
"Begini Tuan Harsya. Saat ini ketiga pasien sudah melewati masa kritisnya dan di antara ketiga pasien dua orang yang berusia dewasa dan seorang wanita, tak ada yang perlu di khawatirkan. Namun ada satu pasien yang bisa di bilang masih muda harus segera menjalankan operasi. Ini karena pasien mengalami pendarahan di otak, geger otak akibat benturan dan banyak pembuluh darah yang tersumbat. Jika tidak segera menjalani operasi, maka di khawatirkan pasien bisa meninggal atau paling tidak bisa terkena amnesia." Terang Dokter menjelaskan.
"Baik Dokter... Anda lakukan lah yang terbaik. Saya akan mengurus semua pembayaran kepada staf administrasi.." Kata Harsya.
"Baiklah Tuan Harsya. Jika demikian, maka Ijin kan saya bersama para Dokter lain' nya untuk melakukan persiapan operasi.." Sang Dokter meminta Ijin persetujuan dari pihak yang bertanggung jawab atas operasi nya itu.
"Silahkan Dokter.." Jawab Harsya dengan hormat.
"Ingat lah untuk sementara ini jangan pernah mengunjungi pasien. Ini karna untuk kebaikan pasien itu sendiri." Kata dokter mengingat kan.
"Baik. Anda tidak perlu khawatir Pak Dokter.." Harsya berkata dengan tegas untuk meyakinkan para Dokter itu.
Setelah mengatakan itu, sang dokter pun mulai meninggalkan mereka untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalankan operasi nya.
##########
Depok City.
Mobil Pajero Sport melaju kencang menuju sebuah kediaman yang ada di pinggiran kota Depok itu.
Tampak di dalam mobil seorang pemuda berusia 20 tahun sedang menyetir. Sedangkan di belakang tampak dua orang yang berbeda usia duduk dengan exfresi wajah yang tampak terlihat sangat bahagia.
Begitu mobil itu berhenti di depan rumah yang terbilang megah dari jajaran rumah rumah lain nya, tampak lelaki berusia 40 tahunan itu berlari keluar di ikuti oleh wanita yang usia nya tak jauh berbeda untuk menyambut kedatangan mobil Pajero sport itu.
"Sahabat ku.. Baron. Haha... Haha... Selamat datang di Mansion ini.." Tawa lelaki itu menyambut hangat dengan exfresi wajah yang tampak bahagia.
"Hahahhaha... Liu Smith... Maaf kedatangan ku ini ada sesuatu yang sangat penting untuk di diskusikan dengan mu.." Jawab lelaki tua yang tak lain Baron menyambut balik senyuman hangat itu.
__ADS_1
"Baik... Sangat baik, ayo masuk kita diskusikan di dalam.." Ajak pemilik rumah yang bernama Liu Smith itu.
"Terima Kasih Liu. Oh, ya ini adalah Daniel Anak ku" Kata Tuan Baron memperkenalkan anak satu satu nya itu kepada Liu Smith.
"Salam hormat kepada Paman Liu Tante Liu." Kata Daniel seraya membungkuk hormat kepada Liu Smith dan istrinya.
"Apakah anak muda ini yang dulu selalu kau bawa kemana pun kamu bila ada perjalanan tugas ke luar kota atau pun ke luar negeri..?" Tanya Liu Smith penasaran sesaat melihat tampang pemuda di hadapannya itu.
"Yoi.. Sahabat ku.. Anak ini yang dulu pernah membuat putri kesayangan mu itu menangis hingga mengadukan kepada ibu nya hahaha." Terang Baron seraya tertawa.
"Tak sangka dan duga, kau sudah dewasa anak muda, mungkin putri ku bila sekarang masih ada, pasti seusia mu dan akan datang menyambut kalian.." Lirih Liu dengan perasaan yang mendalam.
"Paman, bersabar lah. Daniel yakin anak Paman sampai saat ini masih hidup, Saya bersama koneksi yang di punya akan berusaha untuk menemukan keberadaan Lien Ho Ming.." Ucap Daniel mencoba untuk menghapus kesedihan sahabat ayah nya.
