
Sa....... Bukalah topeng mu....'' Titah Fatimah..
Laksa terdiam sesaat, Ia bener bener bingung, apakah sudah saat nya Harsya dan sahabatnya Riyan mengetahui siapa dirinya?" Apakah tidak terlalu dini." Batin nya bergejolak.
"Sa........ Ayo buka......" Kata Fatimah lagi.
Sorot mata Harsya dan begitu juga dengan Riyan, sepenuhnya tak berkedip dan tatapan matanya menatap langsung kearah pemuda yang kini perlahan lahan sedang membuka topeng nya.
"Mungkin terlalu dini buat mu Sa... Tapi bibi takut nanti ketika semua peperangan itu pecah, dari pihak kita akan salah paham mengingat kamu belum memberi tahukan semuanya kepada Kak Harsya dan Kak Riyan.." Alasan yang di berikan oleh Fatimah kepada keponakan nya itu.
Laksa mengangguk pelan.. Ia pun langsung membuka topeng yang melekat di wajah nya.. Hati Sang Tuan Besar Harsya bergetar seolah ada getaran hati yang sangat kuat dengan pemuda itu, hal serupa di rasakan oleh Riyan sahabat nya.
"Siapa kamu.? Kata itu pertama kali terlontar dari Harsya ketika dengan mata nya sendiri Laksa membuka topeng yang menutup seluruh wajahnya. Berbeda dengan Riyan yang hanya melongo diam membisu, gejolak hatinya bertanya tanya. Kenapa Wajah nya terasa tidak asing.
"Siapa kamu katakan cepat.." Teriak Harsya. Seketika air mata dari kedua mata Indah nya mengalir begitu saja.
"Tolong katakan kepada ku anak muda... Kenapa kenapa mata mu, hidung mu, semua yang ada di wajahmu mirip dengan istri ku.. Hiks.... Hiks.... Hiks..." Tangis Harsya histeris langsung menyentuh kalbu Laksa dan semua yang berada di ruangan itu.
Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan bagi mereka yang ada di ruangan rumah itu. Sekelas Fatimah pun tak kuasa Air mata nya keluar membasahi seluruh pipi putih wajahnya, walaupun sejatinya dia sudah mengetahui siapa Laksa yang sebenarnya.
Laksa menatapnya dengan iba. Jantung berdetak kencang seluruh tubuhnya bergetar dan pikiran nya berkecamuk. Ia pun lalu mulai menjawab pertanyaan dari Sang Tuan Besar yang tak lain dia adalah ayah kandung nya.
"Nama saya Muhammad Laksa Ilham.. Umur 19 tahun yang mengurus ku hingga sekarang dewasa ayah Ilham dan Bunda Nuri..." Kata nya terdiam sesaat lalu melanjutkan lagi perkataannya.
"Kedua Orang Tua kandung ku, aku tak tahu siapa dan dimana keberadaan nya, tetapi Kakek ku bernama Ikhsan Permana Shidiq yang biasa orang orang memanggilnya Kiayi Sepuh, mengatakan bahwa Kedua Orang Tua ku orang yang paling hebat dan dunia berada dalam genggaman nya.." Terang Laksa.
__ADS_1
Bergetar saat itu bibir Harsya.. Hatinya berdetak sangat kencang... Hal serupa di rasakan oleh sahabat nya Riyan.. Ia pun merasakan apa yang di rasakan oleh Harsya.
"Fatimah.......... Apa yang di katakan oleh anak muda ini.. Apakah bener atau hanya untuk menyenangkan hati ku.. Jawab Fatimah.." Kata Harsya dengan nada yang sangat tinggi, amarah yang tertahan dia katakan kepada adik iparnya.
Wanita berusia 35 tahun itu tersenyum lalu berkata. "Iya Kak... Dia putra mu yang dulu masih dalam kandungan Kak Halimah, biar lebih jelas nya tunggu lah mereka yang sedang menuju kesini untuk menjelaskan semua nya kepada dirimu.."
"Pu.... Put..... Putraku................. Hiks.... Hiks..... Tangis Harsya mencoba untuk meregangkan kedua tangannya, Ia berharap Laksa mau memeluknya.
