
"Drett.......................!!
"Drett........................!!
"Drett.........................!!
"Tuan Muda, kami berempat sudah berada di lokasi, dan ada anak kecil berusia enam tahun sedang menunggu anda.." Pesan dari empat Srikandi sudah di baca oleh Laksa.
"Itu keponakan ku, segera bawa masuk kedalam mobil, dan yang lain cari Paman Asep.." balas Laksa melalui aplikasi pesan wasttap.
"Baik Tuan Muda.." Pesan pun terkirim.
Hatinya begitu gelisah tak biasanya Paman nya itu meninggalkan anaknya seorang diri, sebenarnya ada apa yang terjadi kepada adik dari Bunda.!
"Paman Supir kira kira berapa menit lagi sampai ke lokasi..?" Laksa bertanya dengan pikiran yang sangat bimbang dan raut muka yang kusut.
"Menjawab anda Tuan Muda. "Sepuluh menit lagi kita sampai.
"Uhk... Semoga Paman Asep tidak kenapa kenapa." Kata Laksa pelan.." Amanda yang menyadari pemuda di samping nya itu sangat gelisah, hanya bisa menenangkan nya dengan memegang tangan Laksa.
"Amanda, kamu nanti jangan sampai ikut keluar ya, tunggu di mobil, jangan kemana mana, walau bagaimana pun aku menghawatirkan keselamatan mu.." Pesan Laksa kepada gadis cantik yang duduk di samping nya itu.
Amanda hanya mengangguk pelan.!
################
Empat Srikandi masuk kedalam vila mewah itu, menyelinap bagaikan Ninja Ninja yang sudah terlatih. Tampak dua orang keluar dari kamar dengan exfresi raut wajah yang kecewa.
Dewi satu memberikan perintah kepada ketiga Dewi lain nya untuk membuntuti kedua lelaki yang baru saja keluar, sedangkan yang ada di dalam kamar sisa nya bagian urusan Dewi satu.
Anggukan yang di berikan oleh ketiga Srikandi itu, tanda setuju atas perintah dari Dewi satu.
Setelah mereka berpisah dan menerima tugas masing masing dari sang Ketua. Dewi satu pun langsung turun bagaikan kapas melayang tepat di samping pintu kamar, dimana Bu kulsum yang sedang di berikan penawaran khusus satu syarat oleh anak buah Tuan Bruno.
Dewi satu masih memperhatikan suasana dan kondisi di dalam kamar dengan bersembunyi di balik tembok kamar itu serta mendengarkan percakapan mereka dengan wanita yang di jadikan tameng untuk kepentingan nya mereka. Namun selang beberapa menit kemudian, ketika wanita itu di paksa untuk menjawab syarat yang di berikan oleh Diki dan tak kunjung di jawab juga, lelaki itu pun hilang kendali nya dan langsung menyiksa wanita tersebut.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup puas menyiksa wanita itu, Teriakan menggema dari Diki yang akan menghunuskan pisau kepada seorang lelaki yang tergeletak tak berdaya.
Dewi satu yang mendengarkan teriakan lelaki itu adalah Paman nya Tuan Muda. Dia pun langsung bergerak dan mengeluarkan senjata andalan nya berupa pisau belati untuk di lemparkan kearah pisau yang saat itu akan di hunjamkan kearah perut Asep Sukardi.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.........!
Lemparan pisau belati oleh Dewi satu pun tepat mengenai pisau yang di arahkan oleh Diki ke bagian perut Asep Sukardi.
"Pletakk......................!
Suara benturan keras terdengar oleh Diki dan Andri begitu juga Sueb, ketika dua perpaduan pisau saling beradu.
Ketiga lelaki itu Diki dan Andri serta Sueb langsung menoleh kearah pintu keluar kamar dan tampak sosok wanita muda berusia 22 tahun memakai kerudung hitam dan penutup wajah berdiri di samping telah siap untuk menyerang mereka bertiga.
Sorot mata tajam Diki menatap kearah Dewi satu dengan tatapan dan senyuman sinis..
"Hahahahaha.. Hahahahaha.." Ada satu orang lagi yang mengantarkan nyawanya.." Diki bangkit dari jongkok nya dan melangkah kearah Dewi satu.
