Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Hadangan Mahluk ghaib


__ADS_3

Sementara di alam fana, tepat nya di salah satu bangunan berwarna putih, rentetan mobil mobil mewah berdatangan masuk menuju halaman parkir gedung bertuliskan rumah sakit rakyat itu.


Setelah menerima kabar dari Fatimah bahwa anaknya kondisi nya semakin parah, dan tak kunjung sadarkan diri, sang dokter di rumah sakit pun memberi kabar bahwa pasien yang bernama Muhammad Laksa Ilham dalam keaadaan koma.. Harsya pun bersama sahabat nya langsung datang menuju rumah sakit tersebut.


Dari mobil paling mewah seorang lelaki setengah tua turun bersamaan lelaki seumuran dari pintu sebelah kiri, para pengawal membungkuk hormat kepada mereka berdua yang turun dari mobil Lamborghini Sian itu.


Raut muka pucat, hati nya gelisah, dan pikirannya berkecamuk, menanti harapan yang sudah belasan tahun Ia capai untuk bertemu dengan anaknya, ternyata takdir mempermainkan lelaki yang mempunyai kedudukan penting di perusahan atau pun Organisasi Macan Putih itu.


"Ayo kita masuk Riyan.. Yang lain nya tunggu dan berjaga jaga.." Kata Harsya setelah sampai di ruangan VIP.


"Yaa..


Angguk sahabat nya itu, lalu pintu pun di buka. Tampak beberapa orang terlihat lemas dan pasrah ketika dua lelaki itu masuk..!


"Kak.. Harsya. Kak Riyan..." Sapa wanita berusia 35 tahun itu berjalan kearah Harsya dan langsung memeluk nya dengan balutan air mata.


"Kak....... La.... Lak... Laksa....... Dia masih betah di tempat tidurnya..." Lirih Fatimah dengan suara terbata bata.


Harsya hanya bisa mengelus ngelus punggung Fatimah iba. Walau pun diri nya juga melebihi rasa khawatir lebih dari pada adiknya itu.. Namun Ia berusaha tegar dan tak menunjukkan nya di hadapan semua orang.


"Kamu tenang saja. Anak itu tak mungkin tidur selama nya. Dia sedang berjuang di alam itu untuk membebaskan dirinya dari dua alam dimensi yang di luar jangkauan kita. Sebaiknya kita di sini berdoa untuk membantu dia kembali lagi ke dunia ini.." Terang Harsya lalu melepaskan pelukan nya itu.


Langkah kaki nya perlahan lahan menuju ranjang di mana anak nya itu terbaring tak berdaya dan diam membisu. Harsya menunduk lalu mencium kening nya. Setelah itu dia berbisik kearah telinga nya. Entah kata apa yang di ucapkan oleh Harsya kepada Laksa hingga, tubuh pemuda berusia 19 tahun itu mengejang tak beraturan.


Fatimah dan Riyan, serta yang ada di ruangan itu tersentak kaget, melihat pemuda yang terbaring di ranjang tiba tiba bergerak liar, namun kedua matanya masih terpejam.


Alat pendeteksi jantung mulai bergerak cepat, tanda pemuda itu akan sadar dari tidur panjang nya. Sang Dokter masuk setelah di beritahu, untuk memeriksa keadaan nya. Harsya, Fatimah dan Riyan serta Kedua Orang Tua angkat Laksa, harap harap cemas.


*********


Sementara keaadaan Laksa yang sedang berada di alam tak kasat mata, Ia berusaha untuk terbebas dari serangan mahluk hitam berbulu lebat dan bertaring tajam itu.

__ADS_1


"Wuzzzzzzzzzzz.!!


Lagi dan lagi Mahluk itu menggunakan ilmu menghilang nya, sehingga tinjuan dari atas yang di arahkan oleh Laksa pada ubun ubun nya hanya mengenai tatapan kosong.


"Anjir si buruk rupa menghilang lagi.." Keluh Laksa namun Ia siap siaga mencari aura dari mahluk itu yang kemungkinan akan menyerang nya secara tiba tiba lagi..!


"Cucu ku.. Pakai hati dan kecerdasan mu, melawan mahluk itu.." Kata suara tak berwujud lagi.


"Uhk.... Aki aki peot bisa nya memerintah tanpa membantu.." Gumam Laksa dalam hati sambil menggerutu kepada suara tanpa wujud itu.


