
"Sialan.......................!
"Bajingan dasar banci..........." Teriak seorang pemuda datang dan langsung melompat seraya menendang kepala Sueb yang tampak puas memukul secara membabi buta kepada Srikandi Padepokan Cimande.
"Ahkkkkkkk......................!
Ringis suara Sueb menggema seantero kamar itu merasakan sakit akibat tendangan dari pemuda yang tiba tiba datang itu.
Melihat lelaki yang di tendang oleh pemuda yang tak lain adalah Muhammad Laksa Ilham terjengkang hingga meringis kesakitan dan berusaha bangkit. Laksa pun langsung melompat kembali dan menghujam kan beberapa pukulan yang kearah wajahnya, hingga Sueb tampak terlihat babak belur.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.
"Bughh.......................!!
"Braakkk.....................!!
Laksa terpental terkena sapuan tendangan dari Diki dan Andri secara bersamaan hingga membentur sebuah lemari dan tampak terlihat oleh Dewi satu dan Siti Kulsum, meringis kesakitan.
"Bangun hah.." Teriak Diki kepada Laksa.
"Ayo bedebah..." Andri pun berteriak untuk memprovokasi pemuda itu untuk bangun.
Perlahan lahan Laksa mencoba untuk bangun seraya memegang dada yang terasa begitu sakit.." Sialan mereka cukup kuat juga, kenapa Paman Asep bisa berurusan dengan mereka.
"Siapa kau, apa urusannya dengan lelaki dan wanita itu..?" Tanya Andri kepada Laksa yang datang tiba tiba walau pertanyaan itu tak seharusnya di tanya kan.
"Aku datang hanya untuk menjemput Paman ku, yang sudah kau pukuli hingga babak belur.." Laksa menjawab seraya dalam hatinya membaca satu amalan.
"Ohk.... Begitu rupanya dirimu. Tapi mohon maaf lelaki busuk itu sudah mengusik kesenangan teman ku.." Andri seketika berlari dan kini berada di hadapan Laksa dengan kecepatan yang tak masuk akal hingga Laksa pun lengah tanpa pertahanan.
"Bugh...............!
"Bugh................!
__ADS_1
Dua tinjuan tepat mengarah perut Laksa, hingga merasakan mual yang teramat dalam dan kini posisi tubuhnya merunduk tepat di hadapan Andri.
"Kau bener bener datang menjemput Paman mu, hanya sekedar mengantarkan sebuah nyawa yang sangat berharga anak Muda.." Ucap Andri.
"Hiaat........................!
"Mati kau........................" Teriak Andri seraya mendaratkan sebuah pukulan yang kemungkinan nyawa Laksa akan melayang.
################.
"Kriiiiing............................!
"Kriiiiing............................!
Suara telepon itu memenuhi ruangan Mansion Tuan Syamsul.
Mansion mewah yang berada di bagian timur pusat kota Sukabumi ini berdiri angkuh di antara rumah rumah lainnya. Di bagian timur ini memang ini adalah bangunan Mansion yang paling besar di antara rumah lainnya. Lebih tepatnya seperti Istana raja yang di kelilingi oleh kediaman para punggawa.
Tak lama setelah itu tampak seorang laki laki setengah baya berjalan mendekati meja dimana pesawat telepon berada dengan sedikit rasa malas karna sibuknya dengan perencanaan acara haol sang pemilik padepokan Macan Putih yang di adakan di kediaman nya itu.
Segera setelah itu, laki laki setengah baya itu mengangkat gagang telepon dan berkata."
"Halo. Siapa di sana.?"
"Tuan Besar Syamsul. Mohon maafkan hamba, saya Nuri Ibu nya Laksa. Saya hanya ingin meminta nomor telepon Nyonya Besar Fatimah karena ada sesuatu yang sangat penting.." Kata Sang penelepon di sebrang telepon yang tak lain Bu Nuri.
"Ohk.. Bu Nuri.. Ada hal penting apakah.?" Kebetulan Nyonya Besar Fatimah serta Tuan Besar Harsya pun sudah berada di sini?" Apakah perlu saya katakan bahwa anda ada perlu kepada Nyonya Besar Fatimah..?" Tanya Syamsul penuh keheranan.
"Terima Kasih itu lebih bagus, bila Nyonya Besar Fatimah ada di tempat anda Tuan."
