Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Cerita Ilham dan Nuri


__ADS_3

Harsya hanya diam, membisu, kedua matanya masih meneteskan air mata, rasa gundah gulana semalam kini terjawab sudah dengan di pertemukan nya sang anak yang masih dalam kandungan Istri yang hilang sembilan belas tahun yang lalu.


Harsya masih duduk dan di bawahnya seorang lelaki berusia empat puluh tahunan itu masih memohon ampunan atas ulah kesalahan yang sebenarnya Harsya tidak mengetahui nya.


"Kang Ilham duduk lah, tak usah lah anda bersujud kepada saya, kesalahan apa yang telah di perbuat oleh anda serta istri anda, cobalah jelaskan kepada saya.." Ucap Harsya seraya mengangkat Ilham dan duduk bersama dirinya.


Fatimah dan Laksa begitu juga Riyan dan Dinda hanya diam, menunggu penjelasan yang akan di katakan oleh Ilham, walaupun Fatimah sedikit sudah mengetahui dari sang ayah yaitu Kiayi Sepuh yang datang pada mimpi nya malam itu.


...................................... Malam itu pukul 00:45 saya bersama istri sedang memulung barang rongsokan di tempat sampah di daerah ibu kota seketika mendengar tangis seorang bayi yang masih ada Ari Ari serta darah dalam seluruh tubuhnya.


Saya waktu itu bersama istri sungguh sangat bahagia dan senang ketika bayi yang di temukan dalam tumpukan sampah itu tampak sehat, tanpa di pikir panjang lagi bayi itu langsung di bawa ke rumah yang ada di kolong jembatan tempat saya dan istri beserta kakek angkat Laksa tinggal.


Singkat cerita setelah menemukan bayi itu yang kini bernama Muhammad Laksa Ilham, seminggu kemudian dua wanita kembar datang menemui istriku yang sedang memberi makan Laksa... Sedangkan saat itu posisi saya sedang dalam kondisi memulung barang rongsokan.


"Iya Tuan Besar Harsya dua wanita kembar itu memperkenalkan dirinya bernama Bu Inah dan Bu Ineh.." Kata Nuri ikut bercerita..


"Terus setelah kedua pembantu memperkenalkan dirinya apa yang terjadi, kenapa kedua wanita kembar itu tidak membawa anak dari Istri ku... Tolong jelaskan kepada saya.." Pinta Harsya.


"Menjawab anda Tuan Besar.!

__ADS_1


Kedua wanita yang memperkenalkan dirinya Inah dan Ineh, berpesan kepada hamba bahwa dia ingin bertemu dengan suami hamba dan menjelaskan asal usul tentang bayi yang di temukan di tempat pembuangan sampah..


Malam itu di hadapan suami hamba dan Kakek, Bu Inah dan Ineh menyuruhku sekeluarga untuk segera meninggalkan kota Jakarta dan kembali ke kampung halaman serta berpesan kepada ku, tolong rahasiakan identitas bayi ini dan anggaplah bayi ini sebagai anak hamba.


"Tuan Besar Harsya dan Nyonya Besar Fatimah.. Inah dan Ineh berkata, nanti pada masa dimana Muhammad Laksa Ilham akan tahu dengan sendirinya bahwa dirinya bukan anak kandung hamba. Dan ini juga permintaan dari Ibunda dari Laksa bahwa identitas nya jangan sampai Tuan Besar Harsya beserta kerabatnya mengetahui sampai Laksa berusia sembilan belas tahun. Seandainya Tuan Besar maupun para pengawal atau pun kerabat anda mengetahui bahwa Laksa adalah anak kandung anda sebelum usia tersebut, maka hamba dan keluarga akan di salahkan oleh Nyonya Besar Halimah yang tak lain Ibu kandung Laksa.


Harsya hanya menunduk dengan balutan air mata yang mengalir deras menyusuri pipi yang tampak masih terlihat tampan di usia yang menginjak empat puluh tahun itu, setelah mendengar penjelasan dari Ilham yang mengurus anak yang telah hilang beberapa tahun itu.


