
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzz............."
Kilasan cepat senjata tajam melesat di malam itu pada seorang lelaki berusia 45 tahun yang sedang berjalan kearah gubug reot di kawasan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan itu.
Dengan sigap lelaki itu langsung berjungkir balik untuk menghindar dari serangan yang datang secara tiba tiba itu.
"Bluzzzzzzzzzzzz...."
"Krakkk...... Krakkk.........
"Gubrag............."
Senjata tajam itu tepat menusuk sebuah pohon, lalu pohon itu tumbang seketika."
"Salam kedatangan ku bisa mengakibatkan nyawa ku hilang.." Gumam lelaki itu sedari waspada mata nya menatap kearah depan belakang kiri dan kanan.
Dia melangkah selangkah demi selangkah dengan exfresi yang sangat berhati hati... Ketika langkah kaki mulai mendekati gubug reot itu, bola bola api pun beterbangan dan langsung menyerang ke arah lelaki yang bernama Bruno.
"Anjing......" Umpat Bruno langsung menarik napas dalam-dalam dan seketika keluar senjata pusaka dari dalam telapak tangan nya.
"Akan ku ladeni kalian hah...." Lelaki itu langsung mengarahkan senjata pusaka berupa pedang itu pada bola bola api yang beterbangan kearah dirinya.
Pertarungan sengit seorang lelaki yang berusia setengah abad itu, menghadapi serangan para makhluk berupa bola api yang di gerakan dari kejauhan mampu di imbangi dan tampak terlihat ketujuh bola api itu kini hanya tersisa tiga saja.."
"Tebasan Penghancur Bumi..." Teriak lelaki itu mengarahkan pedangnya tepat kearah sisa bola api tuh dan................."
"Duarrr.................."
"Duarrr..................."
"Duarrr..................."
__ADS_1
Terdengar keras hingga memekakkan telinga manusia yang mendengar suara ledakan dari ketiga bola api itu.
"UYUT KELUAR LAH.." Teriak Bruno seraya menstabilkan tenaga dalamnya.
Tak lama kemudian beberapa detik setelah kata itu terucap dari Bruno, lelaki paruh baya memakai tongkat dengan ujung tengkorak manusia melayang dan berdiri di hadapannya Bruno.
"Cucu buyut ku.. Kau makin sakti saja.." Lelaki paruh baya itu menancapkan tongkatnya sehingga Bruno pun tak mampu untuk berdiri dan langsung berlutut di hadapannya.
"Uyut, ahk...... Berat sekali badan ku.." Ringis Bruno."
"Hahaha... Hahahaha.... Akan ku turun kan ilmu ini pada mu, dengan satu syarat.." Kata lelaki paruh baya itu.
"Syarat apa yang harus Bruno lakukan Yut..." Suara nya berat karna menahan aura yang di keluarkan oleh lelaki paruh baya dengan menancapkan tongkatnya itu.
"Sangat mudah dan mudah sekali untuk syarat yang akan kau kerjakan.." Lelaki paruh baya itu mencabut tongkat itu, dan Bruno pun langsung berdiri tegak kembali.
"Syarat nya apa Yut.?" Tanya Bruno dengan exfresi menunduk wajahnya.
Setelah berjalan beberapa langkah, mereka yang berbeda usia pun sudah berada di ruangan tengah gubug reot itu.
"Bruno boleh saja kau menerima ilmu pamungkas ku, namun apakah kau bisa mengabulkan permintaan terakhir buyut mu ini..?" Sang lelaki paruh baya memulai percakapan setelah duduk di ruangan tengah.
"Akan Bruno usahakan permintaan dari Uyut.." Ucap nya penuh keyakinan."
"Apa kau yakin.?" Sang Kakek menatap tajam kearah cicitnya itu.
"Ya Uyut.." Angguk Bruno."
Lelaki paruh baya itu kini kedua matanya perlahan lahan terpejam, nafasnya menarik dalam dalam, tak lama lalu di keluarkan secara serentak sebelum obrolan panjang itu di ucapkan di hadapan cicitnya itu.
