Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Vila Di sewakan


__ADS_3

Malam semakin larut, sebelum penyergapan Firza dan Mawar terjadi, dimana kah Jono anak keponakan Mawar yang membuat keempat Pemuda yang menargetkan mereka berdua, kenapa dia tidak menolong, bukan kah jelas tujuannya di datangkan ke kota besar untuk menjadi kaki tangan sang Ketua Serigala Merah.


Setelah datang nya para preman dengan memakan motor motor yang membuat bising telinga bila mendengar nya, akibat knalpot yang di bobok oleh para pecinta otomotif.. Jono pun turun dari mobilnya dan pergi ke salah satu tukang vila yang ada di sekitaran jalan.


Jelas tujuannya itu adalah untuk mengelabuhi seorang pemuda dan rekan nya yang tadi sempat bertanya dan memperkenalkan diri nya bernama Tayimin.


"Mang..........." Jono menyapa tukang vila yang sedang duduk di sebrang jalan, dengan spanduk dari papan kayu bertuliskan VILA DI SEWAKAN.


"Iya..... Tuan, ada perlu apa, butuh kamar, atau wanita..?" Jawab Tukang Vila berusia 30 tahunan bertanya.


"Tidak Mang kedua nya. Saya mau tanya tukang ojek dimana ya. Saya mau minta antar.." Terang Jono memberi tahukan.


"Ohk.... Emang mau kemana Kitu?" Tanya Tukang Vila.


"Ini mang ke Vila ini.. Nemuin Tante saya yang sudah ada di situ.." Jono memperlihatkan serlock lokasi yang di berikan oleh Mawar.


"Itu mah dekat, hanya sepuluh menit menggunakan motor.. Biar aku saja yang mengantarnya.." Kata Tukang Vila menawarkan.


"Boleh Mang!


"Berapa?" Tanya Jono tersenyum dalam gelapnya malam.


"Lima puluh ribu aja.." Jawab Tukang Vila.!


"Iya... Boleh Mang, ayo lest' go'..." Kata Jono.


Setelah berbincang bincang dan adu harga, Jono dan Tukang Vila pun berangkat menuju lokasi dimana tempat Tante Mawar dan Firza memadu kasih..


Tak butuh berapa lama, sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Tukang Vila, sepuluh menit pun telah sampai di lokasi.

__ADS_1


"Tuan itu Vila nya." Tunjuk Tukang Vila seraya menyetir haluan kemudi motor nya.


"Tapi banyak motor, lagi ada acara ya.." Meneruskan perkataan nya.


"Hmmmmmmmm.. Iya Mang pesta biasa.. Turun di sini aja Mang..." Jono meminta berhenti pada Tukang Vila padahal masih dua ratus meter menuju gerbang Vila mewah tersebut.


"Masih jauh Tuan..." Jawab Tukang Vila namun motor tetap berhenti.


Jono turun dari motor, memberikan uang 3 lembar berwarna merah.." Aduh Tuan kok banyak amat uang yang di kasih ke saya.." Tukang Vila menerima uang dari Jono.


"Itu buat Amang, sekalian jagain mobil saya yang ada di tempat Amang nongkrong menjajakan profesi nya.." Terang Jono.


"Ok siap Tuan.." Semangat empat lima di tunjukkan oleh tukang vila.. Dan Jono pun tersenyum.


Tukang Vila, berlalu pergi dengan senyuman penuh arti.. Jono menatap keseluruh area yang tak jauh dari Vila mewah.. Tampak beberapa pasang mata terlihat oleh mata tajam Jono.


Ponsel Jono berdering, panggilan masuk dari Mawar, namun Ia mengacuhkan, bukan takut untuk mendekati Vila itu menghabisi para preman dan orang orang yang tadi berada di dalam mobil Xenia warna silver. Tapi ada sedikit keraguan bahwa bayangan bayangan yang tampak terlihat oleh mata tajam, bukan bisa seenaknya untuk di singgung.


Angin semilir datang tepat mengenai pundak Jono, aura mistis seketika terasa di seluruh tubuhnya."


"Pukk...............!


"Anak Muda sebaiknya kau tidak usah ikut campur tentang apa yang terjadi di dalam Vila itu.."


