
"U....... Uw............ Uwa............." Teriak seorang gadis muda berlarian memanggil manggil seseorang yang mungkin kerabatnya bagi gadis itu.
"Tok...... " Tok......."
"Uwa...... Buka pintunya... Uwa......." Gadis itu kembali berteriak seraya mengetuk pintu dengan tergesa gesa, entah apa yang ada di pikiran nya saat ini, hingga seluruh tubuhnya berkecamuk dan penuh rasa khawatir.
"Ceklek........!
Pintu terbuka, seorang lelaki muda berusia 20 tahun membuka nya, Gadis itu yang sedari tadi berteriak memanggil pemilik rumah sederhana itu, langsung masuk tanpa menunggu kata persetujuan terlebih dahulu dari lelaki muda itu.
"Ehk......... Main nyelonong masuk aja nie bocil.. " Keluh pemuda itu.
"Wa. Omah ada di dapur lagi masak.. Kamu ngapain sih teriak teriak..?" Tanya Pemuda itu.
"Gak ada urusannya sama kamu.." Dingin gadis itu berlalu menuju arah dapur, meninggalkan pemuda yang tampak terlihat kesal di buat nya.
Sesampainya di dapur, apa yang di katakan pemuda itu bener wanita setengah tua yang masih anggun dan cantik, serta tak terlihat keriput di wajahnya bahwa dia sudah berusia 39 tahun, tampak terlihat sedang memasak bersama wanita paruh baya yang setahu gadis itu pemilik rumah ini.
"Nda... Ada apa kamu teriak teriak memanggil Uwa.. Bukan Uwa tak dengar tapi kamu lihat sendiri kan Uwa sama Nenek Tuti lagi sibuk makan.." Terang Wanita yang di panggil Omah itu menerangkan.
"Hehehehe.... Ini Uwa ada sesuatu yang sangat penting dan setelah Nda. Memperlihatkan nya, Pasti akan tertarik.." Gadis itu melangkah dan duduk di samping wanita setengah tua itu.
"Ada seorang pemuda yang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit rakyat, dan pemuda itu yang membantu biaya operasi ibuku begitu mirip dengan Wa Omah.." Kata Gadis itu pelan.. Hingga wanita setengah tua itu yang sedang mengiris bawang merah langsung terhenti dan menoleh kearah gadis tersebut.
"Bukan seorang pemuda saja yang sangat familiar dengan wajah Wa Omah.. Tapi di samping pemuda itu orang orang yang sangat berarti bagi Wa Omah tampak begitu dekat dengan pemuda itu.." Kata lagi gadis itu memberi tahukan.
Wanita setengah tua langsung menghentikan aktivitas nya. Nek... Omah pergi dulu ada hal penting bersama Amanda untuk di obrolkan berdua, tentang masa lalu aku.." Kata wanita setengah tua itu minta izin kepada Nenek Tuti.
__ADS_1
"Iya.. Emang sudah waktu nya tiba.." Panggil lah mereka berempat dan secara senyap senyap lah dalam bertindak.." Titah Nenek Tuti seolah olah dia mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya kehidupan Wa Omah yang sudah hampir 19 tahun Ia tinggal bersama dan Cucu nya itu.
"Iyaa.. Nek Omah ngerti.." Angguk nya.. Lalu beranjak keluar dari dapur bersama Amanda.
"Jang Endi, bantuin Nenek mu masak.. Uwa ada hal penting yang harus di urus bersama Amanda.. Ingat kamu jangan kemana mana.." Pesan Wanita setengah tua kepada lelaki yang sedang duduk di kursi tamu.
"Iya Uwa.." Balas anak muda berusia 20 tahun itu singkat.
Dua wanita yang selisih usia 20 tahun itu keluar dari rumah mungil di perkampungan yang tak jauh dari pantai ujung genteng berjalan menyusuri jalan perdesaan tanpa ada rasa lelah sedikitpun di hati mereka berdua.
Hampir lima belas menit lama nya, mereka pun kini tiba di salah satu rumah yang begitu tampak indah terlihat dari kejauhan dengan berbentuk rumah panggung dengan halaman rumah di tumbuhi bunga bunga bermekaran.
