
"Arhkk.................................................................
"Hai......... Langit.............. Hai........ Bintang........... Dan kau sang bulan.... Apakah kalian mendengar dan melihat sepasang suami-istri itu begitu sombong dan angkuh ketika dirinya mempunyai harta yang melimpah hah..." Teriak Laksa di atas Gunung Kencana yang ada di daerah tempat tinggal nya.
Dalam keheningan malam, Laksa naik keatas Gunung tempat Ia menenangkan dirinya bila ada sesuatu yang membuat hatinya sakit... Sudah menjadi rutinitas bagi seorang pemuda sebelum Ia melakukan aktivitas nya sebagai pemulung Ia selalu naik ke Gunung Kencana.
"Uwek........ Uwek........ Uwek.........
"Krikk......... Krikk........ Krikk.............
"Ngettt......... Ngettt......... Ngettt..........
"Gog........... Gog........ Gog..............!
Suara suara binatang saling bersahutan menyambut teriakan seorang pemuda yang sudah menjadi teman malam mereka, karna sering nya pemuda itu datang ke atas gunung itu untuk sekedar berdiam diri.
"Hai....... Burung hantu... Jangkrik dan Kau tongeret serta anjing hutan... Puas kau hah..... Melihat ku di hina di caci di maki oleh keluarga Syamsul hah..." Teriak Laksa dengan kewarasannya...
Ocehan pemuda yang sedang melampiaskan amarahnya itu terhenti, ketika tiba tiba angin besar di sekitaran nya datang dengan aroma yang sangat menggugah selera bulu kuduk berdiri.
Kepulan asap putih tampak berdiri di hadapan sang pemuda itu.. Laksa pun tersentak kaget dengan di iringi rasa penasaran yang teramat dalam di hatinya..
"Waduh bisa bisa langit marah ini, gara gara aku tadi bertanya tak sopan.." Gumam Laksa.
Kepulan asap putih pun perlahan lahan mulai berubah wujud nya, menjadi seorang manusia berjenggot putih dengan memakai sorban yang melilit di lehernya serta tangan memegang biji tasbih..
__ADS_1
"Jur..... Juri......... Jurig......................" Kata Laksa ucapan terbata bata...Dengan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
"Dasar cucu tak punya akhlak kau, ngatain kakek kandung sendiri jurig.." Ucap lelaki yang tiba tiba datang dari kepulan asap putih itu.
"Woyyyy......... Bukan tak punya akhlak... Tapi emang kenyataan, anda datang tiba tiba dan berdiri di hadapan ku... Kalau bukan hantu yaa apa..?" Tanya Laksa dengan nada bicara sewot.
"Baik..... Baiklah..... Kakek salah...... Mari kita berkenalan dulu dan sebaiknya Cucuku duduk karna malam ini akan malam yang sangat panjang buat mu.." Kata Lelaki tua yang mengaku Kakek kandungnya Laksa.
"Ok siapa takut... Emang bisa kita berjabat tangan, bukan kah Kakek berwujud arwah saja..?" Tanya Laksa..
"Yaa..... Kita tidak harus berjabat tangan kali...." Sewot lelaki tua itu.
"Yaa sudah... Silahkan perkenalkan dahulu nama Kakek." Pinta Laksa..
"Bentar..... Bentar..... Apakah Kiayi Sepuh yang mempunyai padepokan Macan Putih..?" Tanya Laksa.
"Betul Cucuku.. Tapi sayang seribu sayang, semuanya sudah hancur dan berantakan atas ulah musuh dari menantu ku yang di bantu oleh orang asing.." Kata lelaki yang memperkenalkan dirinya Kiayi Sepuh.
"Bisa kah Kiayi Sepuh menceritakan asal muasal runtuhnya padepokan Macan Putih, yang kata nya sudah melegenda di daerah Jawa Barat dari jaman dahulu.." Pinta Laksa.
"Hmmmmmmmm.. Bukan kah kau tadi siang sudah mendengar cerita dari anak ku.. Fatimah, secara detail tentang masa kelam sembilan belas tahun Keluarga Besar Harsya berdarah, hingga anak pertamaku sampai saat ini belum di temukan keberadaan, setelah Ia berusaha melahirkan mu dan menyimpan mu di tempat pembuangan sampah.." Terang Kiayi Sepuh, mengungkap jati diri Laksa.
