
Malam sudah berganti pagi, bulan juga berganti matahari. Dengan tubuh yang masih di bungkus selimut, gadia cantik itu bangun dari tidur nya. Vera membereskan tempat tidur nya dan melakukan olahraga ringan sebelum ia pergi mandi. Dengan balutan pakaian casual dan sepatu merah nya, Vera siap menjalani hari baru nya.
"Morning!" Sapa Refa yang sudah duduk di kursi nya.
Vera membalasnya dengan senyuman tipis dan duduk di kursi nya bersiap menyantap sarapan nya. Suasana makan pagi itu hening, Hans juga sudah pulang sejak subuh. Selesai sarapan mereka langsung berangkat ke sekolah. Baru masuk di koridor sekolah, Vera dkk mendapatkan pangggilan dari kepala sekolah.
"Perhatian kepada murid bernama Vera, Jessy, Refa, Farah dan Farel harap segera menghadap kepala sekolah! Terima kasih!"
"Apa-apaan nih? Pagi buta udah dapet penggilan" Gerutu Farel.
"Kita punya masalah?" Tanya Farah.
"Kayanya sih gak" Jawab Refa.
"Udah, tinggal datengin aja sih apa susah nya" Ucap Jessy.
Tanpa mereka sadari Vera sudah lebih dulu berjalan meninggalkan mereka. Mereka pun dengan cepat menyusul Vera.
"Jadi gua di tinggal nih?" Gumam Lucas sebal.
"Woy bro!" Sapa Ender sambil menepuk pundak Lucas.
"Yo!" Jawab Lucas.
"Ke kelas bareng?" Ajak Mark.
"Oke!" Jawab mereka kompak.
Lucas pun menuju kelas nya di temani Mark dkk (Mark, Ender, Justin dan Darren). Di sisi lain, ruang kepala sekolah. Vera dan yang lain sudah masuk ke ruangan dan berjejer rapi.
"To the point" Ucap dingin Vera.
"Oke! Begini... Nilai pengetahuan dan keteranpilan kalian di atas rata-rata, jadi saya dengan dewan guru sepakat untuk menaikan kelas kalian ke kelas 11 lebih capat dari teman-teman kalian yang lain" Jelas pak Gilberts.
"11-3. Tidak ada penolakan" Ucap Vera dingin sambil melangkah keluar ruangan di ikuti Jessy dkk dan Farel yang mengekorinya.
"Sial! Bisa-bisa nya aku di perintah si cebol itu. Andai bukan dia yang punya ini sekolah, udah aku tendang keluar dari sekolah ini!" Ucap pak Gilberts dalam hati.
Vera dkk pun tidak kembali ke kelas nya, mereka langsung menuju kelas 11-3, kelas baru mereka. Sedangkan di kelas 11-3 ada tambahan 5 tempat duduk baru.
__ADS_1
"Kita punya murid baru?" Tanya Lucas saat melihat ada kursi kosong di belakang nya.
"Iya mungkin" Jawab Mark.
BRAK!!
Lagi-lagi suara itu mengagetkan penghuni kelas 11-3. Seperti biasa pintu terbuka karena tendangan dari Vera. Tapi kini Vera tidak sendiri, melainkan bersama 3 teman dan sepupu nya. Mereka tanpa permisi masuk ke kelas 11-3 dan duduk di antara kursi kosong itu. Vera duduk di kursi belakang Lucas, Refa di samping Diana, Farah di samping kiri Refa, dan Jessy di depan Farel.
"L-loh? Kalian kenapa disini?" Tanya Lucas.
"Loncat kelas" Jawab Farah.
"Hah?!" Ucap Lucas, Mark dan Ender tidak percaya.
"Gimana? Hebat kan?" Tanya Farel yang melebih-lebih kan.
"Murid teladan gitu loh!" Puji Refa.
"Udah" Ucap Jessy.
"Ver, lu duduk di depan gua aja" Ucap Lucas.
Vera dan Lucas pun bertukar tempat duduk, kini Vera duduk di depan Lucas. Di saat mereka sibuk mengobrol lain hal dengan Vera. Vera malah asik tidur di kelas dengan tangan kiri nya sebagai bantalan. Lucas hanya diam membiarkan Vera tidur. Karena akhir-akhir ini Vera jarang tidur karena sibuk mengurus 2 perusahaan sekaligus dan 1 butik milik mendiang mama nya. Tak jarang Vera hanya tidur 3-4 jam saja, bahkan bisa lebih parah, ya itu tidak tidur sama sekali.
