Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Kebingungan Laksa


__ADS_3

Aura membunuh seketika timbul di hati pemuda bertopeng kan emas itu, ketika empat lelaki yang menjadi pengawal Tuan Besar Harsya dan Riyan tergeletak di jalan dengan bersimpuh darah...


"Apakah kau tuli hah, berani berani nya tak menjawab pertanyaan ku.." Bentak Jhon Koplak, kepada pemuda itu.


Pemuda yang di bentak hanya tersenyum sinis, saja.. Hal itu membuat Jhon geram dan lagi dan lagi Ia memberi isyarat kepada penembak jitu dengan cara yang sama ketika pengawal Harsya dengan seketika tewas akibat tembakan yang tak tau dari arah mana.


"Itu tak berlaku buat diri ku....." Laksa berkata sambil melompat ke arah Jhon dan langsung memberikan salam perkenalan.


"Bugh...............................


"Bugh...............................


"Ahkh................................


Dua pukulan telak mengarah dan mengenai perut buncit lelaki tua yang menjadi wakil ketua Genk Serigala Merah itu, membuat dirinya merasakan mual yang teramat sangat dalam.


"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz!!


"Blegh....................


"Blegh....................


"Dewi Dewi ku....... Keluar sekarang dan musnahkan mereka semua yang telah berlaku sombong di kota orang..'' Teriak Laksa setelah puas menendang Jhon Koplak..


Saat posisi sang pemimpin Genk Serigala Merah itu terkapar oleh pukulan dan tendangan Pemuda bertopeng itu... Para anak buahnya yang berjumlah lima belas orang itu langsung menyerang Laksa, tetapi dari atas bahu jalan empat Srikandi yang telah berhasil memusnahkan sniper sniper yang di persiapkan oleh Jhon Koplak tumbang lalu para Srikandi keluar dan langsung melompat bagaikan monyet menyerang dan mencakar siapa saja yang di perintahkan oleh majikan nya.


"Uhk....... Seru men..... Hajar...... Cakar..... Pukul........." Teriak Laksa kegirangan, Ia pun sama tak berdiam diri ikut menyerang siapa saja yang ada di hadapannya.


Harsya dan Riyan sungguh tak percaya dan duga, bahwa perjalanan ini akan membuat nya diri mereka berdua penuh dengan kejutan, dibalik kegelisahan dan rasa takut dalam dirinya, kini mendapatkan kesenangan sesaat.


Hampir tiga puluh menit sang penolong yang datang tiba tiba membantu kesulitan yang hampir membuat Harsya dan Riyan melayang nyawanya, kini sudah selesai dan Anggota Genk Serigala Merah bersama Jhon Koplak sudah tumbang.


"Kakek........ Lihatlah............. Ujian yang kau berikan sudah Laksa selesai kan.... Awas kau Kakek kalau tak memberi nilai seratus..." Teriak Laksa sambil memberi ancaman.


Lagi dan lagi Harsya dan Riyan di buat penasaran dan tersentak kaget... Siapa Kakek yang di maksud oleh pemuda itu dan kenapa wujud nya tak ada.." Batin Harsya dan Riyan bergejolak.

__ADS_1


Laksa lalu membalikkan badannya setelah semua ganjalan yang ada di hati nya Ia teriakan dan berjalan melangkah menuju dua lelaki setengah tua yang usia nya hampir sama.


"Tuan Besar Harsya... Tuan Riyan... Perkenalkan nama saya Laksa.. Saya supir pribadi dari Nyonya Besar Fatimah adik ipar anda.." Ucap Laksa membungkuk hormat dalam balik topeng.


Untung buat dirinya memakai topeng, seandainya wajahnya tidak tertutup, mungkin kedua lelaki itu akan melihat di bagian kedua mata nya yang mengalir air mata kerinduan Sang anak kepada ayahnya.


"Ja... Jad.... Jadi...... Kamu supir yang di bicarakan oleh adik ku...?" Tanya Harsya kata kata nya terbata bata.


"Iya Tuan Besar... " Angguk Laksa..


Tak lama beberapa saat para anggota Macan Putih yang di pimpin oleh Fatimah langsung datang bersama beberapa anggota kepolisian untuk bagian pembersihan.


"Adik anda bersama Anggota Macan Putih telah datang Tuan Besar.." Kata Laksa, Tampak orang orang memakai ikat kepala warna putih dan baju kebanggaan terlihat oleh Laksa berjalan berlarian menuju lokasi kejadian ini.


