
Sore merenda langit pesta warna. Semburat jingga berjabat memeluk rapat barisan awan menggantung gelisah Surya landaikan senja mencipta rona.
Kembang kopi menyela kemuning bersolek. Di pelataran menyengat wangi memikat, menyulam benang mata memandang.
Angin menggoda sayu cakrawala. Melenggang pergi runtuhkan terang .Kelam menjemput sepi ditempatnya Merenggut waktu di pematang tak terlawan.
Nikmat menyemai rindu dengan tegas. Menunggu bergulirnya masa. Kala senja di kampung halaman yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Lima menit menjelang waktu adzan Magrib berkumandang, seorang pemuda berdiri tegak menatap ke sebuah area yang begitu penuh dengan rimbun pepohonan.
"Anakku.... Muhammad Laksa Ilham, apa yang sedang kau lihat dan gejolak hati apa yang sedang kau pikirkan saat ini..?" Tegur lelaki yang tak lain sang ayah yang telah mengurus nya dari kecil.
"Ayah, apakah jalan ini sudah sepenuhnya benar, untuk Laksa jalankan."
"Bukan musuh musuh dari Tuan Besar Harsya yang di takutkan oleh ku saat ini, tetapi musuh yang berselimut dalam hati ku yang Laksa takutkan.." Terang nya lalu menoleh kearah lelaki yang kini berdiri di samping nya.
"Anakku... Itu hal yang wajar, ayah dan ibu serta Alena akan selalu mengingatkan dirimu, seandainya kamu keluar dari aturan agama..!
"Ayah maupun ibu mu Nak. Akan memberikan sesuatu yang bisa membuat dirimu menyesal, seandainya segala apa yang kamu punya, di gunakan dalam sipat sombong, takabur dan angkuh.." Ancam Ilham kepada anak yang selama ini dia didik dengan penuh kasih sayang.
"Terima Kasih Ayah..." Ayo Yah kita ke masjid Adzan sudah berkumandang.." Ajak Laksa,
"Iya anakku.. Ayo.." Balas Ilham.. Lalu mereka berdua pun langsung jalan menuju sebuah masjid Jami yang tak jauh dari rumah Fatimah.
###################
Di kota Jakarta tepat nya di sebuah parkiran Kafe elit, malam itu pukul 19:00 seorang lelaki berusia 45 tahunan turun dari mobil mewah dengan di ikuti empat bodyguard nya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam Kafe, Firza lelaki yang di apit oleh empat bodyguard itu, langsung menatap kedua matanya kearah salah satu meja yang dimana lelaki botak bertubuh gempal berdiri dengan kedua tangan nya melambai kearah nya dan berniat melangkah untuk menyambut nya. Namun Firza buru buru memberikan kode untuk tidak beranjak.
"Ketua... Silahkan duduk." Lelaki botak mempersilahkan Firza untuk duduk.
"Terima Kasih, Bruno." Jawab Firza.
Setelah beberapa menit kemudian, setelah Firza dan para bodyguard nya memesan menu makanan, Firza pun langsung berbicara pada intinya, menyuruh Bruno untuk datang di Kafe Bintang.
Walaupun Ketua Serigala Merah, mengetahui bahwa Kafe yang sekarang Ia mengajak sahabat nya Bruno sewaktu di Organisasi Serigala Merah untuk bertemu dan berdiskusi bahwa Kafe Bintang ini milik saingan terberatnya yaitu Tuan Besar Harsya, tak ada rasa takut sedikitpun justru, ini yang akan menjadi perang terbuka buat dirinya.
Firza sengaja setiap membahas atau pun berdiskusi tentang sesuatu tugas untuk menghabiskan orang orang dari Perusahaan Ismail Future Company atau pun yang orang orang yang membuat silang sengketa dengan dirinya.
Karna lemahnya perlawanan dari orang orang Tuan Besar Harsya, membuat Firza dan orang orang dari perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP semakin angkuh dan sombong, di karenakan sang induk pemilik perusahaan terbesar se-Asia itu terpuruk akibat hilang nya istri dan anak yang masih dalam kandungan.
