
Pesawat pribadi Vera sudah terbang lebih dulu membawa pulang Lucas, Jessy dan beberapa mafioso. Tak lama kemudian pesawat yang dinaiki Vera dan Ansel juga sudah take-off menuju Rusia. Vera dan Ansel duduk bersebelahan di kelas bisnis.
"Ansel, jadi Reva juga berhianat?" Tanya Vera sabil melihat ke luar jendela.
"Kayanya sih iya Ver" Jawab Ansel.
"Ansel, gua minta pendapat lu. Apa yang harus gua lakuin kalo bener Reva berhianat? Karena gua gak mungkin bunuh dia" Ucap Vera.
"Kalo lu gak bisa bunuh dia, setidaknya lu harus kasih dia hukuman" Jawab Ansel.
"Hukuman" Ucap Vera mengulang ucapn Ansel.
Di dalam pesawat Vera dan Ansel tidak banyak berbicara. Vera memikirkan hukuman apa yang tepat untuk Reva jika ia benar-benar berhianat. Tanpa di sadari Vera malah tertidur dengan kepala yang bersender di kursi.
"Andai status kita lebih dari sekedar ini. Karena jujur gua suka sama lu Ver. Vera, lu tu bagaikan bintang di langit malam, terlalu jauh buat gua gapai. Tapi hanya dengan sinarmu yang indah, udah cukup buat gua bahagia" Batin Ansel sambil memandang wajah Vera yang terlihat teduh saat tertidur itu.
"Dan kalo Tuhan kasih kesempatan, gua pingin jadi bulan, biar selalu deket sama lu. Dan di dunia nyata gua mau nantinya lu jadi pendamping gua. Tapi gua sadar, itu cuma khayalan semata" Sambung Ansel sambil mengelus lembut rambut coklat nan indah milik Vera.
Tak terasa Ansel ikut tertidur. Setelah 4 jam Vera tidur, Vera terbangun dan melihat Ansel juga tertidur. Vera melepaskan sabuk pengaman nya dan menoleh ke belakang.
"Excuse me sir, I want to ask if the toilet is full? (Permisi tuan, saya ingin bertanya apa toiletnya penuh?)" Tanya Vera pada seorang pria yang mungkin umurnya sekitar 27 tahunan.
"The toilet is empty, miss (Toilet nya kosong nona)" Jawab pira itu.
"Thank you sir (Terima kasih tuan)" Jawab Vera dan di balas anggukan oleh pria itu.
Vera melangkahkan kakinya melewati Ansel. Vera berjalan menuju toilet. Di dalam toilet Vera hanya membasuh wajahnya saja kemudian kembali lagi. Vera duduk di tempatnya dan mengenakan sabuk pengaman nya lagi. Setelah 28 jam 30 menit, pesawat Vera landing di Bandar Udara Internasional Domodedovo, Moskow Oblast, Rusia.
Setelah keluar dari pesawat Vera langsung menuju luar bendara tanpa mengambil koper, karena memang Vera dan Ansel terbang tanpa membawa barang, hanya sebuah dompet kecil milik Ansel. Lagi-lagi Vera dan Ansel menggunakan kacamata hitam saat berjalan keluar bandara.
Di luar sudah ada 1 mobil yang sudah menanti kedatangan Vera dan Ansel. Vera masuk dengan Ansel yang membukakan pintu. Mobil itu melaju menuju markas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara. 45 menit kemudian, mobil itu berhenti di sebuah rumah yang jauh dari perkotaan. Di tempat itu hanya ada satu bangunan, markas cabang TDB. Markas TDB yang ada di Rusia bisa di bilang cukup tersembunyi dan berada di dekat hutan-hutan. Mobil melaju masuk sampai di depan pintu masuk.
"добро пожаловать леди! (Selamat datang lady)" Ucap para mafioso itu.
"Роберто, где ребенок? (Roberto, di mana anak itu?)" Tanya Vera.
"комната в конце зала слева, 2 этаж (Kamar di ujung lorong kiri, lantai 2)" Jawab Roberto.
~Author baik nih kasih kalian belajar bahasa Rusia😂😂~
Tanpa basa-basi Vera dan Ansel menuju lantai atas lorong kiri. Sampai di depan pintu, Vera membuka pintunya tanpa mengetuk. Saat terbuka, terlihat seorang bayi yang tengah tidur di box bayi yang terbuat dari kayu dan ada seorang wanita yang merupakan anggota Wonder Woman.
"леди! (Lady!)" Sapa wanita itu sambil menaruh sebuah dot bayi.
"Потише. Как состояние? (Pelankan suaramu. Bagaimana keadaannya?)" Tanya Vera sambil mendekati box bayi itu.
__ADS_1
"Она очень здоровая леди (Dia sangat sehat Lady)" Jawab Velly.
"Этот ребенок мальчик или девочка? (Bayi ini laki-laki atau perempuan?" Tanya Vera.
"Этот ребенок 2-месячного мальчика (Bayi ini laki-laki yang baru berumur 2 bulan)" Jawab Velly.
