
"Ken.... Dan sahabat ku brother Harsya, jujur kalau boleh saya katakan, aku tidak mempunyai alasan atau pun rencana dengan ucapan yang tadi aku uraikan. Tapi insting ku mengatakan Bruno bukan orang yang kita singgung, kenapa aku berkata begitu, karna sekelas Muhammad Laksa Ilham dan ke empat Srikandi Padepokan Cimande pun yang sudah terlihat oleh kita kemampuan cara bertarung nya bisa tumbang oleh anak buah nya. Seandainya kamu dan Rex ingin menyelidiki Bruno sama hal nya dengan mengantarkan nyawa nya sendiri.." Riyan terdiam sesaat tatapannya kosong pikirannya berkecamuk, sebenarnya Ia pernah satu kali berurusan dengan Bruno ketika badai perang itu antara Macan Putih yang menewaskan orang orang ahli dalam interen Macan Putih 15 tahun yang lalu, dan terbunuhnya brigadir jenderal Anton Sideka.
"Kalian berdua bersabar lah dan tunggu Muhammad Laksa Ilham keluar dari rumah sakit, sudah waktu nya yang muda mengatur segala rencana untuk memulai perang dan membalikkan keaadaan kita yang terpuruk hingga belasan tahun.
"Aku dan kamu Harsya, kita pokus kepada rencana yang awal mencari keberadaan istri mu, jujur aku sudah menemukan titik terang bahwa Halimah masih hidup." Riyan tersenyum seraya menepuk pundak Harsya untuk menguatkan hati nya, merelakan dirinya untuk tidak ikut campur dalam menghadapi musuh yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Ka... Kau... Apakah yang di katakan itu bener, atau hanya untuk menyenangkan diri ku saja, Riyan..?" Tanya Harsya terbata bata.
Harsya menatap tajam sahabatnya. Begitu juga dengan lelaki bermata sipit di hadapannya itu.. Menunggu suara atau pun kode lain dari wajahnya, bahwa ucapan yang baru saja di keluarkan bukan hanya bualan saja.
"Yaa.. Aku sudah tahu bahwa istri mu masih hidup, maka nya kenapa aku mencegah Ken dan Rex untuk tidak menyelidiki Bruno saat ini, takutnya pencarian kita mencari Halimah di manfaatkan oleh mereka untuk melemahkan diri mu. sahabat ku.." Terang Riyan memberikan alasan nya.
Harsya langsung bersimpuh dan mengucapkan rasa syukur penantian 19 tahun kini, ada secercah harapan yang bisa membuat keyakinan hidupnya bertambah seratus persen.
Kegelisahan akhir akhir ini, pertanda membawa nya ke suatu kebahagiaan, yang di awali bertemu nya dengan anak kandungnya lalu harapan kedua pun muncul dari jalan dan sareat sahabatnya bahwa telah ada titik terang atas hilang nya sang istri.
Dalam berkecamuk nya obrolan di siang itu, tiba tiba sebuah ponsel berdering cukup keras di ponselnya Tuan Riyan Putra Pratama.
"Kriiiiing.................!
"Kriiiiing..................!
"Kriiiiing..................!
Riyan pun langsung mengambil ponsel yang ada dalam saku celana nya dan, langsung menjawab telepon masuk nya itu, sebelumnya Ia tersenyum manis menatap layar ponselnya itu.
"Ya........!
"Ok.. Terus pantau perkembangan nya, jangan biarkan semua berantakan, aku dan semua orang dari perusahaan Tuan Besar Harsya mengandalkan dirimu."
__ADS_1
Sangat misteri dan penuh tanda tanya besar bagi Ken dan Harsya yang mendengar obrolan Riyan bersama sang penelepon itu.
"Siapa itu Riyan yang baru saja menelepon mu.?" Tanya Harsya penasaran.
"Teman lama. Nanti aku perkenalkan kepada mu kalau sudah saat nya." Jawab Riyan santai.
"Apakah semesterius itu..?" Ken kini yang bertanya.!
"Yaa... Karna ini akan menjadi kado yang terindah buat perusahaan kita.." Riyan bangkit dari duduknya.
"Brow ayo kita pergi.. Ken dan Rex ku beri tugas untuk mengumpulkan orang orang penting di jajaran perusahaan, kita akan mengadakan rapat Jumat malam.." Titah Riyan.
