
"Goarrrrrrrrrrrr."
"Bughh. Bughh.. Bughh...."
Tanah bergetar di area Puncak Gunung Siluman. Injak-injakan berulang ulang oleh makhluk dedemit itu membuat puncak bukit itu bergetar hebat.. Ray dan Diki menatap tajam dengan seringai licik di bibirnya.
Sedangkan Andri yang masih bersila dengan kedua mata terpejam, begitu khusu dan tak terpengaruh dengan apa yang di hadapan nya akan terjadi, hati dan pikirannya Ia kosongkan demi mendapatkan apa yang di inginkan."
"Hai... Para manusia dua, aku sudah menunjukkan kedua pusaka kembar untuk kau dapatkan.. Sekarang saat nya penuhi keinginan ku.." Lantang Suara dedemit itu menggema di telinga Ray dan Diki.
"Ummmmmmmmmm." Ku penuhi keinginan mu.." Ray menatap kearah dedemit itu dan langsung menyerang dengan kekuatan penuh, di ikuti oleh Diki.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz..."
"Bughh.."
"Bughh.."
Pukulan penuh di arahkan oleh Ray dan Diki tepat di perut dedemit itu, namun apa yang terjadi sang Gorila sedikit pun tak bergerak yang ada Diki dan Ray terpental mundur kebelakang.."
"Goarrrrrrrrrrrr......."
"Manusia laknat. Manusia ingkar....." Geram dedemit itu seraya memukul mukul dada bidangnya.
"Bugh.. Bugh.. Bugh... Bugh..."
Makhluk siluman berbentuk Gorila itu berlari menuju Ray yang pertahanan nya lengah dengan amarah tingkat Dewa. Ray pun menyadari dan langsung memusatkan tenaga dalam nya untuk menghadang kekuatan yang akan di lancarkan oleh dedemit tersebut.
Melihat makhluk itu akan menyerang sahabatnya Ray, Diki pun bergegas menuju Pusaka Naga Kembar untuk mengambil nya, setelah kedipan mata dari Ray.
Tampak Ray dan dedemit itu sedang bertempur sangat sengit, Diki memanfaatkan momen itu, untuk mengambil apa yang di inginkan nya.
"Baca amalan yang sudah eyang berikan pada mu, untuk mencabut Keris itu.." Bisik ke telinga Diki yang Ia tahu adalah Eyang Genta sang guru yang berada di bawah Bukit Gunung Siluman.
"Terima Kasih Eyang Guru.." Ucap nya Diki dan langsung mulai memejamkan matanya seraya mulut komat Kamit membaca amalan tersebut.
__ADS_1
"Hai................... Lepas lah dari tanah dan akui aku sebagai Tuan mu.." Teriak Diki setelah bacaan amalan itu selesai.."
"Ssssssssssssssss........."
"Duarrr.............."
"Duarrr............."
Kilatan di sertai petir membentang terang di atas Puncak Gunung Siluman, Satu di antara dua pusaka Keris itu tercabut dari tanah dan kini dalam genggaman tangan Diki.
Setelah itu Diki langsung mengangkat keris itu keaatas, kembali lagi kilatan petir itu keluar dari pusaka yang kini sudah mengakui Tuan nya dengan lantang dan menggema Diki pun berkata."
"Ray.... Makhluk jelek buruk rupa itu serahkan pada ku."
Bagai sebuah burung yang memiliki sayap, Diki yang notabene seorang manusia biasa terbang dengan sangat cepat dan langsung pusaka itu di arahkan tepat pada belakang punggung makhluk yang kesadaran nya sedang pokus melawan manusia yang bernama Ray Mangku Bumi.
"Blezzzzzzzzz............................"
"Goarrrrrrrrrrrr................................."
Erangan rasa sakit yang di akibatkan tusukan dari pusaka miliknya itu, langsung mengerang sangat keras di area tersebut. Ray mundur ke belakang dengan cepat untuk segera menjauh, sedangkan Diki langsung mencabut kembali pusaka itu dari punggung makhluk bangsa siluman.
Diki langsung jungkir balik ke depan dan kini berada di hadapan Siluman Gorila itu, dengan seringai licik di bibirnya Diki pun berkata."
