Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Pertarungan Sengit Laksa dan Junaedi


__ADS_3

"Salam Hormat Ketua, hamba Junaedi Suparman, Ketua Ranting Organisasi Macan Putih di kota ini.." Ucap lelaki berusia 25 tahun itu memperkenalkan dirinya.


"Nama mu tak asing mengingat kan ku kepada Paman Ujang Suparman.." Jawab Harsya.


"Betul Ketua saya anak pertama dari ayah Ujang Suparman.."


"Pantas wajah dan nama belakang mu mengingatkan ku kepada jawara dari padepokan Macan Putih. Namun apakah beladiri mu sesuai dengan ayah mu, atau hanya mengandalkan nama besar dari sang ayah.." Harsya bertanya sembari berjalan mengelilingi lelaki tersebut.


"Siap Ketua, hamba tak akan mengecewakan mendiang Ayah hamba.." Jawab Junaedi..!


"Baiklah, kalau begitu aku ingin melihat nya."


"Muhammad Laksa Ilham, kau lawan lah dia.." Ucap Harsya seraya mengedipkan mata sebelah kiri nya.


"Dengan senang hati Tuan Besar.." Laksa maju setelah berkata.


"Senior, mohon bimbingannya, saya anak baru yang di rekrut oleh Nyonya Besar Fatimah.." Ucap Laksa membungkuk hormat kepada Junaedi.


"Anda terlalu sungkan, adik senior.." Jawab Junaedi, lalu Ia memasang kuda kudanya.


"Baiklah........." Laksa pun langsung meluncurkan serangan nya mengarah ke arah perut Junaedi, tapi dengan sigap Junaedi pun langsung menahannya.


Pertarungan sengit pun di mulai, antara Junaedi dan seorang pemuda yang berprofesi sebagai pemulung itu, Harsya dan Riyan begitu juga dengan Fatimah, tak berkedip mata nya, ketika Muhammad Laksa Ilham meluncurkan serangan kepada Junaedi tanpa dasar kuda kuda yang kuat.


Tetapi setiap serangan yang di berikan oleh Laksa, mampu mendesak Junaedi dan tak bisa membalas setiap serangan yang di lancarkan oleh Laksa.

__ADS_1


"Fatimah, dari mana Laksa belajar beladiri dan kenapa setiap gerakan nya itu terasa sangat aneh..?" Tanya Harsya, kebingungan dengan anaknya itu.


"Kak, Harsya, aku juga tidak tahu, setelah aku tanya sama Dinda orang yang tau kehidupannya Laksa, Ia tidak pernah belajar beladiri atau berguru ke salah satu perguruan pencak silat.." Jawab Fatimah, kedua sorot matanya menatap terus kepada pertarungan itu.


"Hmmmmmmmm.. Anak ini luar biasa brow, tanpa guru dan tak pernah belajar tapi mampu mengimbangi atau pun mengalahkan Junaedi yang jelas jelas mempunyai ilmu beladiri tingkat atas.


"Yaa.... Sahabat ku...!!


"Senior, mari kita sudahi pertandingan ini..." Ucap Laksa sesaat Ia mundur kebelakang ketika mencoba menangkis pukulan yang di arahkan oleh Junaedi.


"Dengan langkah cepat dan tak bisa di lihat oleh mata kasar, Laksa pun langsung melesat kearah Junaedi dengan sapuan tinju mengarah kepada perut nya..


"Bughh................................!


"Bughh................................!


Puluhan Anggota Macan Putih yang berbaris rapi melihat jalan nya pertandingan itu, seakan tak percaya, bagaimana bisa sang Ketua di kota kecil itu yang mampu menumbangkan belasan Anggota Macan Putih bisa kalah telak di tangan anak muda yang baru saja di rekrut oleh Nyonya Besar Fatimah.


"Adik senior kamu cukup kuat juga, tapi aku sebagai kakak senior mu belum tentu kalah.." Junaedi bangkit mengambil kuda kuda gerakan jurus Jeblag. Luapan hawa energi yang di keluarkan Junaedi sangat besar, untung nya Laksa langsung menyadarinya dan menghindar, tapi pohon kelapa yang sangat tinggi seketika terbelah sesaat luapan hawa energi yang di keluarkan oleh Junaedi.


"Ilmu Jeblag..." Kata Harsya dan anggukan kepala dari Riyan serta Fatimah.