"Apa.......... Kiayi Sepuh jangan bercanda dong ahk... Tak asik ahk..... Aku ini anak dari ibu Nuri.." Kata Laksa tak percaya.
"Cucuku..... Mungkin Kedua Orang Tua mu, tak lama lagi akan segera memberi tahukan kepada mu, siapa diri mu yang sebenarnya.?" Orang tua yang kini merawat mu, waktu itu menemukan seorang bayi dari tempat pembuangan sampah ketika sedang mencari barang rongsokan malam itu.... Seminggu berlalu Kedua Orang Tua mu bersama Kakek nya, pindah ke kota Sukabumi, atas perintah dua wanita kembar yang menjadi pembantu di Mansion menantu ku..." Terang Kiayi Sepuh panjang lebar.
__ADS_1
Laksa terdiam setelah mendengar cerita dari lelaki yang datang tiba tiba di atas Gunung Kencana itu... Pikiran dan hatinya masih bergelut dengan rasa tak percaya, tetapi setelah di pikir berulang ulang, dari mulai Nyonya Besar Fatimah memberitahu kan tentang dirinya yang mirip dengan Kakak kandung nya yang telah hilang sembilan belas tahun yang lalu, di tambah sosok Kiayi Sepuh yang berwujud arwah datang menghampiri nya.
"Kiayi Sepuh untuk saat ini, aku belum percaya sepenuhnya... Tetapi pantang bagiku, ketika ganjalan hati di dalam diriku ini tidak di pecahkan.. Kalau boleh aku meminta dan di ijinkan... Harus dari mana kah asal muasal ku mencari petunjuk tentang diriku ini.." Kata Laksa.
Sang Kiayi tersenyum... Ia sudah bisa menebak isi hati pemuda yang menjadi garis keturunan nya itu... Lalu ia pun berkata.
"Cucuku.... Bila kau ingin mencari petunjuk... Selalu bersama lah dengan anakku yang masih ada dan bilang saja kau bertemu dengan ku.." Titah Kiayi Sepuh.
"Apakah Nyonya Besar Fatimah akan percaya kepada ku.. Kek.." Ucap Laksa kini memanggil nya dengan sebutan Kakek..
"Dia akan percaya, karna malam ini, Kakek akan datang dalam mimpi Fatimah dan langsung memberitahukan kepada nya tentang siapa dirimu... Tetapi itu juga Fatimah harus merahasiakan identitas diri mu terlebih dahulu.." Ucap Kiayi Sepuh.
"Baiklah Kek.... Untuk saat ini Laksa akan menuruti kata kata dari kakek.." Ucap nya.
"Seandainya apa yang di katakan Kakek itu adalah kebenaran, bahwa Nyonya Besar Halimah ibu kandung ku dan Tuan Besar Harsya adalah ayahku.. Maka orang orang yang telah memburu dan menghancurkan kehidupan Kedua Orang Tua ku... Sebaiknya mereka mempunyai koneksi dengan sang malaikat pencabut nyawa.." Kata Laksa ucapannya menandakan sumpah serapah.
"Kau jangan gegabah Cucuku... Untuk saat ini kau seperti biasa dan bila perlu masuklah ke salah satu padepokan yang ada di kota Bandung Barat yang bernama Padepokan Cimande. Di situ belajar lah ilmu bela diri dan kanuragan, agar pas waktu nya kamu bisa langsung menumpas orang orang yang sudah menyakiti Kedua Orang Tua mu.." Pinta Sang Kakek memberi nasehat nya.
"Baik........ Kek.... Insyaallah akan Laksa turuti..." Ucap nya seraya mengangguk..
Setelah cukup lama obrolan di malam itu... Sang Kakek pun berpamitan. Dan itu juga Laksa sudah saat nya turun untuk melakukan aktivitas nya sebagai pemulung barang barang bekas di pusat kota.
Entah mimpi apa atau ketemu siapa dalam diri Laksa saat ini, dalam sehari penuh Ia mendapatkan beberapa hal yang di luar nalar kepalanya. Pertama Ia menemukan sesuatu dari cerita Fatimah tentang sosok dirinya.. Lalu Kedua Ia mendapatkan penghinaan yang amat pedih oleh Kedua Orang Tua nya Nona Muda Dinda.. Lalu yang terakhir yang membuat Ia sakit kepala kedatangan sosok yang telah meninggalkan alam dunia ini, datang mengobrol bersamanya.
Bersambung.
__ADS_1