
Semua orang pun tak akan percaya bila pemuda di hadapannya itu adalah sang pewaris perusahaan terbesar se-Asia, karena dari penampilan nya itu yang mirip sebagai kuli bangunan atau pun pemulung barang rongsokan.
"Ohk ke mall kebetulan sekali Kakak juga mau kesana, apakah mau sama sama pergi ke mall nya..?" Tanya Laksa.
"Ayo Kak.." Amanda menjawab penuh kesenangan.!
"Apakah kamu tidak akan merasa malu bila kita berangkat bersama dengan kakak.?"
"Kenapa harus malu Kak.. Apa yang harus di malu kan..?" Tanya Amanda berkerut kening nya.
"Kamu lihat lah pakaian Kakak. Kucel begini bisa bisa nanti di usir pas kita masuk, karna kamu masuk membawa seorang pengemis.." Terang Laksa, menguji wanita di hadapannya itu.
"Yaa kalau mereka mengusir Kakak.. Kita pergi dari sana apa susahnya sih Kak.." Amanda berkata cuek, yang di lihat dari Laksa itu bukan tentang sebuah pakaian atau pun keadaan yang menempel di tubuhnya. Tapi dia melihat hati nya yang sangat bersih dan mau menolong sesama orang yang di landa kesulitan, walaupun Amanda tahu pemuda di hadapannya itu status sosial nya sama dengan nya.
"Hehehehe.. Aku suka dengan sipat mu.. Ayo kita berangkat.." Ajak Laksa, hal itu membuat Amanda wajahnya bersemu merah.
"Kak... Tunggu kita naik angkot saja di sini.." Amanda berkata dan menarik tangan Laksa yang sudah membalikkan badannya dan ingin berlalu kearah depan.
Laksa berbalik, wajah putih terlihat memerah di kedua pipi Amanda.." Kamu sariawan ya Amanda, kok pipi kamu memerah..?" Tanya Laksa dengan kepolosan nya itu.
"Ahk.. Itu.. Ehk..... Ahkk... Enggak." Amanda terbata bata sambil menutupi kedua pipinya dengan tangan nya itu.
"Ayo berangkat ahk... Kita naik angkot saja.." Sambung Amanda, setelah rasa malu nya kini hilang yang di sebabkan oleh pemuda di hadapannya dengan perkataan suka.
"Kita gak usah naik angkot, kita naik mobil mewah Marcedez Benz C-Class gitu loh, tuh di depan mobilnya..." Ajak paksa Laksa yang membuat Amanda tak bisa berkata kata dan hanya pasrah tangannya di tarik oleh pemuda yang mungkin hatinya mulai menyukai nya.
Sesampainya di mobil tersebut, Harsya dan Fatimah pun mengetahui bahwa Laksa membawa gadis cantik itu ke hadapannya, mungkinkah akan berpura pura atau tidak mereka menunggu kata pertama yang akan di ucapkan oleh Laksa.
"Nyonya Besar Fatimah.. Tuan Besar Harsya. Mohon merepotkan kalian berdua, Laksa mengajak teman untuk sama hal nya pergi ke mall.." Pemuda itu berkata seraya memegang tangan Amanda.
"Teman atau demen.." Ledek Fatimah tersenyum geli.!
__ADS_1
"Aslina demi Tuhan, ini teman Laksa, Kalau Nyonya tak percaya bisa tanya langsung.." Kata Laksa,
"Nyonya Besar, Tuan Besar, salam hormat, dari saya Amanda.." Ucap nya membungkuk hormat, Fatimah pun buru langsung menahannya.
"Kamu teman dekat supir tengik ini, tak usah sungkan segala harus membungkuk.." Fatimah berkata lalu mencium kening gadis cantik itu.
Hatinya berdebar kencang, mendapatkan perlakuan spesial dari seorang wanita bangsawan itu, pilihan nya tak salah ingin mengenal lebih dalam pemuda di samping nya itu.
"Sebaiknya kita berangkat, mungpung masih pagi.." Pinta Harsya tersenyum.!
"Iya Kak..."
"Kamu Laksa dan Amanda duduk di belakang biar Kak Harsya yang menyetir kali ini.." Fatimah memberi kedipan kepada Laksa untuk berakting.
"Hahahaha..... Baiklah kalau begitu, jarang jarang anak buah di jadikan raja oleh majikan.." Ayo Putri ratu kita masuk..." Tawa Laksa meneruskan akting dari sang bibi, yang membuat Fatimah dan Harsya hanya bisa terpaku sesaat.
