
"Tut......................" Tut...................." Tut.."
Panggilan terhubung di tengah malam itu, terdengar merdu suara ringtone penyanyi kelas atas di telinga Riyan Putra Pratama.
"Halo. Brother ada apa?"
Seorang lelaki dari sebrang telepon bertanya."
"Sahabat ku Harsya kau sedang dimana sekarang, bila tak jauh segera meluncur ke rumah sakit ada hal yang sangat penting.." Pinta Riyan.."
"Hal penting apakah yang keharusan aku meluncur saat ini.. Apakah tentang anakku..?" Tanya Harsya .
"Yang pertama itu tentang anakmu. Sebaiknya kau segera meluncur saat ini juga.." Tegas Riyan."
"Siap Riyan saat ini saya otw.." Jawab Harsya dan panggilan pun berakhir."
Setelah melakukan panggilan telepon bersama Harsya, Riyan pun langsung menghampiri wanita yang seumuran dengan istri, tampak dengan telaten wanita itu menyuapi Laksa penuh kasih sayang."
"Kak Fatimah, suami anda saat ini meluncur menuju kesini mungkin dua jam sampai ke sini.." Ucap Riyan. Memberi tahukan.
"Terima Kasih Riyan." Balas Halimah singkat."
"Amanda apakah kau telah menelepon Fatimah dan mengabarkan untuk segera datang kesini..?" Tandas Halimah sesaat berhenti menyuapi bubur pada Laksa dan menoleh kearah Amanda yang baru keluar dari kamar kecil.
"Sudah Wa, mungkin sama kaya Paman Harsya dua jam akan sampai ke sini." Terang Amanda.
"Bagus lah.. Aku masih ada waktu satu jam lagi menemani anakku.. Karna belum saat nya aku menampakkan diri di hadapan suami dan adikku.." Kata Halimah membuat mereka tercengang tak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari wanita putri dari pemilik padepokan Macan Putih itu.
"Kenapa Bunda! Apakah Ayah dan Bibi Fatimah mempunyai salah sama Bunda.?" Tanya Laksa penasaran dan keningnya berkerut."
__ADS_1
"Kak Halimah ada apa? Kenapa tidak saat ini kak Halimah bertemu dengan Harsya dan Fatimah.?" Kini Riyan yang bertanya pada istri dari sahabatnya.
"Anakku sayang Muhammad Laksa Ilham.. Nanti Bunda akan menemui Ayah dan Bibi mu ketika kamu sudah sembuh benar.. Mereka berdua tidak mempunyai kesalahan apa pun terhadap Bunda, tapi Bunda akan kembali bersama Cok Ben serta Inah dan Ineh setelah kamu bener bener sembuh dan keluar dari rumah sakit ini.." Terang Halimah."
"Riyan kau juga tahu kan, kita sudah sepakat dalam obrolan kemarin siang tentang rencana ku untuk menjadi perisai dalam anakku.." Kata Halimah mengingatkan nya.
"Iya Kak." Riyan seketika teringat tentang obrolan kemarin bersama Halimah untuk tidak menonjolkan dirinya ketika Laksa sudah sadar."
"Muhammad Laksa Ilham.. Sekarang tidak akan ada lagi yang berani mengusik dan menyakiti mu, Bunda akan selalu ada di belakang mu.. Cepat sembuh ya kita akan berkumpul kembali dalam satu keluarga, Keluarga Besar Harsya Badzil Ismail Abdullah.." Kata Halimah memberi semangat pada anaknya yang tampak terlihat sedang mengunyah bubur yang di berikan oleh Ibu nya.
"Iya Bunda." Tapi Bunda esok malam kesini lagi kan.?" Tanya Laksa.."
Halimah mengangguk, tanda setuju permintaan dari anaknya."
##############
Malam semakin mencekam di salah satu Gunung yang ada di kawasan barat, para warga dan penduduk sekitar mempercayai bahwa Gunung itu tempat bersemayamnya para mahluk ghaib yang beraliran hitam dan menyukai manusia manusia yang meminta bantuan pada para dedemit yang berada di bukit Gunung Siluman itu.