"Kakak...... Riyan........" Teriak wanita berusia 35 tahun itu.


"Apakah kalian berdua tak apa apa..?" Tanya Fatimah setelah mendekat ke hadapan mereka berdua.


"Alhamdulillah.. Kakak dan Riyan selamat, tetapi ke empat pengawal yang di bawa tewas, sebelum supir kamu datang.." Jawab Harsya seraya tatapan tak beranjak dari pemuda yang memakai topeng emas itu.


"Kamu............... Laksa..... Kenapa bisa terlambat datang menyelamatkan Kak Harsya dan Riyan hah...." Kata Fatimah dengan nada tinggi dan tangannya menjewer telinga Laksa.


"Aduh..... Ampun....... Bibi....... Ampun.... Ampuni Laksa." Ucap nya memohon.


"Ayo jelaskan baru bibi bisa mengampuni mu hah.. Fatimah masih memberikan exfresi yang menakutkan kepada Laksa.


"Baik bibi... Tapi lepaskan dulu tangan bibi yang menjewer telinga Laksa.." Ucap nya.


"Tidak............. Sebelum bibi menerima penjelasan dari mu tangan ini tak akan lepas.." Kukuh Fatimah..


"Baiklah bibi Fatimah yang paling cantik tapi menakutkan bagaikan kuntilanak..." Aww.... Sakit bibi...


"Barusan ngatain apa ke bibi hah..." Bentak Fatimah...!


"Hehehehe..." Maaf bibi keceplosan ngomong.." Ucap nya..

__ADS_1


"Fatimah sudah...... Supir mu itu tak bersalah, justru kalau tidak ada Nak Laksa bersama empat wanita hebat itu, kamu akan melihat mayat kakak mu dan Riyan.." Bela Harsya.. Dengan senyuman manis ke arah adik iparnya itu.


"Biarkan saja Kak... Ini anak nanti kebiasaan kalau tak di kasih hukuman, karna kedepannya tugas dan pekerjaan nya akan lebih berat.." Terang Fatimah tapi Ia melepaskan tangannya dari telinga Laksa..


Setelah terlepas dari jeweran sang bibi, Laksa hanya bisa mengelus ngelus telinganya yang memerah oleh jeweran yang Ia dapatkan dari Fatimah.


Ke empat Srikandi menghadap kepada Fatimah seraya membungkuk hormat.


"Nyonya Besar mohon maafkan hamba yang datang tak tepat waktu.." Ucap mereka berempat secara bersamaan.


"Kalian tak usah membungkuk hormat begitu... Kalian sudah melakukan tugas yang sangat baik..." Jawab Fatimah..


"Terima Kasih Nyonya Besar.." Ucap ke empat Srikandi itu.


"Uhk..... Dasar bibi yang pilih kasih..." Gumam Laksa tapi terdengar oleh Fatimah dan Harsya serta Riyan.


"Hei......... Keponakan sinting, barusan kau bilang apa hah.." Bentak Fatimah dengan sorot mata yang tajam..


"Tidak..... Tidak.... Bi.... Mungkin bibi salah dengar kali.." Jawab Laksa seraya kedua tangannya ia kibas kibaskan.


"Awas kamu kalau mengumpat bibi dalam hati.." Ucap Sang bibi dengan senyuman.. Hal itu membuat Laksa menggeleng kan kepalanya.


Semua pembersihan dan apa yang terjadi di jalan tikungan yang akan mengarah ke rumah nya Fatimah sudah sepenuh nya selesai dengan di bantu oleh beberapa anggota kepolisian setempat.


Fatimah pun berpesan kepada para anggota Macan Putih dan kepolisian agar apa yang terjadi hari ini jangan sampai terekspos di dunia Maya atau pun kepada pihak musuh yang di tugaskan untuk membunuh kakak nya dan Riyan.


Kini mereka sudah berada di rumah nya Fatimah... Laksa dan keempat Srikandi nya pun juga sudah berada di lingkaran ruangan keluarga Besar Kiayi Sepuh.


"Sa....... Bukalah topeng mu....'' Titah Fatimah..


Laksa terdiam sesaat, Ia bener bener bingung, apakah sudah saat nya Harsya mengetahui siapa dirinya?" Apakah tidak terlalu dini.


"Sa........ Ayo buka......" Kata Fatimah lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2