Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Anak nya Pea Bapa nya super Pea


__ADS_3

"Tut...................." Tut......................" Tut.................."


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk.." Tampak terdengar jelas di telinga lelaki berusia 48 tahun itu suara sang operator.


Lagi dan lagi lelaki itu melakukan panggilan telepon nya, namun terus menerus mendapatkan suara dari sang operator.


"Hmmmmmmm.." Mungkin Bruno sudah sampai di tempat tujuan dan kondisi sinyal tidak memungkinkan.." Gumam lelaki itu.


Lalu setelah itu Ia membuka aplikasi pesan wasttap dan langsung mengirim pesan kepada seseorang." Aku tunggu hari ini di tempat biasa.."


Pesan pun terkirim dan tak lama kemudian jawaban pun sudah di terima oleh sang pengirim pesan.


"Siap Sayang aku otw sekarang juga."


Lelaki itu tersenyum manis membaca sebuah pesan yang dia terima dari sebrang telepon."


Firza nama lelaki berusia 48 tahun itu, keluar dari kamarnya melangkah turun ke bawah dan langsung duduk di sofa yang berada di ruangan keluarga.


"Ayah sudah rapi mau kemana..?" gadis berusia 18 tahun baru lulus SMK Negeri di kota tempat tinggal nya itu bertanya.


"Ada urusan yang tak bisa di tunda sayang.." Jawab Firza."


"Ohk boleh kah Dinda ikut Ayah, hari ini tidak ada kegiatan, di rumah melulu bosan yang hanya bisa di lihat wajah jutek Bunda.." Keluh Gadis itu bernama Dinda.


"Hmmmmmmmmm''.. Segitu nya Din kepada Bunda.." Gumam Wanita yang duduk di samping suaminya itu.


"Hehehehe.! Lagian emang wajah Bunda jutek kok.." Timpal Firza suaminya ikut memenangkan hati dan pikiran anak gadis nya itu.


"Aish......... Ini aki aki ikut mengompori anak gadis nya.." Dengus Wanita itu yang tak lain istri dari Sang Ketua Serigala Merah tersebut.


"Hehehehe... Hehehehe.... Maaf kan suami ku ini ohk bidadari ku.." Rayu Firza seraya terkekeh.


"Bulsyit....... Bunda..... Woy.... Bulsyit Bun..." Teriak Dinda menggoda sang Ayah.."

__ADS_1


"Uunkkkkkkkkkkkkkkk.."


"Bughh........................!


"Dasar Anak pea.." Kata Firza.!


Satu bantal sofa meluncur dengan sangat kencang ke arah Dinda akibat di lempar oleh Firza.


"Hahahahah.... Anak nya pea yah gak jauh berbeda dengan bapa nya, super pea wey ahk..." Dinda buru buru berlari dari sofa itu menghindari sang ayah yang akan melempar bantal sofa lainnya.


"Sudah sudah Yah.... Gak usah di kejar, kamu tahu sendiri bagaimana jahilnya anak kita itu.. Mungkin karna dia anak satu satu nya jadi hanya ke kamu dan aku dia berani begitu.." Istri dari Firza mencegah suaminya agar tidak di kejar kejahilan dari anaknya itu.


"Iya, Bun! Aku berangkat dulu yah.. Ada sesuatu yang harus di selesaikan dan mungkin akan pulang kerumah esok atau malam.." Ucap Firza.


"Iya, Ayah, hati hati aja.." Jawab sang istri singkat seraya mencium tangan suaminya.


Dirinya tidak mau tahu apa yang di kerjakan oleh sang suami, karna sudah mengetahui semuanya dari segi pekerjaan atau pun bermain wanita di belakang nya. Ia bertahan hanya karna satu ada nya seorang anak hasil perkawinan dengan sang suami Ketua dari Serigala Merah itu.


Biarlah waktu yang akan mengungkap semuanya. Biarkan Air mengalir deras apa yang di perbuat oleh suaminya itu. Baik dan buruknya segala perjalanan hidup sang suami pasti ada balasan nya. Saat itu dia hanya bisa pasrah dan menerima takdir itu.


"Bunda ayah sudah pergi yah.."


