Lady Of The Mafia

Lady Of The Mafia
Chapter 60


__ADS_3

Malam tiba, Vera baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan nya. Sebelum turun Vera mengganti high heels hitam nya dengan sepatu putih. Vera pun berjalan perlahan masuk ke Summer Caffe. Sebenarnya Vera ingin tidak hadir dalam reuni SMP ini. Tapi karena Vera ingat dengan satu sabahat nya Leo, akhirnya Vera tetap dtang walau ia sendiri sudah kelelahan dan butuh istirahat, di tambah dengan kaki nya yang sedikit sakit karena terlalu lama menggunakan high heels. Di dalam caffe Vera mencari-cari keberadaan Leo, tapi tidak terlihat.


"Vera!" Panggil seseorang sambil melambaikan tangan nya ke arah Vera.


Tanpa basa-basi Vera menghampiri orang itu. Yup! Orang itu Leo. Sampai di meja Leo, teman-teman SMP Vera yang lain hanya memandang Vera. Memang reuni ini tidak semua orang datang, karena setiap orang punya kesibuka masing-masing.


"Yo! Dateng juga lu akhirnya. Gua kira gak bakal dateng" Ucap Leo sambil menepuk punggung Vera.


"Senggang aja" Jawab Vera.


"Oh.. Jadi ini surprise nya? Cuma manusia es doang heboh" Sindir salah satu dari mereka, Tasya.


"Ngapain juga di di ajakin ginian? Sekolah aja gak punya temen" Sindir Fitri.


"Tasya, Fitri! Kalian kalo ngomong di jaga!" Bentak Leo yang tidak terima Vera di sindir mereka berdua.


"Toh memang kenyataan kan?" Tanya Tasya.


"Tasya lu gak bisa gitu! Kalo emang lu gak suka sama Vera gak usah nyindir-nyindir" Ucap Damar orang yang dulunya ketua kelas 9-4.


"Loh kok sekarang lu belain dia? Emang lu lupa Vera pernah buat apa sama lu?" Tanya Tasya lagi.


"Sa, itu masa lalu. Gak ada hubungannya sama sekarang. Jadi gak usah di ungkit-ungkit lagi" Jawab Damar.


"Jadi ini mau kumpulan atau ribut sih?" Tanya Rahma.


"Damar, bener yang di bilang Tasya. Jelas-jelas lu inget kalo waktu itu Vera pernah mukulin lu sampe masuk rumah sakit, sekarang ngapa ku bela dia?" Ucap Fitri.


"Gua gak bela Vera, cuma itu masa lalu, jadi gak harus di ungkit-ungkit. Lagian kita kumpul disini buat saling ketemu, bukan sindir-sindiran!" Jawab Damar.


Kedatangan Vera malam itu malah menjadi sumber pertengkaran pada yang lain. Leo pun ikut buka suara untuk menyuruh Tasya dan Fitri berhenti menyindir Vera. Orang-orang di caffe itu menonton mereka semua. Sedangkan Vera merasa kedatangan nya malah tidak di anggap oleh yang lain. Vera yang sudah lelah dan marah itu mengambil tindakan.


BUK!


PRANG!!


Vera menendang meja caffe itu sampai semua yang ada di atasnya jatuh dan pecah, tak terkecuali handphone teman-teman nya yang di letakkan di atas meja. Suara itu membuat mereka berhenti bertengkar dan menatap Vera yang menundukkan kepala.


"Kalian bisa diam?! Kalo emang kalian gak suka gua dateng gua bisa pergi. Gua gak masalah. Lagian buat apa gua kesini kali kalian aja gini? Buang-buang waktu!" Ucap Vera dengan nada dingin nya membuat teman-teman nya diam seribu bahasa.


"Dan lagi mau gua punya temen atau gak, itu urusan gua, bukan urusan lu!" Bentak Vera.

__ADS_1


"Kenapa lu gak terima? Maka nya minta ajarin sama orang tua lu arti teman. Gak tau nya cuma cari musuh doang. Cuma modal kekuasaan buat apa?" Sindir Tasya lagi di saat Vera sudah marah.


"Mentang-mentang lu anak dari keluarga William terus gua gak bisa ngelawan lu? Hello.. dunia ini keras bro! Gak cuma lu doang yang kaya, keluarga Pratama juga gak kalah kaya. Dan lagi kasta keluarga Pratama lebih tinggi di banding keluarga William yang isinya cuma sampah. Bisaya cuma minta perlindungan sama orang lain, Rendahan" Sindir Tasya lagi sukses membuat Vera meledak.


