anak Farhan Alvander dan Selen Devara" Ucap nenek Rosa lagi.


"Iya nek, saya Jessy. Tapi kenapa nenek tau semua tentang kita?" Tanya Jessy.


"Apa yang seorang Rosa tidak tau? Untuk menjadi calon keluarga William, aku harus tau seluk-beluk kalian dan pastinya bibit, bebet dan bobot nya. Dan lagi kalian juga akan menjadi bagian dari Keluarga William, Marquen dan Elinor, maka dari itu kalian harus tau sopan santun, jika tidak kalian akan binasa menjadi debu" Ucap tajam nenek Rosa sambil berdiri dari duduk nya di bantu sebuah tongkat kayu.


"Astaga nenek, jangan menakut-nakuti mereka" Ucap Vera.


"Vera, mereka harus tau seberapa berkuasanya keluarga William di Indonesia ini" Jawab nenek Vera.


"Tapi nek, nenek menakuti mereka" Ucap Vera lagi.


"Sudah lah nenek lelah, kalian silahkan beristirahat, anggap seperti rumah sendiri. Ingat Vera, kita masih harus membahas urusan 'itu' dengan keluarga Mama mu. Dan itu di laksanakan pukul 2, jika pukul 2 kamu tidak berada di ruang keluarga, bersiap untuk hukuman" Ucap tegas nenek Rosa.


Vera hanya menghela nafas kasar dan senyum terpaksa nya. Nenek Rosa pun berjalan pelan ke kamar nya. Tapi nenek Rosa berhenti dan berbicara lagi.


"Vera, jangan terlalu di masukan ke hati. Nenek hanya ingin melihat mu bahagia" Ucap om Rio sabil menepuk pundak Vera.


"Mengerti om" Jawab Vera yang kembali menjadi dingin.


"Sudah lah Vera, istirahat lah. Jangan lupa tunjukkan kamar untuk calon mantu William" Ucap tante Ana yang paham perasaan Vera.


"Om, tante, jika nenek mencari ku bilang pada nenek aku keluar sebentar" Ucap dingin Vera sabil melangkah keluar dari rumah William.


"Kalian boleh disini dan beristirahat" Ucap Vera lagi.


Vera menghampiri Lucas dan meminta kunci mobilnya. Vera keluar dari rumah William dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang, sedih, cemburu, kecewa, binggung dan tertekan.


"Lady" Sapa Ansel.


"Ansel, bawa mereka mengikuti mobil itu" Perintah Vera.


"Baik Lady" Jawab Ansel.


Tok tok tok!


Vera mengetuk kaca mobil Hans. Hans pun menurunkan kaca mobil nya dan melihat perubahan wajah Vera.


"Bagaimana?" Tanya Hans.


"Datang lah lagi pukul 2 siang, ada pertemuan dengan keluarga mama" Jawab dingin Vera.


"Oke, aku mengerti. Kamu mau kemana membawa kunci mobil?" Tanya Hans.


"Cari udara segar" Jawab Vera.


"Ingin aku temani?" Tanya Hans.


"Tidak usah. Kamu bisa kembali ke rumah lama dan istirahat. Aku titip mafioso ku" Ucap Vera.

__ADS_1


"Sesuai keinginan mu" Jawab Hans yang mengikuti ucapan adik nya.


Vera berjalan masuk ke mobilnya. Mobil Vera, Hans dan 3 mobil mafioso Vera melaju pergi dari kediaman William. Tapi sampai persimpangan depan, mereka berpisah. Mobil Vera berlanan lurus sedangkan Hans dan 3 mobil mafioso Vera berjalan ke arah kiri.


__ADS_2