Tepukan tangan dari arah belakang ke pundak Jono, hingga pemuda yang di bawa oleh Mawar pun langsung membalikkan badannya dan mata nya menyala nyala.


Jono mundur tiga langkah, di hadapan nya berdiri dua orang lelaki berusia 50 tahun, berperawakan tinggi berkulit putih.


"Saya ingatkan sekali lagi jangan ikut campur untuk urusan di dalam sebaiknya kau ikut bersamaku.. Acuhkan panggilan masuk di ponsel mu.. " Lelaki Tua berusia 50 tahun mengingatkan kembali.

__ADS_1


"Siapa kalian..?" Jono berkerut kening nya, antara menuruti perkataan nya atau pergi menyelamatkan Mawar dan Firza.


"Saya... Ucok dan ini teman saya Beni..." Salah satu dari mereka memperkenalkan dirinya.


"Apa alasan kalian, menghentikan ku, agar jangan masuk ke dalam Vila menyelamatkan majikan dan Tante saya.." Kata Jono meminta penjelasan.


"Apa kau terlibat dengan para preman itu.." Sambung Jono.


"Karna kau tak akan mampu melawannya! Itu alasan dari kami berdua, untuk masalah terlibat para preman itu sama sekali TIDAK. Saya hanya sebuah bawahan seperti mu, menjalankan perintah dari majikan, namun ketika melihat keaadaan di sekitar dua orang itu sedang di intai oleh orang yang berkuasa di negri ini, maka nyawa lebih penting dan kembali untuk merencanakan penyelamatan kepada dua orang yang sedang memadu kasih.." Terang Ucok memberikan penjelasan.


Pemuda yang masih lajang di usia 23 tahun itu mencerna setiap kosa kata yang terucap dari lelaki tua di hadapannya, tidak sederhana mungkin ucapan nya mengingatkan dirinya untuk keselamatan nya, namun apa di balik semua ini, kenapa bisa orang yang tidak kenal mengingatkan dan tahu tujuan nya datang kesini.


"Anak Muda saya berdua hanya mengingatkan..." Itu keputusan terserah kau.. Bila kau mengikuti saran ku. Temui lah aku di alamat ini.." Ucok memberikan kartu nama lalu membalikkan badannya di ikuti temannya dan menghilang dari pandangan Jono yang masih mematung pikiran nya gamang.


"Anakku turuti kedua lelaki itu, kau tak akan mampu bila menyelamatkan Mawar malam ini.." Ucap suara tak berwujud kepada telinga Jono.


"Terima Kasih Kek...." Jono kembali meninggalkan Vila itu menuju mobil yang terparkir di jalan provinsi.


Dalam perjalanan menuju mobil, dengan berjalan kaki, tiba tiba sorotan lampu mobil tampak terang benderang menyoroti jalan desa di malam itu, iring iringan mobil mewah pun melesat melewati Jono yang sedang berjalan kaki.


Jono berhenti setelah hampir puluhan mobil itu melewati nya, Ia membalikkan badannya dan mobil mobil itu berhenti di sebuah Vila dimana tadinya Ia akan menyelamatkan Firza dan Mawar.


"Hmmmmmmmmm... Musuh atau kawan Tuan Firza..." Rasa penasaran teramat dalam di rasakan di hati Jono.


Rasa penasaran semakin membuncah di hati dan pikiran nya itu, ketika para pengemudi mobil mobil mewah keluar dari mobil nya, kelebatan bayangan hitam mirip Ninja berlompatan dan langsung membukakan pintu mobil paling tengah lalu membungkuk hormat pada seorang lelaki seumuran dengan Firza.


"Ummmmmmmmm. Itu memang orang orang dari Firza..." Gumam Jono, Ia berjalan secara hati hati memantau apa yang akan terjadi di dalam vila.


Seandainya insting dan pikiran ku bener, tinggal meminta maaf pada Tante Mawar, bahwa orang orang yang datang adalah anggota serigala merah, namun bila ucapan dua lelaki yang memperkenalkan dirinya Cok Ben dan bisikan dari sang Kakek yang bener, Jono tinggal kabur, mungkin itu yang terbesit dalam hati pemuda berusia 23 tahun tersebut.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2