
Kedua nya diam larut dalam pikiran yang berkecamuk, di hati Asep hanya ada satu kata yaitu pisah dengan Mawar, mungkin itu pilihan terbaiknya, tetapi bagaimana dengan Ajis anaknya yang masih terbilang kecil, apakah dia akan mengerti tentang semua ini.
"Kamu mau ngobrol apa, kenapa diam..?" Tanya Mawar setelah beberapa menit Ia duduk tapi Sang suaminya hanya diam saja membisu.
"Aku besok sama Ajis akan pergi ke kota Sukabumi dan sementara waktu tinggal di sana bersama Kak Nuri.." Kata Asep sejenak ucapan itu terlepas dari mulutnya.
"Ohk... Apakah tak merepotkan mbak Nuri, mereka kan kehidupan nya susah, emang kamu mau jadi pemulung. " Mawar berkata dengan merendahkan Kakak ipar dan suaminya itu.
Asep terdiam sesaat, emang kenyataan kakak kandung nya emang miskin, tapi rumah tangga nya harmonis, berbeda dengan rumah tangga dirinya yang penuh dengan kepalsuan dan berpura pura bahagia di depan orang.
"Aku hanya ingin menenangkan diri saja.." Ucap nya pelan dan tertunduk.
"Kenapa harus membawa Ajis, aku di sini sendiri, kesepian.." Mawar berkata penuh dengan drama, padahal dalam hatinya penuh rona kebahagiaan.
"Munafik, dasar wanita iblis, tunggu saja setelah Ajis tahu akan sipat mu, aku akan langsung menceraikan nya ." Batin Asep bergejolak.
"Suamiku berapa hari kamu di rumah mbak Nuri.." Sambung Mawar.
"Mungkin satu bulan, atau bisa jadi tiga bulan tergantung betah tidak nya Ajis di rumah Tante dan Paman nya itu.." Kata Asep menerka nerka isi hati istrinya.
"Aduh kok lama amat sih suamiku..."
"Kan aku juga ngomong mungkin, tergantung Ajis betah atau tidaknya.." Ucap sang suami.
"Yaa sudah kalau mau mu begitu aku tak akan melarang, tapi seandainya Ajis sudah tak betah dan ingin pulang, kamu jangan menahannya.." Kata Mawar mengingatkan.
"Yaa..." Asep membalasnya dengan singkat lalu Ia pergi keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana..?" Tanya Mawar menahan suaminya untuk tidak keluar kamar.
"Aku mau sholat Isya.." Asep menjawab tanpa membalikkan badannya, langsung berlalu keluar menuju kamar mandi.
"Hahahahaha, akhirnya bebas juga dari suami yang tak berguna itu, mudah mudahan seumur hidup tak kembali lagi..." Ucap Hati Mawar.
Setelah suaminya keluar dari kamar untuk melaksanakan kewajiban nya yang biasa akan memakan waktu yang lama atau pun selalu tertidur di tempat sholat, Mawar pun seperti biasa langsung membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada kekasih gelapnya.
"Yank terima kasih ya, tadi Bruno anak buah kamu mengirim pesan kepada ku bahwa tugas nya sudah selesai.." Pesan wasttap terkirim tapi belum di baca oleh Firza.
"Kapan kita Bertemu, suamiku besok akan pergi bersama anakku ke tempat Kakak nya yang ada di kota Sukabumi, kepergian lumayan lama sekitar satu bulan.." Pesan pun di kirim lagi tapi masih belum di baca.
Hampir sepuluh menit Mawar menunggu balasan dari sang kekasih gelapnya itu, tapi tak kunjung di balas juga.
"Mungkin sudah tidur.." Pikir Mawar..!
Karna tak kunjung di balas juga, dan sulit nya mata untuk terpejam, ibu beranak satu pun keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur mengambil minuman.