"Stop brother Diki, wanita muda ini bagian kita. Kamu sebaiknya selesaikan urusan mu bersama wanita yang lebih tua hihihii.." Andri mencegah Diki untuk mendekati Dewi satu yang datang menyelamatkan Asep.
"Urus saja yang kalian mau. Aku mau nonton saja ahk, sudah tak **** lagi.." Diki lalu melangkah dan duduk di samping Siti Kulsum sambil tersenyum jahat.
"Hahahaha... Baik, baiklah....." Jawab Andri tertawa lepas.
Melawan seorang wanita seperti ini, cukup aku seorang diri saja. Kau bersama Diki sebaiknya duduk dan perhatikan baik baik bagaimana aku bisa membuat wanita di hadapannya ini bertekuk lutut.." Sueb berkata dengan jumawa dan langsung melangkah dengan cepat kearah Dewi satu.
Hal serupa di lakukan oleh Sueb seperti Diki hanya mengibaskan tangannya kearah Asep hingga terpental jauh, tapi kini kibasan dari Sueb tak berarti bagi Dewi satu.
"Hmmmmm Wanita itu tidak bisa di anggap remeh.." Batin Sueb berkata, sedangkan mereka berdua Diki dan Andri yang duduk asyik mulai memperhatikan gerakan gerakan yang di lancarkan oleh Sueb kepada wanita yang menjadi lawannya.
Pertarungan sengit itu lumayan cukup alot di mana Dewi satu mampu mengimbangi setiap pukulan pukulan yang di arahkan oleh Sueb..
"Sueb, dia dari Padepokan Cimande.." Teriak Andri.
"Yaa. Aku tahu, ini wanita lumayan merepotkan juga.." Balas Sueb seraya menahan setiap pukulan yang di arahkan oleh Dewi satu.
__ADS_1
Ditengah perkelahian yang seru, tiba tiba dia berhenti menyerang dan berucap.
"Aku akui kamu memang tangguh dan kuat. Dik cantik sebaiknya kau menyerah, percuma kamu melawan juga tak akan menang melawan kita bertiga. Yang ada kau akan mati membawa malu Padepokan mu itu.."
"Terima Kasih atas tawaran mu, tapi langkah sudah di langkahkan, aku tak akan mundur.." Dewi satu berkata seraya memusatkan tenaga dalam nya dan langsung menyerang dengan kekuatan penuh.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...!
"Takk......!
"Takk......!
Serangan yang di lancarkan oleh Dewi satu mampu membuat Sueb terpojok dan kesempatan itu tak di sia sia kan oleh Dewi satu, untuk melancarkan jurus pamungkasnya.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzz..!
"Krakk......................!
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.!
"Krakk............................!
Dewi satu langsung seketika mundur, sesaat dua cakaran jurus andalan nya itu mengenai wajah lawannya. Tampak guratan guratan akibat cakaran dari Dewi satu terlihat dengan diiringi noda darah yang mengalir.
"Sialan kau.." Geram Sueb seraya menyentuh bekas cakaran itu, amarahnya sudah tak bisa di bendung lagi, hal serupa di lakukan oleh Diki dan Andri yang tadi pokus menonton kini akan ikut ambil bagian untuk menyerang wanita dari Padepokan Cimande itu.
"Sial aura membunuh nya sangat kuat, aku tak akan mampu melawan seorang diri bila mereka bertiga bergabung untuk melawanku.." Ucap hati Dewi satu.
Ketiga nya langsung melompat kearah Dewi satu secara bersamaan, Sueb dan Andri melancarkan tendangan serta pukulan dari arah depan dan samping, namun bisa di tangkis oleh Dewi satu.
"Sial.. Kibasan tangan penuh energi di arahkan dari belakang dan langsung mengenai punggung Dewi satu.!
"Uhkkkk............ Darah segar langsung muncrat dari mulut Dewi satu, setelah Kibasan tenaga dalam Diki mampu menembus punggung wanita berkerudung hitam itu, sang murid inti padepokan Cimande.
Sueb kurasa belum puas dan hati yang di selimuti oleh dendam membara, akibat terkena cakaran di wajahnya itu. Langsung menghujamkan pukulan secara membabi buta kearah perut Dewi satu yang saat itu baru saja menerima kibasan dari Diki.
__ADS_1
Bersambung.