Laksa bangkit setelah dirinya menghindar dari serangan yang di lancarkan oleh Junaedi seraya tersenyum dia tak menyangka orang yang berdiri di hadapannya mempunyai ilmu yang pernah di ajarkan oleh lelaki tua yang pernah Ia temui ketika sedang mengambil barang barang bekas dan menyuruhnya pergi ke Gunung Kencana sampai akhirnya di pertemukan dengan Kakek kandungnya yaitu Kiayi Sepuh.


Semua yang melihatnya di buat melongo dan tercengang melihat jurus yang di keluarkan Junaedi Suparman sangat luar biasa kuat.

__ADS_1


"Kakak senior lihat lah, di atas langit masih ada langit.." Teriak Laksa.!


"Kakek Tua, mungkin saat nya aku akan menggunakan Ajian Penolak Hawa yang masih satu rumpun dengan Ilmu Jeblag. Jika di ibaratkan seperti adik dan Kakak. Jurus Jeblag di gunakan untuk menstabilkan hawa energi dalam tubuh, sedangkan Ajian Penolak Hawa jurus yang dapat menghilangkan pengaruh tenaga dalam orang lain." Ucap Laksa dalam hati.


Laksa pun langsung memusatkan kedua telapak tangan di perutnya, mata nya terpejam menarik semua energi yang ada di sekitaran nya, Junaedi pun hal serupa memasang kembali kuda kuda nya untuk mengeluarkan Ilmu Jeblag kembali, setelah di rasa cukup untuk mengarahkan ilmu tersebut kepada Laksa..


"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzz..........!


Serbuan tenaga dalam yang di keluarkan oleh Junaedi kepada Laksa dengan Ilmu Jeblag itu mengenai Laksa dan terbawa ke belakang seperti angin. Laksa memposisikan tangan nya dengan telapak tangan berhadapan. Setelah beberapa ketukan Laksa melepaskan Ajian Penolak Hawa dengan membuka kedua tangannya ke samping, Efek dari melepaskan jurus tersebut ke samping Laksa seperti melepaskan hempasan angin. Dan Laksa langsung dengan cepat menghentakkan kaki kanan nya ke arah dada Junaedi, setelah hembusan angin yang di keluarkan dari Ilmu Jeblag di tahan oleh serbuan angin Ajian Penolak Hawa.


"Bughh...................!!


"Arhk........................!!


Junaedi terpental menggelinding di tanah dan merasakan sakit akibat sapuan kaki milik Laksa..!


"CUKUP...!! Teriak Harsya, iya melihatnya sangat puas dan patut di acungi jempol kepada Junaedi yang tak mengecewakan anak dari mendiang Ujang Suparman.


Laksa berjalan menghampiri Junaedi dan mengulurkan tangannya seraya berkata.." Kakak senior aku tak menyangka kamu akan memperlihatkan ilmu yang kemungkinan terbesar nya akan segera punah, salam hormat dari saya Muhammad Laksa Ilham..!


"Salam hormat kembali, justru aku tak menyangka Ilmu andalan ku bisa kalah oleh mu.." Junaedi menyambut baik uluran tangan Laksa..


"Dimanakah Laksa belajar beladiri dan di padepokan apa namanya, kalau kakak boleh tahu.." Sambung Junaedi bertanya kepada Muhammad Laksa Ilham.


Pertanyaan yang di berikan oleh Junaedi, membuat rasa penasaran bagi Harsya dan Fatimah begitu juga dengan Dinda yang selama Ia tahu bahwa Laksa sehari selain malam nya mencari barang rongsokan dan siang di habis kan dengan sekolah dan membantu Kedua Orang angkatnya membereskan barang barang yang malam nya Ia pungut.

__ADS_1


"Iya bocah sinting kamu jago amat, belajar dimana dan guru mu siapa namanya..?" Fatimah ikut bertanya, padepokan atau perguruan silat mana yang tidak tahu oleh dirinya, karna waktu muda Fatimah mau pun kakak'nya selalu jadi juara pertama bila di adakan acara adu tanding sesama padepokan di wilayah provinsi Jawa Barat. Setelah melihat gerakan dan cara bertarung keponakan nya, Fatimah baru sekali ini melihat jurus jurus yang begitu misterius di miliki oleh Muhammad Laksa Ilham.


Bersambung.


__ADS_2