Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Misteri Amanda


__ADS_3

"Nyonya Besar, Ayah, Bunda dan Kak Laksa serta yang ada di ruangan ini. Maafkan Alena, bukan maksud untuk menyakiti hati Kak Amanda dengan sebuah pertanyaan yang mungkin membuat kak Amanda sakit, namun hal yang sangat wajar bukan bila sang adik ingin mengetahui Kakak nya dekat dengan siapa.." Terang Alena.


"Maksud Alena..?" Tandas Fatimah.


"Alena bertanya pada Kak Amanda tentang kedekatan dengan Laksa, apakah sampai tahap apa, pacaran atau sepasang kekasih yang telah resmi dengan mengutarakan satu sama lain.." Terang nya, membuat Laksa langsung menatap tajam pada adiknya itu.


"Maafkan Alena Kak.." Alena langsung menyadari arti tatapan dari pemuda yang duduk di atas ranjang itu.


"Kenapa harus minta maaf.. Lalu jawaban dari Amanda gimana, setelah kau berkata begitu..?" Tanya Laksa ingin tahu, walaupun Ia sudah mengatakan perasaan nya ketika terbaring koma di tempat tidur.


"Kak Amanda pergi berlalu, seraya berkata.." Tenang aja Alena aku dan Kak Laksa gak mungkin bersatu karna perbedaan status di antara aku dan Kakak mu.. Tunggu lah dan minta waktu aku Amanda akan melunasi hutang yang telah di pinjam pada Kak Laksa untuk biaya operasi ibu ku.." Terang Alena,


"Ohk begitu, biarkan saja dan kau tak harus minta maaf segala..." Jawab Laksa santai.


"Tapi Sa......" Fatimah menyeka ucapan antara Laksa dan adik angkatnya."


"Biarkan dulu Bi.. Amanda paling pulang ke rumah nya... Nanti biar aku telepon kalau sudah hati nya tenang.." Terang Laksa.


Riyan menatap kosong pada Laksa, pikiran bertanya kenapa Laksa begitu acuh, bukan kah dia sadar karena ada dorongan dan kata kata dari Amanda..."


"Paman Riyan.." Panggil Laksa.."


Lelaki setengah tua pun tersenyum dan melangkah menuju ranjang dimana Laksa masih berbaring di atas kasur pasien.


"Paman tahu kan apa yang perlu di kerjakan, tentang masalah ini.?" Tanya Laksa.


"Yaa kamu tenang saja.. Itu sudah berada dalam otak Paman, kamu tak usah banyak pikiran, sehatkan dulu seluruh tubuh mu.." Kata Riyan.

__ADS_1


"Baik Paman.! Aku mengandalkan mu.." Laksa tersenyum penuh arti membuat Fatimah dan Harsya berkerut keningnya.


"*Ada rahasia apa di antara mereka berdua, tampak dari gelagat Riyan dan Laksa, kemungkinan sesuatu besar sedang di sembunyikan.." Batin Fatimah bergejolak.


"Apakah jangan jangan........." Kerut di kening nya tampak semakin berbaris, bila hati Fatimah tertuju pada seorang wanita yang telah hilang 19 tahun, Riyan dan Laksa sudah menemui nya*.


"Bibi dan Ayah, jangan mempunyai pemikiran yang buruk pada Laksa dan Paman Riyan. Suatu saat akan indah pada waktunya dan itu tak akan lama lagi.." Laksa membuyarkan lamunan di mereka berdua Fatimah dan Harsya.


"Hehehehe.... Kau lebih sakti Sa, setelah sadar dari koma..." Kekeh mereka berdua."


"Laksa gitu loh.." Bangga nya pemuda itu pada diri sendiri.."


Obrolan di pagi menuju siang itu pun berlalu panjang dengan di iringi canda ria di antara mereka yang hadir di ruangan VIP rumah sakit rakyat di kota yang terletak di dua perbatasan kabupaten.


Sedangkan Amanda sendiri kini posisi nya berada di salah satu kafe yang ada di pusat kota Sukabumi bersama dengan seorang lelaki berusia 45 tahunan.


