
Adzan Magrib baru saja berkumandang sekitar lima menit yang lalu, tampak seorang pemuda sedang melaksanakan kewajiban seorang muslim yang taat.
Setelah selesai dengan aktivitas nya, pemuda itu pun langsung beranjak pergi dari tempat sholat nya dan melangkah menuju seorang gadis yang duduk di kursi diam tak banyak bersuara dari tadi pagi.
Pikir pemuda itu, Alena merasa tertekan hati dan pikirannya akibat pergi nya Amanda, karna tanpa di pikir ulang terlebih dahulu dia bertanya masalah privasi Amanda tentang isi hati nya pada Kakak nya itu.
Sesampainya di kursi, pemuda tampan rupawan itu langsung duduk dan memegang kedua tangan gadis berusia 16 tahun itu penuh kasih sayang.
"Apakah kamu merasa bersalah dengan pergi nya Kak Amanda..?" Apakah kamu akan terus menerus bersalah dengan apa yang tadi kamu tanyakan pada Kak Amanda.." Laksa mencoba untuk bernegosiasi dengan Alena, yang sedari tadi tatapan matanya menatap tajam ke depan.
Gadis itu sesaat menoleh kearah pemuda yang kini tahu bahwa pemuda itu bukan Kakak kandung nya, tersenyum manis.
"Kak........... Apakah aku salah dengan pertanyaan ku pada Kak Amanda..." Air mata nya jatuh dengan sendirinya.
Harsya dan Kedua Orang Tua Alena beserta Fatimah itu menatap nanar pada mereka berdua, Ia tak mau ikut nimbrung dalam obrolan antara Laksa yang sedang berusaha bernegosiasi dengan apa yang di alami oleh adiknya Alena.
"Kamu tidak salah.. Sama sekali tidak salah, justru Kakak mengacungi jempol untuk mu, karna di balik sebuah pertanyaan yang kau berikan pada Kak Amanda, tersimpul perhatian pada Kakak.." Terang Laksa.
"Nah itu Kak.. Pikiran Alena takut kakak di sakiti seperti waktu itu oleh kak Dinda, Kakak di tampar oleh Tuan Besar Syamsul dan Istri nya." Jelas Alena memberi tahukan isi hatinya pada Laksa.
Senyum manis di berikan oleh Laksa pada Alena seraya mengusap usap rambutnya, di kejauhan tampak lelaki setengah tua menahan amarahnya, apa yang baru saja di dengar oleh telinga nya itu.
Laksa menyadari, bahwa lelaki itu sedang menahan amarahnya, Ia bangkit dari duduk nya, seraya menarik Alena untuk ikut berdiri berjalan kehadapan lelaki setengah tua.
__ADS_1
"Ayah itu sudah lama, dan Laksa sama bibi Fatimah juga udah memaafkan kekhilafan yang di lakukan oleh Paman Syamsul dan Istri nya.." Terang Laksa untuk meredakan emosi dari Harsya.
"Iya Kak Harsya, saat itu mereka berdua belum mengetahui jati diri Laksa, dan tak mau anak satu satunya itu berhubungan dengan seorang pemuda miskin." Fatimah mencoba menjelaskan tragedi di saat Laksa di tampar oleh kedua bawahan nya, dari A sampai Z.
"Hmmmmmmmmm''....! Aku tak menyangka bahwa Syamsul dan Istri nya akan melakukan hal yang keji begitu, padahal dia itu di angkat dari kubangan lumpur oleh ku, tapi bagus lah kalau mereka sudah sadar dan kembali lagi ke pitrah.." Ujar Harsya dan anggukan mereka secara bersamaan.
"Iya semua telah berlalu dan kini yang sangat di sayangkan oleh ku dan mungkin Laksa juga sependapat dengan pemikiran ku, kini anak dari Syamsul menjauh dari Laksa, apalagi saat ini Laksa masuk rumah sakit juga Dinda belum pernah datang untuk menjenguk." Keluh Fatimah.