"Gak usah bawa-bawa orang tua man. Lagian lu yang harusnya belajar sopan santun. Lu bilang keluarga Pratama lebih tinggi di banding keluarga William? Buktiin! Apa gini kelakuan penerus keluarga Pratama? Rendahan, bahkan lebih rendah dari sampah" Jawab Vera dengan nada dingin menusuk tulang sambil menatap tajam Tasya. Tasya pun di buat diam dengan ucapan Vera di sertai tatapan iblisnya.


"Dunia ini emang keras, tapi gua lebih keras di banding dunia ini. Lu bukan tandingan gua. Level lu beda jauh dari gua, kekuasaan lu lebih rendah dari gua, nyali lu bahkan lebih rendah. Sekarang gua buktiin kalo gua le ih berkuasa" Ucap Vera di sertai tawa hambar nya.


Vera mengambil handphonenya dan menelfon Ansel.


"Gua mau paling lambat tengah malam keluarga Pratama hilang" Ucap Vera.


"Baik lady" Jawab Ansel.


Vera langsung menutup telfon itu dan mengantongi nya kembali. Sedangkan yang lain hanya merasa ucapan Vera omong kosongnya belaka, tapi tidak degan Leo. Leo sangat yakin dengan Vera.


"Tasya Pratama, nikmatilah saat-saat terakhir kejayaannya mu" Ucap Vera sambil tersenyum lebar.


"Gua ganti kerusakan ini. Sekalian beli handphone baru buat" Ucap Vera sambil melemparkan black cart ke Leo.


Leo dengan sigap menangkap nya. Vera tidak ingin berlama-lama di sana langsung pergi dari tempat itu. Vera masuk ke mobilnya dan melaju kencang meninggalkan Summer Caffe.


------


"Om, tante, Vera berangkat dulu. Jaga diri baik-baik dan tolong jagain nenek" Ucap Vera.


"Iya Vera" Jawab tante Ana.


"Ayah, bunda, Farel juga harus pergi. Gak baik kan kelamaan gak sekolah?" Ucap Farel.


"Iya sayang, belajar yang baik ya. Bunda saat ayah selalu dukung Farel" Ucap tante Ana sambil memeluk Farel.


"Dek.. abang pergi dulu ya. Jangan nyusahin bunda apa lagi minta yang aneh-aneh, kasian ayah. Oke?" Ucap Farel sambil mengelus perut tante Ana yang mulai membesar.


"Ayah, Farel duluan. Jaga bunda ya" Ucap Farel lagi.


"Ayah pasti jagain bunda. Kamu disana nurut sama bunda kedua mu" Ucap om Rio yang memaksudkan Vera dan di balas anggukan oleh Farel.


"Om, tante, Jessy sama Lucas juga harus pamit" Ucap Jessy.


"Iya sayang, panggil tante sama om ayah bunda aja" Ucap tante Ana.

__ADS_1


"Iya bun-bunda.." Jawab Jessy.


Setelah berpamitan mereka masuk ke pesawat. Tapi mereka berpisah, Jessy, Lucas dan para mafioso kembali ke London dengan pesawat pribadi Vera. Sedangkan Vera dan Ansel terbang ke Rusia dengan pesawat komersil biasa. Vera beralasan ke Rusia karena hanya ingin memantau mafia cabang. Padahal Vera dan Ansel punya maksud yang lain.


--Flashback malam sebelum kembali-


Markas TDB Indonesia.


"Ansel, ada perkembangan?" Tanya Vera.


"Ada, Ver. Tapi ini kurang jelas tapi cukup mencurigakan" Jawab Ansel.


"Hem.. siapa?" Tanya Vera.


"Reva" Jawab Ansel tanpa ragu.


Sontak Vera yang sedang meneguk air minum itu kaget dan terbatuk. Reflek Ansel langsung mengelus-ngelus punggung Vera lembut.


"Pelan-pelan dong Ver" Ucap Ansel.


"Lu ngagetin bang*at!" Umpat Vera kesal.


"Udah udah, apa informasi nya?" Tanya Vera to the poin.


Ansel langsung menyerahkan iPad kerjaan ya ke Vera. Di sana terdapat sebuah percakapan SMS dari Reva dengan orang lain entah siapa. Karena kontak nya tidak bernama, hanya nomor telfon nya saja. Di percakanitu tertulis.


[No Name]


~Jangan terburu-buru. Ikuti alur saja.


[Reva]


~Bagaimana jika dia tau? Apa aku akan di bunuh?


[No Name]


~Itu tidak mungkin terjadi


[Reva]


~Baiklah, terserah pada mu

__ADS_1


-Flashback Off-


__ADS_2