Ucapan dari Sang suami kepada sang maha tunggal terdengar jelas di telinga Mawar malam itu.." Ya Tuhan ku bila hamba harus pisah dengan istri hamba, maka tunjukkan jalan untuk hamba, tetapi bila engkau punya rencana lain dan ini ujian rumah tangga buat hamba, maka hamba mohon beri lah hidayah kepada istri hamba agar dia bertobat atas kelakuan yang selama ini dia lakukan.
Saat itu jantung mawar berdetak kencang, keringat bercucuran di dahi dan seluruh tubuh nya, doa yang di panjatkan oleh Sang suami menusuk dalam kalbunya.
Ia berpikir keras berarti selama ini suaminya mengetahui tentang perselingkuhan dirinya dengan lelaki lain. Tetapi mengapa dia hanya diam saja dan tak berontak, apakah karna aku tak menuntut hak materi atau dia bertahan karna ada nya anak. Kini Mawar bener bener di lema hati dan pikirannya. Hingga tak terasa dirinya kini sudah berada di dalam kamarnya lagi dan terlelap dalam tidurnya."
##############
Pukul 01:00 dini hari.
__ADS_1
Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana di bukit Gunung Kencana malam hari, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin menyegarkan. Langit cerah dihiasi bintang-bintang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan. Nyamuk juga tidak mau kalah, terbang kesana kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan. Oh Tuhan betapa malam ini penuh dengan kebahagiaan, jiwa-jiwa yang kelelahan terlelap dalam tidur malam, sementara beberapa jiwa nampak terbangun, duduk mengadu kepada Tuhan pencipta seluruh alam. Terdiam dalam indahnya sebuah malam.
Seperti biasa pemuda itu naik ke atas bukit Gunung Kencana dan sesampai nya di atas dirinya langsung menyalakan api unggun untuk menerangi malam nya itu.
Setelah beberapa menit kemudian, ketika dirinya telah melaksanakan Amalan yang biasa dia baca dan Amalkan tiba tiba angin kencang di area seputaran Laksa datang, hawa dingin pun menusuk dalam tengkuk nya.
"Hmmmmmmmmm''..." Kakek datang.." Gumam Laksa.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.." Sosok makhluk memakai surban putih datang tiba tiba mengucapkan salam.
"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.." Jawab pemuda yang tak lain Cucu nya sendiri.
"Kek..... Aku sudah bertemu dengan Ayah dan Bibi Fatimah sudah memberi tahukan siapa aku sebenarnya kepada ayah dan Paman Riyan.." Laksa berkata kepada makhluk yang hanya berwujud arwah itu.
"Yaa Itu sudah menjadi jalan mu Cucuku, tapi dengan terungkap nya Jati dirimu oleh Ayah dan Paman Riyan, jalan kedepannya akan semakin penuh dengan liku liku, Kakek harap kamu bisa menghadapi nya.." Terang Kiayi sepuh memberi masukan dan mengingatkan nya.
"Bukan jalan ini yang aku mau Kek.."
"Aku ingin menjalankan kehidupan yang tanpa ada beban, tanpa ada musuh, tanpa ada pertumpahan darah, aku ingin menjadi Laksa yang seorang Pemulung.." Kata Laksa berterus terang.
"Maafkan Kakek, Cucuku.!
"Kamu di takdir kan lahir di dunia ini untuk menanggung kekacauan yang ada dalam interen perusahaan milik ayah mu, dan hanya kamu yang bisa menghentikan kekacauan itu dengan terbunuhnya musuh musuh dari ayahmu.." Terang Kiayi Sepuh.
"Baik........ Baiklah...... Laksa akan menjalani, tetapi ada satu yang ingin Laksa minta dan Kakek serta ayah atau pun bibi Fatimah harus mengabulkan nya.
"Apa yang kau minta Cucuku..?" Tanya Kiayi Sepuh.
__ADS_1
"Laksa hanya minta tak ada penekanan dari pihak Ayah dan Bibi Fatimah..." Ucap nya, Sang Kiayi Sepuh pun tersenyum dan mengangguk.
Bersambung.