"Biarkan saja Bibi, gak usah di ambil pusing, saat ini mending lebih pokus ke depannya untuk mengembalikan kejayaan perusahaan milik ayah dan Organisasi milik Kakek, itu menjadi tugas Laksa dan Laksa juga untuk urusan wanita tak mau ambil da akan di kesampingkan terlebih dahulu.." Laksa acuh bila obrolan tentang masalah wanita.
"Anakku, apakah kau yakin dengan ucapan mu itu, setahu aku cerita dari pak Ilham dan Bu Nuri kau selalu cerewet bahwa kau jomblo, tak punya pacar hehehehe..." Kata Harsya seraya terkekeh.
"Uhk......" Dengus Laksa.!
"Ahk....... Bunda..... Bukan Laksa merajuk, namun memang Laksa gak pokus pada seorang makhluk yang lemah gemulai itu. Dan sang lelaki akan rela berkorban nyawa nya, untuk makhluk tersebut..." Kata Laksa jelas memberikan alasan yang masuk akal agar di terima oleh mereka yang sedang memprovokasi diri sendiri.
"Huh, alasan aja kak Laksa..." Bantah Alena, dengan senyuman manis.
"Bukan alasan Alena, namun saat ini Kakak kedepan nya emang akan pokus dulu pada inti tugas yang di berikan oleh Kakek Sepuh yang selalu hadir dalam mimpi Kakak.." Tegas Laksa.
"Iya iya iya.... Terserah Kakak aja, yang penting Kakak bahagia..." Alena berusaha menyudahi perdebatan dengan sang Kakak yang notabene nya tak mau mengalah.
"Hihihihihi......" Laksa cekikikan melihat exfresi wajah Adik nya yang tak pernah menang kalau urusan perdebatan di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Nyengir kaya kuda Nil.." Ledek Fatimah."
"Biarin wey, dari pada bibi cemberut dan bibir nya monyong kaya Tutut sawah yang siap di masak dengan memakai bumbu dapur..." Laksa membalas ledekan dari sang bibi.
Sipat jahil dan tengilnya datang lagi di hati Laksa hingga Fatimah pun kesal, lalu Ia membawa banyak yang tak jauh dari tempat Ia berdiri.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz.."
Fatimah melempar bantal empuk pada Laksa, namun sekilas Laksa langsung bergerak cepat dan kini berada di belakang Fatimah.
Semua di buat terheran dan takjub akan kecepatan insting ultra yang di miliki oleh Laksa,"
"Sa........ Kau semakin hebat..?" Tanya Fatimah seraya membalikkan badannya.
"Nggak tahu aku juga bibi.. Sekilas aja ultra yang ada di tubuh ku merespon ketika sesuatu hal yang akan terjadi pada tubuh ku, langsung menghindar dan berada di belakang orang yang akan menyerang.." Apa ada nya yang di rasakan oleh Laksa di ucapkan pada Fatimah serta yang ada di ruangan VIP itu.
"Muhammad Laksa Ilham, bisa kah ceritakan pada ayah dan yang hadir di ruangan ini, sesaat kamu terbaring di ranjang dan di nyatakan koma, kemana selama ini roh mu di bawa..?" Tanya Harsya penasaran dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Iya ponakan ku, bisa kah kau ceritakan.." Fatimah pun ikut berkata sementara yang lain nya hanya menatap tak berkedip namun isyarat di wajah mereka menandakan ingin mengetahui apa yang terjadi pada diri Laksa ketika sedang koma.
"Baiklah bibi, Baiklah ayah.. Laksa akan ceritakan pada kalian semua.." Muhammad Laksa Ilham langsung melangkah menuju kursi di ikuti oleh mereka.
Perjalanan Laksa terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien sudah di post di episode sebelumnya belum nya, jadi author tak perlu di bahas membahas lagi tentang Laksa yang mati suri.
__ADS_1
Bersambung.