Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Bumerang nya Keluarga Syamsul


__ADS_3

Di Jalan provinsi penghubung dua kabupaten Cianjur dan Sukabumi... Tampak di salah satu restoran yang ada di jalanan itu, berjejer rapi mobil mobil berkelas mewah.. Turun Gunung nya sang adik ipar dari Tukang Ojeg Tampan itu, untuk membimbing seorang pemuda yang masih ada ikatan darah dengan nya..


Malam itu ketika siang nya, Fatimah bertemu dengan Laksa dan menceritakan semuanya, hingga selesai... Lalu langit pun berubah dan malam pun tiba.. Fatimah dalam tidurnya bertemu dengan Kiayi Sepuh yang tak lain Ayah nya sendiri.


Dalam mimpi tersebut, Kiayi Sepuh memberitahukan bahwa Laksa itu adalah anak dari Halimah sang Kakak yang tak tahu keberadaan nya sampai sekarang dan Kiayi Sepuh pun berpesan untuk sementara waktu merahasiakan identitas Laksa anak dari pewaris perusahaan terbesar se-Asia.


Pukul 08:45 Seorang wanita berusia 35 tahun turun dari mobilnya.. Dengan di ikuti oleh para pengawal dan bodyguard nya.. Tak lupa Syamsul dan istrinya serta Dinda pun hadir di restoran itu, berjalan anggun di belakang Nyonya Besar Fatimah.


Syamsul dan Lasmi... Dia tidak tahu apa apa bahwa kedatangan Fatimah dan mengundang seseorang yang di undang oleh nya, akan menjadi bumerang bagi dirinya.


Para staf dan pelayan restoran itu berbaris rapi menyambut kedatangan Fatimah dan orang orang nya..


"Selamat datang dan suatu kebanggaan buat kami di sini dengan datangnya Nyonya Besar Fatimah.." Ucap Manajer resto itu membungkuk hormat di ikuti oleh para staf dan pelayan.


"Anda terlalu sungkan... Apakah ruangan khusus sudah di persiapkan..?" Tanya Fatimah.


"Silahkan ikuti saya Nyonya Besar... Ruangan VIP sudah ada.." Pinta sang Manajer resto.


"Baik terima kasih... Kalian semua berjaga dan kamu Syamsul serta Lasmi dan anaknya ikut bersama ku, untuk menunggu kedatangan pemuda yang sudah saya undang.." Titah Fatimah.


"Siap Nyonya Besar.." Ucap mereka berdua dan anggukan Dinda.


###


Dalam angkutan umum jurusan Sukaraja - Gekbrong.. Seorang pemuda duduk di depan jok bersejejer dengan sang supir..


"Mang Restoran itu di depan kiri ya.." Pinta pemuda tampan itu.

__ADS_1


"Mangga Den..... " Ucap nya... Tak lama beberapa menit pun angkot pun berhenti.


Laksa turun lalu membayar ongkos angkot nya.. Ia menatap mata nya kearah mobil mobil mewah yang berjejer rapi di area halaman resto itu... Tampak beberapa pria memakai pakaian jas dan berdasi berdiri tegak tak bergerak bagaikan sebuah patung.


Laksa berjalan kearah pintu masuk resto itu, dengan langkah kaki yang santai, ketika sampai di pintu resto Ia di berhenti kan oleh pria berdasi dengan kacamata hitam yang menempel di wajahnya.


"Berhenti... Apakah anda orang yang di undang oleh Nyonya Besar Fatimah..?" Tanya Pria berdasi itu.


"Iya.. Saya Laksa.. Pemuda yang di undang oleh majikan anda.." Jawab Laksa santai.


"Baiklah... Ayo ikuti kami.. Nyonya Besar sudah menunggu mu, bersama Tuan dan Nyonya Syamsul.." Ucap Pria berdasi itu.


"Ayo Paman, Silahkan beri petunjuk jalan.." Pinta Laksa sang Pria berdasi pun mengangguk dan berjalan menuju ruangan yang sudah di tunggu oleh Fatimah.


Sesampainya di ruangan itu.. Tampak senyuman terukir di berikan oleh Laksa kepada sang bibi yang tak lain adalah Fatimah... Akan tetapi berbeda dengan Syamsul dan Lasmi.. Mereka berdua menatap penuh kebencian kepada Laksa.