"Terima Kasih, Terima Kasih banyak Nak Daniel. Tapi Paman dan Tante mu, sudah hampir sepuluh tahun mencari keberadaan Liem tak kunjung di temukan, sekarang hanya mengharapkan mukjizat dari sang Dewa, semoga anak satu satu nya dan sekaligus Pewaris Perusahaan Nomor Tiga di dunia bisa kembali dalam pangkuan Paman dan Tante mu.." Liu Smith bersuara serak dan menyayat hati bila harus mengingat kembali putri satu satu nya yang hilang bagaikan di telan samudra.
"Mohon Maaf kan Daniel Paman, sudah membuat luka lama Paman dan Tante sedih.." Ucap Nya seraya membungkuk hormat.
"Lest'. Go.. Brow.." Balas Baron dengan semangat empat lima.
Sesampainya di dalam Mansion mewah itu. Liu Smith dan Baron serta anak nya Daniel langsung masuk ke salah satu ruangan khusus. Sedangkan Istri Baron dan Istri Liu Smith ke ruangan lain untuk sekedar mengobrol tentang dunia para wanita setengah tua.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Rumah Sakit Rakyat Ciawi.
"Fatimah, sebaiknya kamu kembali dulu ke kediaman Syamsul, karna acara haol Kiayi Sepuh akan di gelar pukul delapan malam, untuk di sini menjadi tanggung jawab Kakak.." Kata Harsya mengingatkan walau bagaimana pun kedua nya secara penting.
__ADS_1
"Aku ingin di sini saja Kak, menunggu supir kesayangan ku selesai di operasi.. Biarlah Kakak dan yang lainnya berangkat duluan saja. Mungkin Ayah ku yang ada di alam lain memaklumi.." Fatimah belum merasa tenang dirinya sebelum keponakan nya itu di nyatakan selamat.
Sesaat Fatimah hampir lupa dengan acara yang biasa di adakan setiap setahun sekali, mengenang seraya memberikan kiriman doa doa dari keturunan nya serta para Anggota Macan Putih, karna kelupaan itu di akibatkan masuk rumah sakit keponakan yang telah lama hilang itu.
"Baiklah, kalau keinginan mu begitu.!
"Fander dan Bimo kau berjaga di sini, biar aku dan Riyan bersama beberapa Anggota Macan Putih, berangkat duluan ke kediaman Syamsul untuk memulai acara haol Kiayi Sepuh.." Kata Harsya.
"Siap Tuan Besar.." Fander dan Bimo menjawab serempak.
"Ayo Riyan, kita berangkat.." Ajak Harsya.
"Ok.." Balas Singkat Riyan..
Langkah kaki mereka pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Fatimah dan yang lainnya, walau terasa berat bagi Harsya, tapi itu juga untuk mengalihkan penglihatan mereka yang kemungkinan gerak gerik Tukang Ojeg Tampan itu sedang di pantau.
********
"Amanda, apakah kamu sudah mengabarkan kepada ayah dan Ibu mu, tentang kamu di sini, takutnya mereka khawatir dan cemas..?" Tanya Fatimah sedari tadi kaki nya tak bisa diam terus menerus mondar mandir.
Amanda langsung berhenti dan kini duduk di bangku sebelah kiri Nyonya Besar Fatimah dan langsung berkata.
"Sudah Nyonya, malah mereka berdua titip salam kepada Kedua Orang Tua Kak Laksa tidak bisa menjenguk nya karna kondisi ibu yang belum pulih sepenuhnya.
"Syukur lah, aku pun jadi tenang.." Balas Fatimah.
"Aku akan tunggu di sini bersama Nyonya Besar dan ketiga Dewi Dewi cantik Padepokan Cimande. Aku tidak akan tenang selagi Dokter belum keluar dari ruang operasi itu.." Lirih Amanda di samping Fatimah.
__ADS_1
"Iya, sayang, kata serupa juga yang ada di benak hati ku." Timpal Fatimah.
Bersambung.