"Kang Ilham Bu Nuri, setelah anda pindah dari kota Jakarta dan menetap di kota Sukabumi, apakah Inah dan Ineh sempat datang lagi menemui kalian..?" Tanya Harsya kepada mereka berdua, tujuan nya bertanya itu untuk mengetahui apakah ibu dari anak nya masih hidup atau sudah mati.


Ilham terdiam sesaat pikiran nya menerawang jauh ke masa dimana Ia menempati rumah kontrakan yang tadinya milik Orang lain, lalu beberapa tahun kemudian Tuan Besar Syamsul membelinya.


"Pak Ilham.... Nanti bila Tuan Muda Laksa sudah berusia 19 tahun lebih tolong berikan kotak kayu ini, untuk mengetahui siapa dirinya dan dari mana asalnya, akan tetapi bila Tuan Muda Laksa, tidak ingin mengetahui siapa dirinya, simpan lah baik baik kotak kayu ini dan tuntun lah dia di jalan kehidupan yang tanpa beban.." Ucap Inah dan anggukan kepala dari wanita bercadar hitam itu.


"Tuan Besar Harsya dan Nyonya Besar Fatimah, pertemuan malam itu bersama Bu Inah dan Ineh serta wanita bercadar, adalah pertemuan terakhir bagi saya dan sampai sekarang posisinya entah dimana keberadaan nya.!


"Itu..... Itu wanita bercadar itu.... Jelas adalah Halimah istrinya..... Ohk...... Tuhan istriku masih hidup..... Aku yakin istri ku masih hidup...." Teriak Harsya dengan insting dan pikirannya.


"Brow......... Bila Istri mu masih hidup kenapa dia tak kembali ke hadapan mu, kenapa saat Kiayi Sepuh meninggal doa tidak datang.." Kata Riyan, bukan berarti dirinya meragukan insting sahabatnya. Akan tetapi setahu dirinya Halimah adalah orang yang dekat bersama Kedua Orang Tua nya dan sangat mencintai Harsya, mustahil dia tidak mengetahui kabar kematian ayahnya.

__ADS_1


Harsya seketika tertunduk lagi, harapan nya memudar.. Apa yang di jelaskan oleh Riyan masuk akal.. Kalau bener istrinya masih hidup kenapa dia tak kembali, dan kenapa dia tak menemui di saat sang Ayah meninggal.


"Tuan Besar..... Ini pemberian dari wanita bercadar sembilan belas tahun yang lalu.." Ucap Nuri lalu menyerahkan sebuah kota kecil dari kayu..!


Harsya menerima nya dengan tangan gemetar, lalu perlahan Ia membuka nya, tampak sebuah Poto dirinya yang sedang memeluk istrinya dan sebuah kalung liontin serta sepucuk surat.


"Teruntuk Anakku yang ibu buang di tempat pembuangan sampah.


Muhammad Laksa Ilham, mungkin sekarang usia mu sudah menginjak 19 tahun dan wajah mu mungkin persis seperti seorang ibu Nak.


Anakku Muhammad Laksa Ilham, mungkin ketika kamu membaca tulisan ini, kamu akan membenci ibu ya, karna ibu telah membuang mu di tempat pembuangan sampah. Maaf ya anakku ibu terpaksa.


Anakku perlu kamu tahu kenapa ibu membuang mu dan tak mau mengurus mu, itu semua demi keselamatan mu agar tak di buru oleh musuh ayah mu, untuk menghentikan garis keturunan sang perusahaan terbesar se-Asia.


"Bayi kecilku Muhammad Laksa Ilham, Maafkan Ibu ya, bila kau tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua mu, karna dengan kamu di buang dan di temukan oleh sepasang suami istri yang sekarang merawat mu, kamu bisa hidup normal dan tanpa ada bayang bayang pertumpahan darah dari musuh ayah dan Kakek mu.


Anakku setelah kamu membaca tulisan ini, kamu sudah mengetahui bahwa kedua Ayah mu adalah orang besar yang mempunyai dunia dalam genggaman nya. Tetapi sebelum kamu bertemu dengan Ayah mu, coba lah temui terlebih dahulu bibi kamu yang tak lain adalah adik ibu yang bernama Fatimah.


Semua rahasia tentang diri mu dan ibu serta kakek dan Ayah mu ada di dalam cerita kehidupan bibi Fatimah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2