Vera mengangguk mengerti dan mempersilahkan Velly untuk pergi dan kembali melanjutkan aktivitas nya. Tersisa Vera dan Ansel di dalam ruangan. Vera masih menatap bayi laki-laki yang tertidur itu.
"Vera, bayi ini mau lu gimana 'in?" Tanya Ansel.
"Gua jadi 'in dia anak angkat gua" Jawab Vera menit Ansel terkejut.
"Yang benar Vera! Umur lu baru 16 tahun, dan apa Lucas akan membiarkan lu menjadi ibu tiri anak ini? Lagi pula jalan lu masih panjang Vera, pikir lah lagi" Ucap Ansel yang menolak pemikiran Vera.
"Ansel, gua tau bagaimana rasa kehilangannya seorang keluarga. Nanti anak ini juga akan menjadi yatim piatu" Jawab Vera.
"Gua jelasin pelan-pelan Ansel. Gua janji gua bakal kasih tau yang sejujurnya sama dia kalo nati dia udah besar" Jawab Vera.
"Sekarang lu mau kasih nama anak ini siapa?" Tanya Ansel.
"Arthur Harley Raymond" Jawab Vera.
"Nama yang bagus Vera. Arthur tumbuhan menjadi lelaki yang pemberani, bijaksana, dan jadi lah pelindung dari ibu tiri mu dan adik-adikmu nanti, Paman akan selalu mendoakanmu" Ucap Ansel.
Vera dan Ansel terlihat sangat bahagia. Mereka nampak harmonis layaknya sebuah keluarga kecil dengan Vera sebagai istri, Ansel sebagai suami dan baby Arthur sebagai anak mereka.
--------
-London, Inggris-
Lucas dan Jessy dkk tengah berjalan-jalan bersama di sebuah taman. Mereka nampak senang bisa kumpul kembali bersama dengan Reva dan Farah, meski tanpa Vera. Karena mereka sudah terlalu lama pergi, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan mereka tidak sengaja melihat seorang gadis yang di goda oleh sekelompok pria.
"Jess, tuh!" Ucap Farah sambil menunjuk dengan dagu nya ke arah cewek itu.
"Berani sama cewek?" Tanya Jessy.
Mereka pun sepakat untuk menolong gadis itu. Mereka keluar dari dalam mobil dan menghampiri sekelompok pria yang tengah menggoda gadis itu.
"Lepasin dia!" Perintah Jessy.
"Lu siapa? Gak usah ikut campur!" Jawab salah satu pria itu yang tangan kirinya di penuhi tatto.
"Oke, jangan salahin kita kalo kita pake cara keras buat maksa kalian" Ucap Jessy.
__ADS_1
Lucas dan Jessy dkk pun berkelahi dengan 5 pria itu. Tak butuh waktu lama, ke-lima pria itu babak belur di hajar mereka. Pria itu pun lari dengan pasukan nya.
"Lu gak papa?" Tanya Farah.
"Aku.. Aku gak papa. Makasih udah nolongin aku" Jawab gadis itu.
"Iya, lu siapa?" Tanya Reva.
"Mia, Mia Olivia" Jawab gadis itu ralat Mia.
"Reva" Ucap Reva memperkenalkan diri kau di sambung dengan Rafah, Jessy dan Lucas.
"Mia, rumah lu dimana? Biar kita anter" Ucap Farah.
"Aku-aku gak punya rumah, aku yatim piatu" Ucap Mia sambil menahan tangis.
"Jess, Cas, kita bawa dia ke mansion aja gimana?" Tanya Reva.
"Tapi Vera gak ngijinin orang lain masuk" Jawab Jessy.
"Terus Mia mau di tinggal di sini? Kasian" Bela Farah.
"Terus lu mau ngebantah Vera?" Tanya Jessy.
"Bukan gitu, tapi Mia kasian. Dia gak punya rumah Jess" Ucap Reva.
"Kasih tau Vera" Ucap Lucas.
"Jangan! Nanti kalo Vera keganggu gimana?" Tanya Reva membuat Jessy dan Lucas berkerut kening dan merasa aneh dengan tingkah Reva.
"Tapi kalo lu mau bawa dia, harus bilang Vera" Jawab Jessy.
"Gak udah Jess, nanti kalo Vera pulang kita tinggal jelasin aja, Vera pasti ngerti kok" Ucap Farah membela Reva dan Mia.
"Terserah kalian. Kalo Vera marah, kalian tau konsekuensinya. Gua sama Lucas gak ikut-ikutan" Jawab Jessy dingin sambil berlaku pergi kembali ke mobil dengan Lucas.
Akhirnya Mia pun di bawa ke mansion tanpa sepengetahuan Vera. Dan lagi Lucas dan Jessy menaruh kecurigaan pada Reva, Farah dan Mia. Tapi Lucas tidak mencurigai Mia dan Farah.
-----
-Hello! Jangan lupa like, favorite, coment and vote. Terimakasih.
Spoiler episode selanjutnya.
-Orang baru-
__ADS_1