
"Plakk.......................!
"Setaaan........................!
"Palaakkk......................................!
Suara tamparan berulang kali memenuhi ruangan itu.
Tampak lelaki setengah baya terlihat sangat marah kepada beberapa orang lelaki berbadan tegap yang berdiri dengan menundukkan kepala mereka masing masing.
"Sialan bajingan, aku telah menganggap remeh musuh ku kali ini... Pantas saja Jhon Koplak kemarin tak memberi kabar ternyata dia sudah end oleh orang orang Anggota Macan Putih...." Geram Lelaki setengah baya itu.
"Plaakkk................!
"Plaakkk.................!
Kembali terdengar suara tamparan yang membuat beberapa lelaki berbadan tegap itu mulai mengalirkan darah di sudut bibir mereka.
"Ampun Ketua.." Kata mereka serempak sambil mengusap usap pipi mereka yang kini telah memerah. Ada cap lima jari terlihat di sana.
"Bodoh kalian semua."
"Hanya melawan satu pemuda dan empat wanita kampung saja, dua puluh Anggota Genk Serigala Merah dengan di komandoi oleh Jhon Koplak dengan senjata api yang ada di tangan kalian bisa kalah begitu saja hah." Geram lelaki yang di panggil Ketua itu sambil mondar mandir di hadapan orang lelaki berbadan tegap itu.
"Kami sebenarnya sudah hampir berhasil membunuh Tuan Harsya dan Tuan Riyan siang itu, tetapi tiba tiba seorang pemuda bertopeng emas dan dari atas tebing jalan bermunculan empat wanita yang jago dalam seni beladiri datang memporak-porandakan pertahanan kami semua hingga Tuan Jhon Koplak pun mati di tempat dan kami langsung di giring ke Polsek setempat." Terang salah seorang yang di beri tugas dalam membantai pemilik perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP.
Sebenarnya wajar jika mereka tidak berhasil membunuh Harsya dan Riyan siang itu, karna dalam pertemuan malam itu bersama dengan para petinggi perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dan dua Nyonya besar Anastasya dan Shintia, Firza selaku motor dari pertemuan itu hanya mengerahkan sebagian kecil anak buahnya yang berpikiran bahwa musuhnya itu sudah tidak mempunyai kekuatan.
Sepertinya keberuntungan kali ini berpihak kepada Harsya dan orang orang nya, Dapat di bayangkan seandainya malam itu Firza mengambil kesimpulan dari tiga petinggi perusahaan untuk mengerahkan seluruh kekuatan nya, melenyapkan Harsya dan Riyan, bisa di bayangkan apa yang akan terjadi di waktu siang itu ketika pemuda bertopeng emas dan empat Srikandi melawan nya.
"Kalian aku beri kesempatan sekali ini saja untuk hidup. Sekarang juga kalian semua kumpulkan orang orang jalanan untuk di rekrut dan masuk jajaran Genk Serigala Merah untuk melawan musuh yang kemungkinan terbesar nya sedang mempersiapkan diri melawan kekuatan kita.." Kata lelaki setengah baya itu memperingatkan kepada mereka.
"Baik Ketua. Perintah anda akan kami laksanakan.." Kata mereka serempak sambil membungkuk dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Beberapa saat setelah orang orang berbadan tegap itu meninggalkan ruangan tersebut, lelaki setengah baya yang bernama Firza itu mondar mandir. Jelas kegelisahan terpancar di wajahnya saat ini.
__ADS_1
"Malam ini rencana di ubah, aku harus segera menelepon Nyonya Besar Shintia untuk tidak bertindak terlebih dahulu, belum lagi kabar dari Nagatomo dan Fikri menghilang bagai di telan bumi." Ucap Firza dalam hati.
################
"Kriiiiing.......................!!
"Kriiiiing........................!!
"Kriiiiing.........................!!
"Halo... Paman, ada berita penting apa, yang ingin Paman sampaikan kepada saya.." Jawab seorang pemuda menjawab telepon masuk.
"Tuan Laksa sesuai instruksi dari anda, Paman sudah menjalankan rencana dari anda. Kemungkinan pihak musuh sedang gelisah saat ini.." Terang si penelepon dari sebrang.
"Bagus Paman, tinggal kita mengatur rencana kedua saat ini.." Titah pemuda itu.
"Siap Tuan menerima perintah dari anda.." Jawab lelaki yang di panggil Paman itu.
