Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
IHK GALILA


__ADS_3

"Sangat bagus sekali, dengan hadirnya mereka bertiga, kemungkinan Laksa akan sangat bersemangat untuk segera pulang dari rumah sakit ini." Kata Harsya terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya lagi.


"Terus bagaimana sekarang kondisi dari Asep Sukardi, adik dari Kedua Orang Tua angkat Muhammad Laksa Ilham.." Sambung Harsya."


"Keaadaan semakin membaik Kak, mereka di jaga oleh keempat Srikandi Padepokan Cimande dan kemungkinan terbesar esok atau lusa sudah di perbolehkan untuk pulang.." Terang Fatimah.


"Baiklah.... Aku butuh dia Asep Sukardi untuk di minta keterangan lebih detail, dengan apa yang terjadi hingga anakku satu satunya bisa sampai terluka parah.." Kata Harsya dengan sorot mata yang menahan amarah nya.


"Tahan brow emosi mu... Semua bisa di atur, yang penting saat ini kita bersyukur dulu dengan anakmu sudah siuman dan tak akan lama lagi kita adakan pertemuan dengan para pejabat di perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP dan para anggota Macan Putih, lalu setelah itu kita akan mengatur rencana untuk membalas dendam sembilan belas tahun yang lalu dalam satu komando Muhammad Laksa Ilham.." Riyan memberi masukan agar Harsya tak bertindak gegabah dan itu sudah di beri perintah oleh Halimah bahwa suaminya jangan dulu turun tangan dalam perang melawan pihak musuh."


"Yaa maaf Riyan.. Aku hanya terbawa emosi bercampur bahagia.. Aku ikut saran dan rencana dari kamu dan Fatimah.." Pasrah Harsya menerima masukan dari sahabatnya itu.


Riyan melangkah beberapa langkah, lalu merangkul Harsya yang sedang menatap iba pada anaknya yang "Ayahtertidur dengan wajah yang begitu sempurna."


"Kau tak usah minta maaf segala, kita ini sudah sehati, kesedihan mu kesedihan ku juga, jadi aku sebagai sahabat mu tak harus sungkan begitu saja.." Kata Riyan dengan hal yang sama menatap pemuda itu.


"IHK... GALILA.."


Sontak satu suara keluar dari pemuda yang tertidur pulas di ranjang pasien, sontak membuat Harsya dan Riyan terbelalak mata nya.


"Ayah.. Paman Riyan, apakah gak salah kalian berdua saling suka dan sehidup semati Hehehehe.." Kata Laksa terkekeh.."


Kedua lelaki setengah tua itu buru buru melepaskan rangkulan setelah , pemuda itu berkata di ikuti oleh tawa yang meledek, bukan Laksa sendiri Fatimah dan Amanda di sertai oleh Fander pun ikut tertawa.


"Aish ........ Bocah sableng.." Rutuk Harsya dan garuk garuk kepala Riyan."


"Hehehehe.. Maaf Ayah, maaf Paman..." Kekeh Laksa."


Laksa bangkit dari tidur nya dan kini duduk di atas ranjang sambil merengek pada Harsya.


"Ayah Pecuk.." Cadel Laksa bercanda pada sang Ayah.


Harsya berkerut kening memikirkan ucapan dari anak nya, Fatimah dan lain nya tertawa dengan dekapan tangan mereka sendiri."

__ADS_1


"Cepetan atuh yahh ihk Pecuk.." Rengek Laksa."


Harsya semakin berkerut, kebingungan di buatnya."


"Kak Harsya, itu Laksa minta di peluk oleh mu, masa Kakak gak ngerti.." Fatimah memberi tahukan karna melihat Kakak iparnya yang semakin kebingungan.


"Ohk.... Bilang dong yang jelas, dengan senang hati dong ayah pasti memelukmu.." Harsya langsung memeluk anaknya itu dengan lembut dan kasih sayang, namun tiba tiba melepaskan pelukannya itu setelah bisikan dari Laksa yang membuatnya terkejut.


"Ayah aku ingin mobil mewah di atas harga milik ayah.." Bisik Laksa.


"Kak kenapa.?" Tanya Fatimah..." Iya brother Harsya sahabat ku ada apa?" Riyan pun ikut bertanya."