#######################
Lelaki berusia 33 tahun keluar dari kamar anak setelah melaksanakan aktivitas nya sebagai umat yang taat akan ibadah.
Tak biasa nya Sukardi ingin keluar dan melihat istrinya apakah sudah tidur atau belum, biasanya Sukardi bila sudah beribadah langsung tertidur di kamar anaknya. Tapi kini pikiran dan hatinya seolah olah membawa ke salah satu rahasia yang sangat besar tentang sebuah perselingkuhan Istri nya.
"Tap..... Tap..... Tap........
Langkah kaki tanpa sadar Ia sudah berada di kamar istrinya, pikiran nya dan sorot matanya tertuju kepada sebuah ponsel Samsung yang ada di meja dekat tempat tidurnya.
Entah kenapa keberanian timbul seketika dalam hati Asep, untuk membuka ponsel sang Istri, yang biasanya dia sama sekali tidak berani untuk membuka atau ikut campur dalam urusan pribadi sang Istri.
Sampai pada titik dimana, Ia membuka ponsel dan langsung tertuju pada sebuah aplikasi pesan wasttap, darah nya mendidih, emosi nya meledak meledak, sang iblis mulai merasukinya dan meracuni otak serta hatinya.
"Apakah wanita ini pantas untuk hidup...!
__ADS_1
"Lebih kau bunuh saja wanita iblis yang sudah menginjak injak harga diri sebagai suami.." Iblis dalam hati memulai memprovokasi Asep Sukardi.
Pergulatan antara iblis dan hari nuraninya, bergejolak di seluruh tubuhnya, hingga keringat pun bercucuran, Asep sudah tak tahan lagi, Ia melangkah keluar dari kamar tujuan utamanya adalah dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa melayangkan sebuah nyawa.
"Akan ku bunuh malam ini juga wanita durhaka itu..." Asep mengacungkan pisau yang tengah dalam genggaman tangan nya.
Ketika hendak masuk lagi ke dalam kamar sang Istri, seorang bocah menegurnya.." Ayah mau tidur ya, Ajis mah minum..!
Sang Ayah seketika tersadar setelah bocah kecil yang selama ini dia bertahan akan rumah tangga nya datang terbangun dari tidur untuk sebuah alasan yaitu ingin minum.
Ia pun lalu menoleh dan menyembunyikan sebuah pisau yang Ia bawa dari dapur, niat untuk menghabisi Istri nya tertahan karna wajah polos sang anak.
"Ajis bangun, ingin minum, sebentar ya, ayah ambilkan.." Ucap Asep, berlalu pergi ke dapur.
Setelah beberapa menit kemudian.. Sang anak pun telah tidur kembali di pangkuan nya.. Kini pikirannya tak separah tadi yang ingin membunuhnya suaminya, Asep pun merebahkan anak nya ke kasur dan dirinya pun langsung keluar dari kamar pergi keruangan tengah.
"Sepucuk surat dari suami untuk ibu dari Muhammad Ajis.
Suatu hari, aku akan berhenti menyalahkan diri sendiri, dan kekurangan diriku yang mengakibatkan cinta mu berpaling kepada orang lain.
Aku tidak bisa menyalahkan mu, tak peduli betapa kau telah menyakiti hatiku, juga keluarga kita. Aku masih tetap ingin menunggu cinta mu, kembali padaku.
Aku tidak peduli jika orang-orang memanggilku ‘martir’. Aku akan tetap mencintaimu, hingga rasa sakit ini menghilang.
Inilah caraku menghadapi rasa sakit karena penghianatan mu. Aku tidak tahu apakah kau akan membaca surat ini. Kurasa surat ini lebih bertujuan untuk diriku sendiri. Sebagai cara untuk menyembuhkan diri.
Mungkin satu saat, setelah aku menulis ribuan surat, aku bisa ikhlas melepaskan mu. Dan bisa bangkit melanjutkan hidup ku bersama buah hati kita. Tetapi aku tidak bisa menghapusmu dari hidupku begitu saja.
Bersamamu membuatku menjadi diriku yang sekarang.
"Selamat tinggal Istriku Mawar Purnama, kau tak perlu mencari ku dan aku mohon kamu bersama selingkuhan mu untuk melepaskan ketiga orang yang tak bersalah.
__ADS_1
Bersambung.