Sehari sebelum cicitnya nya itu datang ke kampung siluman, Rombongan para pejalan kaki datang di temani dua anak buah Bruno yang di bebaskan oleh sekapan anggota Macan Putih atas perintah dari Riyan Putra Pratama..
__ADS_1
Salah satu dari rombongan pejalan kaki yang berjumlah dua puluh orang di antaranya, Nyonya Besar Anastasya putri dari almarhum Dani Rustandi sang Ketua Genk Kobra pada masanya sebelum berganti nama menjadi Genk Serigala Merah.
"Eyang Guru, kami datang karna ada sesuatu yang harus di diskusikan dengan Eyang Guru dan Bos Bruno.." Pemuda berusia 25 tahun yang bernama Imron langsung mencium tangan lelaki paruh baya yang berdiri dengan tongkat berujung tengkorak di ikuti oleh Karto.
"Apakah Sueb sudah berada di rumah sakit atau kah dia sudah tiada..?" Tanya Lelaki yang di panggil Eyang Guru itu.
Jelas Ia menghawatirkan satu murid nya lagi, setelah kemarin Ray, Andri dan Diki datang terlebih dahulu, lalu di suruh naik ke Gunung Siluman untuk bertapa dan mendapatkan satu pusaka untuk menghadapi lawannya.
"Maaf Eyang Guru.." Ucap Imron." Hal itu lelaki paruh baya hanya bisa mengangguk pelan.
"Suruh majikan kalian masuk dan diskusikan di gubug reot ku.." Lelaki paruh baya itu tiba tiba menghilang dari hadapan Imron dan Karto, hingga Anastasya dan para pengawal nya tersentak kaget di buat nya, berbeda dengan dua muridnya yang sudah biasa.
"Nyonya Besar, sebaiknya kita masuk dan ngobrol di dalam.. Yang barusan terlihat itu sudah biasa bagi kami berdua dan sekarang Eyang guru menunggu di dalam gubug.." Terang Imron sesaat membalikkan badannya dan tersenyum pada wanita berusia 40 tahun itu.
"Ba... Bai.. Baik... Ehk... Iya.." Anastasya terbata bata dan menggigil seluruh badannya, mungkin ketakutan atau apa yang barusan di lihat sungguh di luar nalar.
Imron maupun Karto tersenyum renyah dan langsung membalikkan badannya seraya melangkah menuju gubug tempat buyut dari Bruno tinggal di ikuti oleh Anastasya sang Nyonya Besar dari perusahaan Kobra Company Group.
Apa yang di ucapkan oleh dua pemuda tersebut memang sebuah kenyataan dan tanpa ada kebohongan, lelaki paruh baya yang tadi berada di luar dan mengobrol bersama Imron dan Karto kini lelaki paruh baya itu tengah duduk di ruangan dengan dupa yang menancap di salah satu tempat ritual sesuatu yang berbau mistik.
"Cucu ku Anastasya silahkan masuk, mari duduk di hadapan Eyang." Kata lelaki paruh baya mempersilahkan.
Anastasya tersenyum dan langsung naik ke atas gubug reot itu.." Terima Kasih Eyang mohon maaf mengganggu waktu istirahat Eyang.." Kata Anastasya.
"Cucu ku terlalu sungkan. Ada hal apa sehingga Cucu ku jauh jauh datang ke gubug reot Eyang..?" Tanya Lelaki paruh baya itu.
Anastasya sesaat tertunduk wajahnya sebelum menjelaskan maksud tujuan datang kesini, Tadinya kedatangan nya ke kampung siluman bersama dengan Shintia, namun setelah di telepon Shintia sendiri sedang berada di provinsi Sumatera Selatan, tempat dimana asal usul terciptanya Genk Kobra.
"Begini Eyang maksud tujuan aku datang kesini, hanya ingin tahu, kelicikan apa dari ketiga petinggi perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dan Ketua Genk Serigala Merah yang kini di jabat oleh Firza Agam sang lelaki yang sangat dekat dengan cicit Eyang yang tak lain Tuan Bruno..." Kata Anastasya terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya lagi.
Bersambung.
__ADS_1