Sementara tampak terlihat dari kejauhan, oleh salah satu siluman yang berkedudukan sebagai pengawal siluman monyet, tiga pemuda yang berusia hampir sama, sama khas nya sedang khusu bertapa untuk mendapatkan sebuah pusaka untuk di jadikan tameng oleh mereka bertiga.
"Goarrr.........................."
Suara satu dedemit datang di hadapan ketiga petapa yang sudah dua hari dua malam, tanpa minum dan makan Ia bersemedi dengan khusu tanpa ada gangguan sedikit pun dari bangsa siluman.
"Hai manusia, meditasi mu sudah selesai dan aku terima niat baik mu untuk bertapa di Gunung ini, aku akan memberikan pusaka yang bisa menggetarkan semua musuh mu bila kalian menggunakan nya.. Namun ini pusaka hanya ada dua dan bila kalian menginginkan, sebaiknya salah satu kalian harus mati dan itu juga sebagai persembahan buat ku." Wangsit terdengar begitu jelas di ketiga pemuda yang sedang bertapa itu.
Hening sesaat malam itu, apakah ketiga nya berpikir keras dengan suara yang terdengar secara tiba tiba, apakah bisa di percaya atau itu hanya ujian buat mereka agar saling bunuh dan memenuhi keinginan sang pemberi pusaka itu.
"Goarrr..................." Manusia, apa yang baru saja saya ucapkan itu sebuah kenyataan. Bila kalian ingin mendapatkan dua pusaka sakti dari ku, maka salah satu dari kalian harus mati dan menjadi tumbal di Gunung Siluman ini.."
__ADS_1
Suara itu datang kembali perkataan hampir sama dengan yang pertama, sang dedemit atau pun bisa di sebut siluman hitam itu memberikan pilihan kepada ketiga petapa yang tak lain, Ray. Diki dan Andri."
"Goarrr..............."
"Goarrr.............."
Ray, membuka kedua matanya secara perlahan lahan di ikuti oleh Diki, mereka berdua terbelalak melihat di hadapan nya itu makhluk berukuran besar dengan kedua taring yang begitu tajam dan dari mulut nya keluar lendir yang begitu menjijikan dalam pandangan mereka berdua.
Namun bagi mereka berdua tak ada rasa takut sedikit pun melihat makhluk yang di luar nalar itu, mungkin sudah biasa atau pun selama ini pelajaran yang di berikan oleh Guru nya yang bernama Eyang Genta selalu berhubungan dengan mahluk mahluk siluman.
Ray dan Diki tersenyum dan langsung bangkit dari duduk nya, berjalan satu langkah dua langkah dan kini berdiri di hadapan makhluk mirip Gorila itu.
"Tuan Raja Gorila, perlihatkan pada kami terlebih dahulu, lalu kami akan membunuh teman ku yang masih duduk di belakang kami.." Ray sesaat menoleh kearah Diki dengan seringai licik di bibirnya dan langsung menatap tajam kearah mahluk menyerupai Gorila itu.
"Goarrr..............."
Kaki nya berjingkrak jingkrak hingga tanah di area itu bergetar, lalu kedua tangannya memukul bidang dada nya sendiri.."
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.........."
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..........."
"Blezzzzzzzzz....."
"Blezzzzzzzzz......"
Tiba tiba dua buah keris kembar terbang secepat kilat, dan langsung menancap ke tanah di hadapan Ray dan Diki, belati itu begitu terang memancarkan cahaya yang menyilaukan kedua mata mereka berdua.
"KERIS NOGO KEMBAR
__ADS_1
"*Kena kau mahluk jelek dan buruk rupa, dan sory ya aku harus membunuh teman ku demi pusaka yang kau perlihatkan kepada kami berdua.." Ucap hati Ray dan mungkin Diki juga hati nya berkata demikian.
Bersambung*.