"Nyonya Besar............" Gumam seorang lelaki Tua berusia 55 tahun, sedang duduk di kursi teras rumah melihat dua wanita datang berkunjung ke rumah nya.
Lelaki tua itu langsung beranjak dari kursinya dan turun dari rumah panggung itu, berjalan tergesa gesa menghampiri dua wanita yang sama berjalan kearah nya.''
"Ucok..... Suruh anak mu untuk memberi tahukan Beni bersama istrinya untuk segera ke sini ada sesuatu hal penting yang perlu kita bahas.." Wanita setengah tua itu setelah sampai langsung memberi perintah kepada lelaki pemilik rumah panggung itu.
"Iya.....!
"Amanda ayo kita masuk.." Ajak Omah kepada gadis tetangga nya itu.
"Baik. Wa Omah.." Balas singkat Amanda.!
Tak lama kemudian setelah Omah dan Amanda menunggu Ucok yang sedang menjemput Beni serta istrinya selama dua puluh menit.. Mereka pun tiba dan kini sudah berkumpul di ruangan tamu.
Tampak di ruangan tamu sederhana itu, Ucok dan Beni yang dulu menjadi Jantung nya perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY sudah duduk dengan tatapan serius kearah gadis yang bernama Amanda itu, karna sebelum nya sudah di beritahu oleh Omah bahwa apa yang di cari oleh gadis itu sudah ketemu dan saat ini sedang dalam kondisi menegangkan.
__ADS_1
"Amanda terangkan saat ini di hadapan Uwa dan mereka berempat.." Pinta Omah. Untuk memulai percakapan pertamanya.
"Singkat saja ya Uwa, Nda menjelaskan nya.."
Omah mengangguk pelan dengan tatapan penuh arti."
###########
"Malam itu, Muhammad Laksa Ilham.. Nama pemuda yang hampir seluruh wajahnya mirip dengan Tuan Besar Harsya dan Wajah Wa Omah."
"Berhenti.." Sela Ucok dan lima tatapan mata mereka kearah gadis itu, menyela ucapan nya.
Amanda pun langsung diam tak meneruskan perkataannya.
"Kamu bilang Tuan Besar Harsya.." Kata Ucok.
"Iya.. Kakek Ucok.. Bukan Tuan Besar Harsya aja. Tuan Besar Riyan dan Nyonya Fatimah pun ada dalam lingkup pemuda tampan rupawan berjenggot tipis, itu.." Terang Amanda santai tanpa beban menjelaskan semua pertemuan dari awal dengan Laksa sampai Ia di bawa kesebuah Vila untuk menyelamatkan Paman nya, Hingga saat ini dirinya tumbang tak sadarkan diri.
"Wa Omah.. Kakek Ucok, Kakek Beni. Di dalam galeri ponsel Nda.. Tersimpan beberapa Poto Muhammad Laksa Ilham yang menjadi supir pribadi Nyonya Besar Fatimah dan sangat di perhatikan dan di sayangi oleh Tuan Besar Harsya dan Tuan Riyan.." Ucap Amanda lalu memberikan ponsel Android jadul nya kepada Wanita berusia 39 tahun itu.
Tangan nya, bergetar hebat, menerima ponsel lusuh dari gadis cantik yang sudah dia anggap anaknya sendiri dan di tugaskan langsung oleh Halimah untuk menyelidiki pemuda yang telah membantu Ibu nya membiayai operasi di rumah sakit malam itu.
Galeri ponsel itu di buka.. Tampak lelaki dalam Poto begitu tampan, tangannya meraba meraba ke layar ponsel itu seraya berkata lirih dan air matanya menetes.
"Suami ku............"
"Suami ku. Kau masih begitu tampan dan gagah.." Lirih Halimah yang berganti nama menjadi Omah, seraya menetes air matanya.
__ADS_1
Suara nya begitu menyayat hati, bagi mereka yang mendengar nya. Tatapan penuh rasa iba dan kasihan, belasan tahun menanggung rindu yang tertahan, entah apa alasannya wanita itu tak menemui suaminya yang jelas jelas Ia mengetahui keberadaan nya itu.
Bersambung.