"Ini nih.. Anakku memang sableng dan gila, orang pada berpikir untuk sembuh dulu, ini malah minta mobil sa yang harga nya di atas mobil Lamborghini Sian milikku.." Keluh Harsya, membuat mereka geleng geleng kepala nya.


Sedangkan Laksa sendiri hanya cekikikan melihat exfresi di wajah mereka yang ada di ruangan itu.


"Yaa udah beliin aja apa susahnya, tinggal di potong aja a Direktur perusahaan milik mu Kak." Sahut Fatimah.


"Kamu akan kuliah di kota Jakarta sekaligus menjadi Direktur perusahaan milik ayah mu.." Jawab Fatimah santai.


"No... No... Tidak bisa dan lagian Laksa juga tidak mau langsung menjadi Direktur, seandainya bibi dan Ayah maupun lainnya kukuh untuk masuk ke dalam perusahaan ayah, jangan menjadi Direktur, tetapi ingin menjadi karyawan biasa bersama sang pujaan hati ku Amanda.." Ucap nya seraya berkedip kearah gadis yang berdiri di samping Harsya.


"Kenapa gak mau Sa..?" Tanya Harsya dan tatapan dari Riyan dan Halimah. Sedangkan Amanda wajah nya memerah setelah ucapan dari Laksa.


"Ayah nanya, bibi dan Paman Riyan bertanya tanya hahahaha.." Laksa tertawa terbahak bahak sikap tengil jelas hadir kembali di tubuh pemuda yang baru beberapa jam sadar itu.


"Laksa Ilham........................." Bibir mereka bertiga bergetar menahan rasa kesel di hati nya.."


"Hehehehe... Sory ayah, maaf bibi, hampura Paman Riyan, Laksa ada alasan yang menolak keinginan dari bibi Fatimah untuk menjadi Direktur di perusahaan Ayah.." Ucap nya setelah terkekeh.


"Bisakah kau jelaskan Sa.." Pinta Harsya."


"Yaa Ayah, nanti Laksa jelaskan ya, setelah keluar dari rumah sakit ini dan ketika mau mulai masuk kedalam perusahaan Ayah.." Ucap Laksa dengan senyuman, membuat Harsya mengangguk.!

__ADS_1


Obrolan malam pun berubah topik dari serius menjadi gelak tawa di ruangan itu, hingga Laksa dan Amanda beserta Fatimah terlelap dalam tidur di ruangan VIP.


###


Sang fajar telah tiba mentari pagi menyinari belahan Bumi ini, di salah satu Mansion yang sangat megah di kawasan Jakarta Pusat, seorang wanita tua sedang duduk menikmati keindahan taman taman di area halaman Mansion berluas 1000 meter persegi.


Seiring dengan berjalannya waktu, wanita tua berusia 45 tahun itu memandang, menghirup serta menikmati segarnya udara di pagi hari itu, tiba tiba dia membalikkan badannya setelah terdengar suara langkah kaki."


"Bunda...." Langkah kaki cepat gadis cantik itu menuju wanita yang di panggil Bunda.


Wanita tua itu tersenyum, tangannya melambai untuk segera datang dan berdiri di samping nya."


"Bunda sedang apa pagi pagi ini.?" Tanya Dinda setelah sampai di hadapan nya, memandang luas hamparan tanah yang di tumbuhi oleh bunga bunga bermekaran.


"Seperti yang kamu lihat sayang.." Jawab Wanita tua itu.


"Kamu mau kemana hari ini.? Ada kegiatan tidak..?" Sambung wanita tua bertanya pada Dinda."


"Hari ini mau di rumah aja Bun, lagi malas keluar.." Jawab nya.


"Terus kuliah mu sayang..?" Tanya nya berkerut kening nya.


"Bebas Bu, tak ada mata pelajaran.." Emang ada apa ibu bertanya begitu..?" Kini Dinda bertanya pada ibunya.


"Begini kalau tak ada kegiatan hari ini, bisa temani ibu ke Bekasi tak, ibu ingin menemui seseorang.." Kata wanita tua itu.


"Ummmmmmm... Ayo lah Bu, Dinda temani.." Ucap nya!


"Kapan berangkat ke Bekasi nya." Sambung Dinda."


"Sekarang aja Din. Ya.." Sang ibu langsung mengajak anaknya untuk pergi menuju kota Sukabumi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2