"Sory brow, kau meminta pada orang yang salah.."
"Mati lah..............."
"Blezzzzzzzzz.........................."
Tepat tusukan Keris Naga Kembar itu tertancap di dada keras siluman tersebut, dan perlahan lahan, seluruh tubuh siluman itu mulai terbakar hingga lebur menjadi abu.
Sesaat hening kembali lagi di malam itu setelah siluman dengan taring tajam di mulut nya terbakar dan mati oleh senjata miliknya, satu suara tak kasat mata terdengar oleh mereka berdua Ray dan Diki.
"Murid Murid ku, kalian berdua sudah berhasil sudah saat nya turun dari Gunung Siluman ini. Biarkan Andri bermeditasi sendiri karna barang yang di inginkan belum datang menemui nya.."
__ADS_1
"Siap terima kasih Eyang Guru.." Kata Ray dan Diki bersamaan, lalu setelah itu Ray pun menuju kearah keris satu lagi yang dan langsung mencabut keris itu setelah membaca amalan yang di beri tahu kan oleh Diki.
################
Malam pun makin larut, para pasien yang ada di rumah sakit rakyat di daerah Ciawi itu, mungkin sudah larut dalam tidur nya, sangat berbeda sekali dengan ruangan VIP yang di sewa oleh salah satu perusahaan terbesar se-Asia itu.
"Tap... Tap... Tap... Tap.... Terdengar sangat jelas suara langkah kaki saling beriringan dari pintu masuk rumah sakit menuju sebuah ruangan khusus bagi orang orang yang mampu membayar nya.
Hanya lima menit saja terdengar suara langkah kaki memakai sepatu berkelas internasional itu terdengar, pertanda tujuan nya mungkin sudah sampai di lokasi tersebut.
"Klekk.."
Dua orang yang tak berbeda jauh usia nya masuk ke dalam ruangan di sambut senyuman manis dari dalam dan sapaan sopan dari gadis yang begitu cantik dan sempurna.
"Paman Harsya.."
"Tuan Besar Fander.."
Sang gadis membungkuk hormat pada dua pria itu, namun buru buru di cegah oleh Harsya dan langsung memeluk nya dengan penuh kasih sayang.
"Terima Kasih Amanda, kau telah membawa kembali anakmu yang tidur panjang di alam tak kasat mata.." Harsya berkata setelah satu menit lamanya memeluk gadis itu dan langsung mencium kening nya.
"Sama sama Paman.." Jawab Gadis itu tersenyum namun mata nya tak bisa di bohongi karna terlihat air mata keluar dari kedua mata indah gadis itu.
"Kenapa menangis sayang.." Harsya bertanya sambil melangkah bersama Amanda menuju sisi ranjang Laksa.
"Nda menangis karna Kak Laksa, sudah sadar dari koma nya dan Dokter pun memberi tahukan bahwa Kak Laksa tak lama lagi bisa di perbolehkan untuk pulang.." Jawab Amanda.
"Yaa! Semua orang juga merasakan hal yang sama seperti dirimu sayang. Aku pun demikian, namun bukan tak bisa melepaskan kedua air mata ini keluar dari mata ku, namun aku bersama yang lain Riyan dan Fander mencoba untuk menahan agar air mata itu tak menetes.." Terang Harsya yang kini sudah berada di sisi ranjang Laksa yang tertidur sesaat setelah di beri obat oleh Sang Dokter.
Amanda mengangguk sambil menyeka air matanya."
"Fatimah apakah kedua Orang Tua angkat Laksa sudah di beritahu bahwa anakku sudah sadar dari koma nya.?" Tandas Harsya kedua mata nya menatap kearah adik iparnya yang sedari tadi duduk di samping Laksa dan tak melepaskan kedua tangannya dari genggaman miliknya.
"Menjawab anda Kakak ipar."
__ADS_1
"Tadi aku sudah menelpon pada Alena adik nya Laksa dan langsung memberi tahukan pada Pak Ilham bahwa mereka sangat bahagia mendengarnya, esok pagi akan berangkat ke rumah sakit ini."
Bersambung."