Hanya satu tetes air mata itu terjatuh dari kelopak mata Laksa.. Ia lalu memeluk ayah nya. Ia diam bukan tak rindu.. Ia tak mengatakan kata Ayah bukan tak mau bertemu dengan nya, tetapi ada satu alasan ia untuk mencoba tegar dan menahan air matanya.
Saat pertemuan antara Ayah dan anak itu berlangsung haru.. Tiba tiba satu keluarga yang sengaja di datangkan oleh Fatimah dengan memberi perintah kepada Dinda, datang dan kini berada di pintu masuk rumah Fatimah.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh." Ucap Dinda berdiri di depan rumah panggung milik Fatimah.
"Dinda ayo masuk..!
"Kang Ilham.... Bu Nuri dan dek Alena, ayo masuk ke dalam.." Titah Fatimah dengan mata yang memerah tanda air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Terima Kasih Nyonya Besar Fatimah.." Ucap Dinda dan anggukan dari Nuri serta Alena.. Sedangkan ayah angkat Laksa hanya berdiam diri diam membisu, pikiran nya berkecamuk.
Laksa bangkit dari duduknya dan melangkah lalu mencium manis tangan ibunya serta memeluknya, linangan air mata keluar tak tertahan lagi, bukan nya Ia cengeng tapi keaadaan lah yang memaksa nya untuk keluar dari kelopak matanya.
"Bunda........... Ayo kita duduk..." Serak suara Laksa..!
Hanya anggukan saja yang di balas oleh Nuri.. Ia menyadari bahwa Laksa sudah mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandungnya.
__ADS_1
Setelah sang Bunda duduk... Laksa pun lalu melangkah keluar tatapan nya tajam tapi bibirnya tersenyum manis ke arah lelaki setengah tua yang berdiri mematung di depan pintu.
"Bapak..... Ayo masuk... Maafkan Laksa Pak..." Ucap Laksa seraya mencium tangannya, seolah olah pikiran Laksa bahwa ayahnya sudah mengetahui akan terjadi seperti ini.
Tadinya Laksa bukan ingin seperti ini mempertemukan antara Ilham selaku orang yang telah mengurus nya dari bayi dengan Bibi Fatimah atau pun Ayah kandung nya yaitu Harsya Badzil Ismail Abdullah, tapi karna ini sudah di rencanakan oleh sang Bibi mau tak mau harus menuruti nya.
"Ayo Sa..... Tak usah meminta maaf segala, mungkin ini sudah takdir yang harus kamu jalani.." Jawab nya, lalu Ilham pun masuk dan membungkuk hormat kepada semua tamu yang ada di dalam ruangan rumah panggung Fatimah.
"Nyonya Besar Fatimah dan Tuan Tuan, salam kenal dari hamba dan keluarga hamba.." Ucap Ilham, lalu duduk di samping istri dan anaknya.
"Kang Ilham salam kenal kembali, dari saya dan keluarga. dan mohon maafkan hamba bila secara paksa menjemput anda beserta keluarga untuk datang kesini.." Kata Fatimah.
"Nyonya Besar, Anda terlalu sungkan, tak usah meminta maaf, justru ini adalah suatu kehormatan bagi hamba dan keluarga di jemput secara khusus untuk berkunjung dan bertemu dengan pemilik perusahaan terbesar se-Asia."
Apalah arti keluarga hamba yang jauh berbeda dengan anda, bagaikan langit dan bumi.." Ucap Ilham menunduk dan tak berani menengadah kan wajahnya kepada mereka.
"Kang Ilham terlalu merendah.."
"Kang Ilham dan Bu Nuri, perkenalkan ini adalah Tuan Besar Harsya, dia adalah kakak iparku dan yang di sampingnya adalah sahabat nya yaitu Tuan Riyan.!
Setelah Fatimah memperkenalkan Harsya dan Riyan kepada ayah angkat Laksa, seketika Ilham pun langsung merunduk dan memohon ampunan dari Tuan Besar Harsya.
"Tu..... Tua..... Tuan Besar.. Ampuni hamba dan Istri hamba..... Ampuni segala kesalahan hamba dan Istri ku."
Bersambung.
__ADS_1