
Vera sampai di Jakarta pukul 20.15. Di luar bandara Vera mengeluarkan handphonenya dan menelfon Om Rio.
"Om jemput ya" Ucap Vera.
"......"
"Udah, baru sampe. Om yang cepet ya, Vera cape"
"....."
"Bandara Soekarno-hatta"
"....."
"Ya"
Vera memutuskan telfonnya, Vera duduk di lantai bandara menunggu jemputan dari Om Rio. 15 menit kemudian terlihat mobil sedang hitam mendekat ke arah Vera dan berhenti tepat di sebelah Vera. Vera kenal dengan mobil itu.
"Vera, ayo masuk!" Suruh Om Rio.
"Ya!" Jawab Vera.
Vera masuk ke mobil om Rio. Dengan cepat om Rio melajukan mobilnya meninggalkan bandara membelah jalan-jalan Jakarta.
"Ver, gimana kamu di London?" Tanya Om Rio membuka pembicaraan.
"Baik Om" Jawab Vera singkat.
"Kamu udah ketemu temen?"
"Udah"
"Siapa?"
"Jessy, Farah, sama Refa"
"Bagus deh"
"Hem.."
Pembicaraan mereka hanya sebatas itu saja. Tak lama mobil Om Rio berhenti di sebuah rumah besar, rumah keluarga besar William atau rumah nenek.
Tin tin!!
Om Rio membunyikan klakson mobilnya. Mang Diman yang saat itu masih nonton tv di pos langsung membukakan gerbang untuk Om Rio dan Vera. Mang Diman memberikan salam pada Om Rio dan Vera.
"Malam Mas Rio" Sapa mang Diman.
"Malam mang" Jawab Om Rio.
"Malam mang Diman.." Sapa Vera di balik mobil sambik menurunkan kaca mobilnya.
"Eh.. Ada non Vera. Selamat datang lagi non, tambah cantik lagi nih" Jawab mang Diman seraya menunjukkan senyum nya.
Vera sanya tersenyum membalas perkataan mang Diman. Om Rio melajukan mobilnya dan memarkirkan di depan pintu rumah. Vera dan Om Rio keluar dari mobil dan berjalan masuk ke rumah nenek.
"Udah lama ga pernah ke rumah nenek lagi, nenek kangen ga ya?" Batin Vera.
Note: Vera kalo di Indonesia sama keluarga ga pernah dingin dan selalu senyum.
Mereka masuk bersamaan, kedatangan Vera di sambut hangat para pelayan dan bodyguard keluarga William.
__ADS_1
"Selamat datang kembali nona Vera!!" Seru mereka.
Vera hanya tersenyum membalas sapaan mereka. Vera masuk lebih dalam ke rumah itu, terdengar suara wanita paruh baya berbicara dengan Vera.
"Vera, nenek sudah menunggu di kamarnya" Ucap Tante Luna.
"Ya tan" Jawab Vera.
Vera menaiki anak tangga di ikuti Om Rio dan Tante Luna di belakangnya. Tante Luna adalah istri Om Wawan. Vera sampai di depan pintu kamar nenek. Vera menarik nafas dalam dan mulai mengetuk pintu.
Tok tok tok..
"Nek, ini Vera" Ucap Vera di balik pintu.
"Masuk sayang.." Jawab nenek dengan suara khasnya.
Vera masuk ke kamar nenek. Vera melihat nenek duduk di kasurnya. Suasana kamar nenek saat itu sangat ramai. Banyak sanak saudara disana. Bahkan sepupuku banyak yang hadir.
"Nenek kenapa suruh Vera pulang?" Tanya Vera lembut mendekati nenek dan mencium tangan nenek.
"Duduk dulu sayang, ada yang mau nenek kasih tau ke kamu" Jawab nenek.
"Ya nek" Vera duduk di kursi samping kasur nenek.
Tangan nenek terangkat seperti sedang memberi kode pada seseorang. Om Akmal mendatangi nenek dengan membawa sebuah map berwarna coklat itu dan di serahkan pada nenek.
"Vera buka map ini" Perintah nenek.
Vera hanya manggut-manggut tada mengerti. Perlahan Vera membuka map itu, di dalamnya Vera melihat ada beberapa lembar kertas. Vera celingukan melihat sekeliling, tanpa basa-basi lagi Vera menarik kertas itu keluar dari map. Kertas pertama merupakan surat warisan dari Papa, Hendrick William. Vera membaca dengan teliti surat itu.