"Iya Din baru aja.." Jawab sang ibu.


"Uhk.... Pasti nemuin pelakor itu da.." Kata Dinda dengan memasang bibir cemberut.


"Hmmmmmmm.." Dinda." Sang ibu melirik wajahnya keatas menyembunyikan sepasang mata yang sedang berkaca kaca."


"Aku sudah tahu semuanya Bunda.. Tak usah di tutupi lagi, dia kerja apa, dan di luar sedang apa, Dinda sudah tahu semuanya.. Selama ini kita hidup hasil dari apa Dinda sudah tahu Bun."


"Terus. Kalau kamu sudah tahu, mau bagaimana..?" Tanya Sang Ibu.


"Dinda akan ngomong ke ayah dan langsung untuk meninggalkan apa yang selama ini dia kerjakan.." Kukuh sang anak, karna rasa sayang dan di ajarkan nya tentang norma kehidupan yang bener, jadi dia berani ingin menentang apa yang di lakukan oleh sang ayah itu salah besar.

__ADS_1


"Itu hal tidak mungkin sayang.. Lagian seandainya ayah mu bertobat, meninggalkan apa yang kini tercapai olehnya, tak akan tenang karna akan di buru dan di minta keadilan oleh orang orang yang selama ini di bunuh oleh ayah mu Dinda."


"Apakah kamu sudah siap dengan semua ini.?" Tanya Sang Bunda.


"Apakah kamu sudah siap kehilangan semua pasilitas yang saat ini kita nikmati hah..?" Tanya Bunda lagi, karna sang anak hanya bisa diam tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Ibu nya."


Wanita berusia 40 tahunan lebih itu berdiri dari duduknya dan langsung meregangkan kedua tangannya memeluk anak satu satunya itu seraya berbisik.


"Renung kan dan resepi setiap ucapan dari Bunda.. Setelah kamu mendapatkan jawaban nya, insyaallah Bunda akan mendukung mu sayang.." Sang ibu melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju sebuah kamar untuk menenangkan hati yang sedang gundah gulana akibat rahasia sang suami yang sedari dulu Ia tutupi tanpa ada angin apa sang anak sudah mengetahui semua nya.


Dinda masih mematung diam berdiri, sang ibu pun sudah berada di kamarnya, terdengar suara pintu yang tertutup dan mungkin di kunci dari dalam oleh Ibu nya.


Hampir lima menit lamanya Dinda terdiam mematung, lalu dia berjalan keluar menuju sebuah garasi, untuk pergi menemui sahabatnya sekaligus orang yang mengerti akan dirinya.


Sedangkan Firza sendiri kini sudah berada di salah satu hotel berbintang tiga di kawasan Jakarta Selatan. Tampak lelaki itu sedang duduk di kursi yang ada di lobby hotel menunggu seseorang yang belum datang.


"Tuan silahkan pesanan anda.." Pelayan hotel datang membawa secangkir kopi pait dan langsung menyuguhkan nya.


"Terima Kasih Mbak.." Jawab Firza dengan senyuman manis.


"Sama-sama Tuan." Pelayan itu tersenyum dan pergi kembali menuju dapur.


Tak lama kemudian orang yang di tunggu pun tampak terlihat keluar dari mobil taksi, dan langsung berjalan kearah lobby hotel.


Firza melambaikan tangan nya, memberi kode kepada wanita yang sedang berjalan kearah nya. Senyuman manis terukir di bibir wanita itu.


"Sayang maaf ya.. Aku terlambat.." Wanita itu duduk di samping Firza dan langsung bergelayut manja di tangannya.


"Aku juga baru sepuluh menit kok sayang, kamu mau pesan apa sebelum kita tempur sore ini..." Kata Firza menggoda kekasih gelapnya itu.


"Aku pengen langsung makan kamu aja sayang.." Balas wanita itu seraya tangannya yang tadi menggelayut manja mulai menyusuri setiap inci di paha lelaki itu.


"Hmmmmmmmmmm... " Sayang jangan di sini ahk.." Tolak halus Firza walaupun tak bisa di pungkiri gairah nya sudah membara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2