"Bagus, Paman, nanti saya hubungi kembali untuk rencana kedua, kemungkinan malam ini haol kematian Kiayi Sepuh tanpa ada kendala dari pihak musuh, tapi untuk berjaga jaga, atur lah beberapa Anggota dalam naungan Paman untuk berbaur dengan warga dan kepolisian setempat.." Titah Laksa memberi tahukan.
Telepon berakhir, Fatimah dan Harsya yang duduk di depan di buat penasaran." Laksa siapa yang baru saja menelepon mu.?" Tanya Fatimah.
"Salah satu dari sepuluh murid utama Padepokan Cimande.." Laksa menjawab sambil tangan dan mata nya sibuk mengotak ngetik ponsel.
"Bila Ayah dan Bibi percaya kepada Laksa... Maka Laksa mohon untuk ikuti alur rencana yang menurut pandangan kalian berdua sangat receh dan mudah di pahami.." Sambung Laksa kini tatapannya menatap kearah Fatimah yang menengok ke belakang.
"Bibi percaya sepenuhnya pada mu Nak.." Ucap Fatimah.!
"Iya Ayah juga..!
"Uhk... Ayah mah kata orang Sunda mah.." TUTURUT MUNDING. Hahahaha..! Tawa Laksa menggema.
"Hehehehe....Baru saja sekilas Kak Harsya, aku memuji anak mu tak segila yang di pikirkan ada masa serius nya juga, tapi setelah melihat dan mendengarkan kata ledekan pada mu, maka aku tarik lagi ucapan ku ini.." Kekeh Fatimah..
"Hahahahaha..... Hahahahaha.... Laksa gitu loh.." Tawa pemuda itu membuat dua hati yang duduk di depan jok mobil ikut senang.
__ADS_1
"Ayah berhenti di depan..." Pinta Laksa secara tiba tiba menyuruh Ayah nya.
"Ada apa Sa..." Harsya bertanya dan mulai menjalankan mobil nya secara perlahan lahan.
"Itu tadi teman Laksa Yah...." Jawab Laksa, mobil pun berhenti Laksa segera turun.
"Ayah, bibi, tunggu sebentar, Laksa ada perlu gak lama kok.." Ucap nya, Mereka berdua pun mengangguk.!
Setelah berpamitan kepada bibi dan Ayah nya, Laksa pun berjalan kearah belakang, tampak terlihat dari spion mobil oleh Harsya dan Fatimah.
"Hmmmmmmmmm'' Seorang wanita Fatimah.." Kata Harsya..!
"Iya Kak, mungkin teman sekolah nya." Tebak Fatimah.
"Yaa udah kita tunggu saja, toh mall sudah dekat kok dari sini.." Kata Harsya, Fatimah pun mengangguk.
Sedangkan Laksa setelah turun dan kini berjalan kearah wanita yang di pikiran Harsya dan Fatimah teman sekolah nya, mulai menegurnya dari arah samping.
"Amanda.!!
"Apakah kau Amanda..!
Wanita yang di tegur oleh Laksa pun menoleh dan tersenyum, reflex langsung memeluknya, sambil berkata antusias penuh keharuan.
"Kak.... Laksa... Yaa aku ini Amanda kak.. Terima Kasih Kak... Hiks,.. Hiks.. Akhirnya Amanda bertemu dengan mu Kak...!
"Sudah.... Jangan nangis, bagaimana keaadaan ibu mu setelah operasi..?" Laksa melepaskan pelukannya dan bertanya ingin mengetahui kondisi ibu nya malam itu yang sempat ia tak bisa menemani nya.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar Kak.. Pemulihan nya sangat cepat dan Ibu kemarin sudah pulang kerumah.." Jawab Amanda seraya menyeka air matanya yang keluar, bukan air mata kesedihan yang Ia keluar tapi air mata penuh rasa kebahagiaan.
"Syukurlah Amanda ibu mu sudah sembuh Kakak ikut bahagia.. Btw kamu di sini sedang ngapain..?" Tanya Laksa.
"Amanda mau pergi ke mall, untuk mencari pekerjaan Kak.." Mudah mudahan ada lowongan kerja yang halal, walau bagaimana pun, Amanda dan sekeluarga berhutang besar kepada Kak Laksa.." Terang Amanda, Ia berpikir dalam hatinya pemuda di hadapannya sangat memprihatinkan dari penampilan nya, muka kusut rambut acak acakan dan pakaian pun lusuh.
Bersambung.
__ADS_1