"Iya... Emang nya kenapa... Kalian berdua sebaiknya diam.. Aku sudah mengetahui sipat dan keserakahan mu, penghinaan dan rasa sipat sombong mu kau tunjukkan terhadap pemuda yang sengaja aku undang.." Ucap Fatimah memberi ancaman. Hal itu membuat mereka bergetar tubuh nya dan seketika keringat bercucuran.


"Laksa..... Ayo sini Nak... Duduk kesini.." Pinta Fatimah.. Ketika pemuda yang di panggil itu sudah berdiri di hadapannya.


"Terima Kasih bi... Ehk Nyonya Besar.." Ucap Laksa yang hampir saja keceplosan memanggil bibi.


"Hehehehe... Sini duduk ayo kita makan.. Sebentar lagi pesanan udah mau datang.." Kata Fatimah terkekeh.


Laksa duduk di samping Dinda yang tertunduk malu, begitu juga dengan Kedua Orang Tua nya.. Bagi mereka bertiga itu adalah ruangan neraka.. Fatimah menatap penuh dengan rasa jijik kepada Syamsul dan Lasmi.. Bisa bisa nya mereka berdua bisa mempunyai sipat yang sangat angkuh dan sombong.. Padahal Kedua nya di angkat oleh Kak Harsya dari kemiskinan waktu itu.


Tak lama hidangan makan siang itu pun datang, sang Manajer resto sendiri yang menghidangkan makanan itu langsung kepada ruangan khusus yang di pesan oleh Nyonya Besar Fatimah.

__ADS_1


"Ayo sebaiknya kita makan dulu.. Syamsul dan kau Lasmi... Urusan nya nanti kita bahas setelah selesai makan... Ayo Nak Laksa... Jangan sungkan.." Pinta Fatimah.


"Baiklah Nyonya Besar, kalau sudah anda berkata begitu.. Laksa tak akan sungkan lagi..." Ucap nya sambil mengambil piring dan langsung menyodok nasi dalam bakul.


"Non Dinda... Tuan Besar dan Nyonya Besar Syamsul.. Ayo kita makan... Jangan malu malu.." Ucap Laksa tersenyum sinis kearah mereka bertiga.. Rasa sakit sore itu masih membekas di hati nya.


"Nyonya Besar Fatimah.. Dalam hati dan jiwa ku.. Bukan lah sosok sang Ayah yang mempunyai sipat lembut dan pemaaf yang bisa saja memaafkan seseorang bila sudah di tindas.. Begitu juga bukan sosok sang Ibu yang mempunyai rasa sipat kasihan dan iba ketika sang pelaku sudah mendapatkan karma nya.. Aku Laksa mempunyai sipat seorang bibi yang tangguh dan tak pandang bulu, bila seorang itu berani menindas kaum yang lemah.." Kata Laksa lagi, telak ucapan nya masuk menusuk hati Lasmi dan Syamsul.


"Yaa aku tahu... Ucapan mu itu di tujukan kepada siapa.. Tapi sebaiknya kita makan dulu.." Pinta Fatimah.


"Hehehehe... Tuh aku mah udah siap untuk makan Nyonya Besar... Lihat lah dalam piring ku, sudah ada nasi dan lauk nya, malahan aku tak sungkan daging nya banyak hahahahhahaha." Tawa Laksa langsung mengunyah makanan yang ada di piring. Fatimah dan Dinda melihat nya hanya geleng-geleng kepala nya.


Hampir tiga puluh menit lebih acara makan siang itu selesai.. Seluruh staf dan pelayan resto datang membawakan cuci mulut serta membereskan sisa makanan yang masih tersedia.


Laksa berbisik kepada Dinda. " Non.. Sisa nya bisa di bungkus nggak.. Sayang duh mubazir...


"Aduhhh Kak... Tak berani lah malu.." Balas nya Dinda..


"Hei... Apaan sih kalian berdua main bisik membisik.." Sergah Fatimah...


"Itu...... Itu..... Nyonya Besar.... Kak Laksa sisa makanan nya minta di bungkus.." Kata Dinda tersenyum receh.


"Hmmmmmmm.... Laksa jangan malu maluin yang mengundang makan.." Kata Fatimah dengan senyuman dan gelengan kepala.


"Hehehehe...... Mubazir Nyonya Besar...." Laksa gak ada rasa malu sedikit pun dan hanya bisa pasrah menjawab nya.


"Emang sih... Tapi gengsi mengalahkan kita semua... Sudah nanti di bungkusin buat orang rumah mah.." Kata Fatimah.. Laksa pun hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2