"Ya itu lebih baik. Saya ada sesuatu yang ingin di sampaikan langsung kepada Nyonya Besar Fatimah saat ini juga.." Ujar Nuri dari sebrang telepon.
"Siap. Bu Nuri tunggu sebentar, saya akan sampaikan kepada Nyonya Besar saat ini juga.." Kata Syamsul, lalu menyimpan pesawat telepon nya itu dan berlalu menuju ruangan keluarga setelah kata Iya dari Nuri terdengar di telinga nya.
__ADS_1
Di ruangan keluarga kediaman Tuan Syamsul. Tampak orang orang hebat dari perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP sedang bercanda ria dalam acara menyambut haol kematian pemilik Organisasi Macan Putih itu.
Syamsul datang dan langsung berbisik ke telinga Fatimah mengatakan sesuatu tentang Ibu angkat keponakan nya itu.
Fatimah langsung mengangguk dan segera berjalan menuju sebuah pesawat telepon seluler yang tak jauh dari ruangan keluarga.
Sesampainya di sebuah meja tempat pesawat telepon itu berada Fatimah pun segera berkata.
"Bu Nuri, ini saya Fatimah, ada hal penting apa yang ingin anda sampaikan kepada saya..?" Tanya Fatimah.
''Nyonya Besar Fatimah, mohon maaf sebelumnya, mengganggu kesibukan anda, tapi ada sesuatu hal penting yang harus di sampaikan mengenai Muhammad Laksa Ilham.." Nuri berkata di seberang telepon langsung pada tujuan nya.
"Anda terlalu sungkan, Bu Nuri. Silahkan kemukakan saya mendengarkan nya.." Pinta Fatimah.
"Begini Nyonya.. Baru saja sepuluh menit, adik ipar saya menelpon bahwa dia bertanya mengenai keberadaan Kakak saya yang tak lain suaminya, lalu saya pun memberikan tahukan tentang suaminya meminta di jemput oleh Laksa yang berada di kawasan puncak serta memberikan serlock lokasinya.
"Adik ipar saya terkejut, lalu menjelaskan semua nya panjang lebar tentang dirinya telah berkhianat tentang rumah tangga nya, atas sipat dan rasa tak mau kehidupan nya di usik oleh orang lain, maka Mawar adik ipar saya menyuruh selingkuhan nya untuk menculik paksa kedua lelaki dan satu perempuan di kampung tempat dimana Asep Sukardi tinggal.
"Firza Sang Ketua Serigala Merah, di balik penculikan itu, sedangkan anakku yang menjemput Paman nya di vila itu sama hal dengan mengantarkan nyawanya.." Bu Nuri secara mendetail dan akurat menjelaskan kepada Fatimah tentang informasi dari sang Adik ifar, karna rasa khawatir dan ketakutan yang akan terjadi kepada Laksa, maka Ia mau tak mau harus memberi tahukan kepada Fatimah yang kini posisinya adalah Bibi kandung anak yang telah di besarkan selama belasan tahun itu.
Fatimah terdiam mendengarkan semua penuturan dari ibu angkat keponakan nya itu, seraya hatinya bergemuruh dahsyat, ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya bahwa akan terjadi sesuatu pada keponakan nya itu.
Walaupun sesaat keponakan nya itu, ahli dalam bidang silat dan ilmu beladiri, tetapi mengapa kali ini, lawan yang akan di hadapi nya tidak akan mampu untuk Laksa kalahkan.
"Nyonya Besar apakah anda masih di situ dan mendengarkan penuturan dari saya..?" Tanya Nuri, karna tak ada balasan dari seseorang yang sedang di telepon.
"Bu Nuri saya masih di sini, anda tak usah cemas dan khawatir tentang anak mu itu, saat ini juga saya bersama SDM yang lainnya akan segera berangkat ke lokasi di mana Laksa menjemput Paman nya itu.." Kata Fatimah.
"Alhamdulillah. Kalau begitu saya tenang saat ini.." Ucap Nuri.
"Baiklah kalau begitu saya akhiri telepon nya. Anda tenang saja di situ dan jangan lupa berdoa untuk keselamatan putra anda.." Fatimah berkata dan jawaban dari Nuri mengakhiri obrolan telepon itu.
Bersambung.
__ADS_1