"Baik Tuan Riyan, menerima perintah dari anda.." Ken mengangguk setelah menjawab.
"Ingat hanya orang orang penting saja, dalam perusahaan. Kau mengerti kan maksud ucapan ku.." Riyan mengingatkan ucapan nya itu.
"Yaa, di mengerti Tuan." Jelas Ken.
"Uhk..... Pesona dari Tuan Riyan, sangat menakutkan dengan pikiran pikiran yang tak bisa di tebak, berbeda dengan pesona Tuan Besar Harsya yang bila telah kembali aura membunuh nya timbul begitu saja.
Dua lelaki yang mampu bisa membendung serangan serangan dari musuh, ketika salah satu nya pincang dan tak berdaya.
"Tuan Riyan dan Tuan Besar, aku acungi jempol buat kalian berdua.." Ucap Ken seraya menatap langkah kaki mereka berdua dari ruangan tersebut.
###################
"Bagaimana keaadaan Tuan Muda, Sari, Wulan dan Intan..?" Tanya seorang wanita berusia 22 tahun dalam posisi terbaring dengan tangan di selang infusan.
"Kata Dokter Tuan Muda berhasil menjalani masa kritisnya dan tak lama lagi akan siuman, tetapi sudah dua hari Tuan Muda masih tak sadarkan diri.." Jawab salah satu dari mereka bertiga.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari adik seperguruan nya itu, Srikandi satu hanya bisa terdiam dan mata nya berkaca kaca.
"Aku telah gagal mengemban tugas yang di berikan oleh guru.." Lirih Srikandi satu.
"Aku bener bener malu. Dan tak bisa menampakkan wajahku ini di hadapan guru maupun di hadapan majikan ku.." Kata lagi Srikandi satu penuh dengan rasa penyesalan.
Ceklek.
Pintu ruangan VIP terbuka, sosok lelaki paruh baya muncul bersama dengan wanita berusia 35 tahun dan langsung berkata.
"Siapa bilang kamu gagal. Kenapa harus malu menampakkan wajah mu di hadapan guru dan Anak ku Fatimah.."
"Guru Sepuh.. Nyonya Besar Fatimah.." Serempak mereka berkata dan tiga Srikandi langsung membungkuk hormat.
Murid ku bangun lah, tak usah membungkuk hormat segala.. Srikandi satu, kau tak gagal justru guru memuji keberanian mu.." Lelaki Tua berusia dua abad itu langsung menghampiri Srikandi satu dan langsung memegang kepalanya.
"Ajaib. Itu kata yang keluar dari hati Fatimah. Setelah Pemilik Padepokan Cimande itu menyentuh kepala Srikandi satu, semua luka yang menempel di tubuh Murid nya hilang tak membekas sedikit pun.
Setelah menyembuhkan luka dari Murid nya. Lelaki seumuran dengan Ayah nya Fatimah pun langsung berkata.
"Fatimah dan kalian berempat, harus lebih berhati hati ke depannya, karna musuh yang sebenernya bukan dari kalangan nyata, tapi musuh yang tak bisa di lihat dari kasat mata.. Dan bocah sinting itu dua hari lagi akan siuman.." Sang Guru dari keempat Srikandi itu memberikan sebuah amanah kepada mereka berlima.
"Baik Guru. Kamu akan mengingat dan menjalankan amanah dari guru.." Jawab ke empat Srikandi itu dan anggukan serta senyuman dari Fatimah.
"Tengkorak Hitam.. Akhir nya kau turun gunung juga.." Gumam lelaki Tua itu.. Terdengar pelan oleh mereka terutama Fatimah hingga Ia langsung bertanya.
"Maksud Kakek Sepuh. Tengkorak Hitam itu..?"
"Hehehehe.. Fatimah Tengkorak Hitam itu, satu perguruan atau pun bisa di sebutkan padepokan yang beraliran hitam dan pemiliknya manusia yang telah bersekutu dengan siluman. Wajar bila keponakan mu dan murid ku terluka.." Terang lelaki tua itu.
__ADS_1
"Ja.. Jad.. Jadi.............." Fatimah tak melanjutkan kata katanya setelah anggukan dari lelaki tua, seakan akan mengerti apa yang ada di pikiran Fatimah.
Bersambung.