"Vera, karena mendiang papa mu sudah tiada seharusnya semua warisan keluarga di serahkan pada anak tertua, Dion." Jelas Om Akmal mewakili nenek bicara.
"Terus apa hubungannya sama Vera?" Tanya Vera basa-basi.
"Jadi kali Vera tanda tangan di kertas ini, Vera jadi orang yang menerima semua warisan Papa?"
Om Akmal mengangguk pelan membalas perkataan Vera. Sebenernya Vera bisa buat jalanin perusahaan LIG milik papa dan butik milik mama. Haya saja Vera belum siap melakukannya.
"Tapi disini tertulis kalo penerus keluarga minimal umur 20 tahun, tapi Vera baru 15 tahun" Ucap Vera menunjuk keterangan pada kertas itu.
"Iya, sebelum kamu berumur 20 tahun perusahaan sementara akan di kelola Om Rio. Nanti pas kamu 20 tahun baru kamu yang pegang atau kamu boleh suruh Om Rio lagi yang orang sampe kamu bener-bener siap" Jelas Om Akmal.
"Oke Vera tanda tangan sekarang. Tapi im dengan 1 syarat"
"Syarat apa?"
"Vera bakal pegang perusahaan setelah Vera umur 23 tahun"
"Tapi Vera itu ga-" Belum selesai Om Akmal menjawab nenek sudah terlebih dulu menjawab ucapan Vera.
"Baiklah, kamu boleh memegang perusahaan saat umur 23 tahun. Tapi kamu harus menepatinya" Ucap nenek.
"Vera janji nek" Jawab Vera.
Vera langsung menandatangani surat tersebut dan ia memberikan lagi ke pada Om Akmal.
******
Selesai itu Vera keluar dari kamar nenek bersama sepupunya, Farel Victor William, singkat nya Farel.
"Ver, lu gimana di London?" Tanya Farel membuka topik pembicaraan.
__ADS_1
"Baik" Jawab acuh Vera.
"Sekolah ku bagus ga?"
"Bagus"
"Kenapa tanya-tanya?"
"Nanti gua mau bilang sama papa kali gua mah pindah sekolah ke London bareng lu"
"What?! Kesambet apaan lu Rel?"
"Kesambet jin!"
"Jin apaan?"
"Jin tomang!"
Jawaban Farel sontak membuat Vera tertawa mendengar candaannya. Tak lama berselang handphone sara bergetar.
Drreett drreett..
Vera mengambil handphonenya, ternyata Jessy melakukan Video call ke Vera. Vera pun mengangkat panggilan Jessy.
"Apaan Jess?" Tanya Vera.
"Gua kengen lu" Jawab Jessy.
"Oh.." Jawab Vera yang hanya berOh ria.
"Sapa tuh Ver?" Tanya Farel sambil mengintip handphone Vera.
"Temen" Jawab Vera.
"Heh Vera! Lu cuekin gua?" Tanya Jessy sambil berdengus kesal.
"Sorry.. Sepupu gua barusan tanya" Jawab Vera.
"Lu punya sepupu? Kenalin dong"
"Beneran lu mau kenalan? Orangnya burik loh.." Jawab Vera dengan nada mengngejek Farel disamping nya.
"Heh singa betina! Gua kagak burik bgst!" Protes Farel.
"Huuu maaf"
"Ver, kenalin dong!" Protes Jessy di telfonnya.
"Tumben lu gini Jess?" Hidayah Vera
Vera langsung mengarahkan handphone nya menghadap Farel. Farel kaget karena tiba-tiba handphone Vera langsung menghadap ke arahnya.
"Iss Ver, lu apa-apaan sih?! Malu tau!" Ucap Farel.
Vera mengabaikan pernyataan Farel. Wajah Jessy di handphone langsung terlihat memerah. Farel memberanikan diri menyapa Jessy.
"Halo!" Sapa Farel.
"Ha-halo juga" Jawab Jessy terbata-bata.
"Gua Farel, lu siapa?"
__ADS_1
"Jessy"
Gara-gara perkenalkan itu handphone Vera kini berpindah tangan ke Farel yang asik ngobrol sama Jessy. Kepliket tuh mereka berdua:v