"Amanda ini semua informasi tentang anak ku, yang hilang waktu usia 9 tahun, dan sampai saat ini keberadaan nya entah dimana, apakah masih hidup atau sudah mati..?" Lelaki yang memperkenalkan dirinya Liu Smit memberikan sebuah dokumen berisi Poto dan biodata anaknya.


"Baik Tuan, terima kasih atas kepercayaan yang di berikan Tuan pada hamba, dan hamba akan berusaha sebisa mungkin untuk memperlajari terlebih dahulu tentang biodata dan hilangnya putri anda.." Amanda tersenyum manis di hadapan Liu Smit.


"Seandainya aku bisa menemukan anak dari Tuan ini, aku akan meminta upah untuk membayar hutang pada Kak Laksa... Walaupun jujur dalam hati perasaan ini tak bisa aku sembunyikan karna sudah terpikat dan terikat rasa cinta, namun itu tak mungkin karna berbeda nya kasta di antara kita.'' Hati Amanda berkata kata.


"Nak Amanda, terima kasih banyak sebelumnya.. Saya percaya kau bisa menemukan dan menjadi titik terang keberadaan putri ku satu satu nya yang telah hilang selama 10 tahun ini.." Kata Liu Smit, dan meyakini bahwa gadis di hadapannya itu adalah putri yang selama ini hilang.


"Sama sama Tuan, kalau begitu hamba, mohon undur diri dan secepatnya akan memberi tahukan pada Tuan setelah menemukan titik terang akar hilang nya putri Tuan.." Amanda bangkit dari duduk nya dan membungkuk hormat.


"Bagus...... Sangat bagus........." Tuan Smit pun bangkit lalu menyerahkan sebuah kartu ATM. Membuat Amanda berkerut kening nya.

__ADS_1


"Ini apa Tuan..?" Amanda bertanya setelah menerima kartu bertuliskan sebuah Bank yang tertulis di kartu tersebut.


"Itu pin nya tanggal lahir anakku.. Dan untuk transportasi mencari keberadaan putri saya.." Terang Liu Smit.


"Jangan Tuan, aku belum melaksanakan tugas apa apa.." Tolak Amanda seraya menyerahkan ATM itu, namun Liu Smit menolak nya dan secara paksa untuk di terima oleh Amanda.


Mau tak mau Amanda pun menerima nya, dan berjanji akan secepatnya memberitahukan hasil penyelidikan nya.."


Hampir 40 menit berlalu obrolan antara Liu Smit dan Amanda yang tanpa mereka sadari bahwa orang orang dari Riyan Putra Pratama sedang memata matai.."


Setelah menyadari bahwa gadis berusia sekitaran belasan tahun itu pergi dan tak terlihat lagi batang hidungnya, sang supir kepercayaan Tuan Liu Smit pun yang tadi hanya berdiam diri tak ikut dalam obrolan, langsung bertanya pada majikannya.


"Tuan apakah anda tidak salah memberikan biodata penting nona muda pada gadis yang baru kenal akibat insiden kecelakaan kecil tadi siang..?" Tanya pemuda berusia 22 tahun itu.


Liu Smit mengambil gelas berisi kopi hitam dan langsung menyeruput nya dengan penuh perasaan, tampak lidahnya menjulur dari kiri ke kanan, saling nikmatnya kopi tersebut.


"Ahkkkk...... Nikmat nya!


"Ren kau tidak tahu, ada hal unik dari sisi gadis yang baru kita temui, aku ingin kau menyelidiki bersama para pengawal kita, siapa dia dan dari mana asalnya dan Kedua Orang Tua nya.." Perintah mutlak dari majikannya itu di berikan pada sang supir kepercayaan itu.


"Menerima perintah dari anda Tuan." Pemuda itu penuh semangat 45 menerima tugas dari majikannya.


"Cukup selidiki identitas nya saja, dan jangan sampai dia curiga bahwa kita yang menyelidiki nya..." Tegas Liu Smit."


"Dan satu lagi, aku tak mau dia kenapa napa.." Liu Smit mengingatkan sopir kepercayaan, lalu berjalan kearah pintu keluar mall di kota Sukabumi tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2