"Bruno aku ingin kau, memberi pelajaran kepada tiga orang dengan sangat keji, karna telah berani beraninya mengusik kehidupan kekasih ku.." Firza memulai berbicara setelah sesaat menyeruput kopi yang di hidangkan oleh pelayan Kafe.
"Ini informasi biodata berikut poto, tentang tiga orang itu. Ingat ketiga orang ini jangan sampai mati, tapi bikin dia mati pun segan hidup pun segan.." Kata Firza memberi perintah.
"Yaa aku percaya kepada mu, karna setiap tugas yang aku berikan kau mampu menyelesaikan dengan sangat puas.." Firza memuji sahabatnya yang sudah mengikuti nya ketika Firza membantai orang orang dari perusahaan Harsya.
Hampir satu jam lamanya, Sang Ketua Serigala Merah dan Bruno membahas tentang sebuah pembantaian yang akan di lakukan malam ini, Firza pun keluar dari Kafe Bintang untuk segera bergegas ke Markas Besar Organisasi yang Ia pegang belasan tahun itu.
Tujuan utamanya datang ke Markas Besar untuk mengerahkan seluruh Anggota terlatih nya, untuk melakukan penyerangan malam Senen nanti di saat Sang musuh bebuyutan nya mengadakan acara haol kematian sang pemilik padepokan Macan Putih.
#######
Sedangkan di tempat yang sangat jauh dimana Ketua Serigala Merah itu berada, seorang pemuda tampan dengan di dampingi empat gadis muda berkerudung hitam, mulai berjalan kearah mobil Xenia berwarna silver.
__ADS_1
Ketika Laksa hendak masuk ke dalam mobil, Ia menoleh kearah Fatimah, Harsya dan Riyan serta Dinda dengan senyuman manis.
Balasan senyuman yang di berikan oleh mereka berempat, membuat otak rakus Laksa tersenyum sinis, Ia pun langsung berjalan kearah mereka berempat dengan senyuman yang membuat bulu kuduk mereka bergidik ngeri.
"Hmmmmmmmmm''.. Mulai sinting lagi tuh anak.." Kata Fatimah berdecak pinggang.
"Biarkan saja Fatimah, belasan tahun dia hidup menderita dengan hidup serba kekurangan, apa salahnya kita saat ini menerima kekesalan dan hukuman alam kepada kita yang seharusnya wajib untuk mendidik dan membimbing dia ke jalan yang benar.. Kegilaan dan kesintingan nya yang penting tak keluar dari arus agama.." Terang Harsya kepada adiknya.
"Iya Kak..... Fatimah juga ngerti, walau terkadang sipat jahilnya membuat tensi darah ku naik seratus derajat."
"Ayah dan bibi ku yang paling cantik dan mempesona, sedang membahas apakah.?" Boleh kan Laksa tahu tentang pembicaraan kalian berdua.." Pinta Laksa kini berada di hadapan mereka.!
"Keponakan yang paling gila dan sinting, tak usah lah basa basi, apa yang membuatmu balik lagi kesini hah..?" Tanya Fatimah berkata penuh dengan nada manis yang di buat buat.
"Hehehehe.... Ini, ehk, itu bibi....!
"Ini. Itu. Ini, Itu, Ayo katakan yang benar gak usah terbata bata begitu.." Sergah Fatimah.
"Baiklah bibi...!
"Kalau tugas malam ini berhasil menyelamatkan kedua keluarga sahabat Ayah.. Apakah Laksa bersama empat Srikandi yang paling cantik dan mempesona akan di beri hadiah..?" Tanya Laksa berterus terang.
"Kamu mau hadiah apa anakku..?" Harsya bertanya kepada Laksa.
"Iya kamu hadiah apa keponakan ku..?" Riyan ikut bertanya.
"Laksa hanya ingin mobil yang lebih bagus dari mobil yang sekarang di pakai, dan bibi Fatimah, melunaskan hutang yang aku pinjam malam itu Hehehehe.." Terang Laksa seraya terkekeh.
__ADS_1
"Sedangkan untuk Dewi Dewi ku yang paling cantik.. Ayah dan Bibi atau pun Paman Riyan, tinggal tanyakan langsung kepada mereka, okay..." Gaya tengil nya seketika keluar dari mulut manis nya itu.
Bersambung.