"Hahahahaha... Dasar Cucu tak punya akhlak. Bisa nya hanya mengumpat, mana kesombongan mu yang pernah kau tunjukkan kepada kakek..." Kata sang Kakek tak berwujud itu.


"Hehehehe... Lihat lah dengan kedua mata Kakek peot..." Teriak Laksa lalu..........


"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...........!!


Laksa langsung melompat kearah samping dan landasan kaki nya mengenai makhluk berbulu lebat itu.


"Bughh............................!


Sepakan keras pun tepat mengenai dada makhluk yang mirip seperti Genderuwo itu... Melihat makhluk itu sudah terpental beberapa meter.. Laksa tak tinggal diam langsung memberikan pukulan membabi buta hingga, makhluk itu bener bener tersudut dan mencoba untuk menjauh beberapa langkah.


"Kakek... Lihatlah.... Lihatlah, aku akan menghancurkan makhluk jelek rupa dan bau lagi, hari ini juga.." Teriak nya. Lalu sesaat wajahnya tertunduk hati dan pikiran di jadikan satu untuk mengeluarkan sebuah senjata pusaka yang di beri oleh Kiayi Geni Ulim pemilik Padepokan Cimande itu.


Kilatan kilatan petir seketika tampak terlihat menjalar di atas Gunung itu, gemuruh pun terdengar saling bersahutan satu sama lain. Tangan kananya menjulur ke atas, tiba tiba sang petir pun langsung menyambar kearah tangan Laksa yang di ulurkan ke atas.


"Duarrr.........................!


Ledakan dahsyat di area pemuda itu berdiri hingga seluruh tubuhnya tertutup kabut awan hitam. Makhluk buruk rupa itu langsung melompat kearah kabut awan untuk melancarkan serangan di saat pemuda itu terkena ledakan guntur yang amat dahsyat..!


"Blezzzzzzzzz...........!

__ADS_1


"Sreetttttt..................!


"Gerkhhhhhhhhhhhhhhhhhh..!


Tebusan Pusaka Pedang Setan Kober, menusuk jantung makhluk itu, oleh pemuda itu, prasangka sang mahluk itu pemuda itu terkena ledakan guntur dahsyat dan mengira pemuda itu sudah tumbang tapi nyatanya, guntur itu tanda datangnya Pusaka Warisan dari Sang Kiayi pemilik Padepokan Cimande.


"Cuih... Mahluk lemah, ingin melawan ku, mustahil....." Kata Laksa mencabut pedangnya itu dan langsung berjalan keluar dari kabut hitam itu.


"Kakek... Keluar lah.. Ujian pertama yang kau berikan sudah selesai.." Teriak Laksa...!


Angin semilir datang tiba tiba, menusuk seluruh tubuh Muhammad Laksa Ilham. Tak lama setelah angin itu di rasakan, bayangan putih memakai surban hijau dan berjenggot panjang namun tipis, hadir di hadapannya pemuda tersebut.


"Assalamualaikum..!


"Cucu ku..." Ucap Sang Kakek yang kini ada di hadapan Laksa.


"WaallAikum Salam Kek......." Laksa langsung mencium tangan nya.


"Ayo kita berangkat, semua pertanyaan mu simpan dulu, ada yang lebih penting dari sebuah pertanyaan beruntun yang ada dalam hati mu.." Ujar sang Kakek.


Laksa hanya bisa mengangguk, kali ini pertemuan dengan Sang Kakek bukan untuk bercanda. Mungkin ada yang lebih penting dari sebuah ganjalan hati pemuda itu.


"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.....


Sang angin pun langsung membawa Laksa dan Kiayi Sepuh terbang ke atas meninggalkan area Gunung Gede daerah Cianjur.


###########


Hampir sepuluh menit berlalu gerakan liar tubuh pemuda yang sedang terbaring itu akhir nya terhenti juga, sesaat para dokter datang dan menyuntikkan beberapa obat pada area titik titik tertentu.


"Dokter bagaimana keaadaan keponakan ku.?" Fatimah bertanya kepada sang Dokter yang tampak terlihat keluh kesah dan berkeringat di kening nya.

__ADS_1


"Kondisi semakin membaik.. Kita tunggu beberapa Dokter ahli untuk merangsang saraf dan aliran lain agar yang lain nya berada di dalam tubuh pasien bisa menyapa satu sama lain." Jawab Sang Dokter.


Bersambung


__ADS_2