Kelas di mulai, guru sudah masuk tapi Vera masih tertidur. Lucas ingin mencoba membangunkan Vera namun enggan. Akhirnya Lucas mengurungkan niatnya untuk membangunkan Vera.
"Vera!" Pikik pak Ezan saat melihat Vera tidur.
Vera membuka matanya dan menatap tajam pak Ezan. Tatapan Vera seperti tersiar sebuah arti kenapa pak Ezan mengganggu nya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya pak Ezan sambil membenarkan posisi kaca matanya.
"Bapak buta?" Tanya balik Vera mambuat pak Ezan marah.
"Vera! Kamu keterlaluan! Kamu tau sopan santuh?! Ini sekolah bukan rumah! Kalo mau tidur pulang sana!" Bentak pak Ezan.
"Ini sekolah gua, gua bebas di sini" Jawab enteng Vera.
"Benarkah kamu jawab?!" Pekik pak Ezan yang meluap-luap, urat leher nya sampai menegang di buat Vera.
__ADS_1
"Punya mulut ya jawab" Ucap Vera.
"Vera! Sekarang juga kamu keluar dari kelas ini dan jangan pernah masuk di jam pelajaran saya! Mengerti?!" Tanya pak Ezan.
"Lu punya hak?" Tanya balik Vera.
"Aku guru mu!" Bentak pak Ezan.
"Guru? Sejak kapan?" Tanya Vera.
"Vera!" Pekik lantang pak Ezan.
Vera tidak mempedulikan pak Ezan. Vera kembali tidur sambil menutup kepalanya dengan topi jaket nya. Pak Ezan pun tambah marah dengan Vera.
PLAK!
Pak Ezan menjambak rambut Vera dan menampar nya keras. Vera kaget setengah mati dengan itu, apa lagi Jessy dkk, Lucas, Farel, Mark dan Ender.
"Kamu jangan keterlaluan! Walau ini sekolah mu, bukan berarti kamu bisa seenak nya di sini. Kami memang cantik tapi hatimu BUSUK! Wanita jelmaan IBLIS!!" Pekik pak Ezan yang marah besar pada Vera.
"Bakal menarik nih.." Batin Refa.
KRAK!
AHHH...!!
BUGH!
BRAK!!
BUGH! BUGH! BUGH!
Tangan Vera mengepal erat menandakan bahwa ia sedah marah besar. Dengan cepat Vera menangkap tangan pak Ezan yang masih menjambak rambut nya, di putar tangan pak Ezan ke belakang dan seketika pula Vera mematahkan tulang tangan pak Ezan. Tidak sampai di situ, Vera menggengam kepala pak Ezan dan di adu nya dengan meja Vera, kepala pak Ezan pun mengeluarkan darah segar. Cukup? Tentu tidak, Vera menendang kuat perut pak Ezan. Pak Ezan terpental dan punggungnya menghantuk meja guru.
Dengan jiwa psychopath yang sudah merasuki Vera, ia berjalan ke arah pak Ezan yang sudah lemah itu. Vera memaksa pak Ezan berdiri, Vera menghadiahkan sentuhan terkahirnya. Dengan sekut dengan Vera memulkul perut pak Ezan sekuat tenaga.Setelah mendapatkan itu pak Ezan tergeletak di lantai dengan keadaan yang memprihatinkan. Semua murid menghampiri pak Ezan untuk menolong nya kecuali Jessy dkk, Lucas dan Farel. Para guru-guru pun ikut datang ke kelas 11-3 saat mendapat laporan jika Vera berkelahi.
Vera merogoh saku celana nya dan melemparkan sebuah kartu gold no limit milik nya.
"Jangan pernah menggangguku atau kau tidak akan bisa menanggung konsekuensi nya" Ucap Vera dingin dengan sorot mata tajam nan dingin nya yang menusuk tulang.
__ADS_1
Vera berbalik badan dan kembali duduk di tempat nya setelah mengelap noda darah di meja nya. Vera pun menghabiskan waktu nya sampai jam istirahat untuk tidur. Pak Ezan juga sudah di larikan ke rumah sakit.