
Satu unit mobil sedan Honda Civic melesat di siang itu membelah jalanan antar dua kabupaten di kota tempat pemeran utama itu tinggal.
Di dalam mobil itu, tampak seorang pemuda yang duduk di belakang sang supir sedang merenung dan mencoba menerawang kearah depan, melihat apa yang akan terjadi.
Tampak terasa aneh bagi Laksa, bahwa sang Paman adik dari Bunda Nuri minta di jemput di daerah puncak Bogor.. Bukan kah biasa nya bila mau berkunjung atau pun bertemu dengan Bunda Paman Asep biasa minta di jemput di terminal.
"Aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan Paman Asep.." Ucap pelan suara Laksa. Namun itu terdengar jelas oleh Amanda yang duduk di samping jok belakang.
"Kak kenapa.?" Amanda bertanya setelah terdengar kata kata pelan dari pemuda itu.
"Entah lah Amanda pikiran dan hatiku, menandakan akan ada sesuatu yang terjadi di luar nalar.." Tebak Laksa.
"Semoga aja sesuatu yang baik kak.." Kata Amanda memberikan masukan..!
"Iya. Semoga aja.." Jawab Laksa.!
"Paman supir kira kira berapa jam lagi sampai ke lokasi yang di kirim oleh Bunda ku..?" Tanya Laksa.
"Kalau di lihat dari google maps 45 menit lagi Tuan Muda.." Jawab supir.
"Gasss kan Paman, jangan kendor.." Titah Laksa.
"Baik Tuan Muda..." Sang supir menjawab sigap lalu mulai menancapkan gas nya dan mobil pun tampak melaju lebih cepat.
Sementara di kawasan puncak Bogor tepat nya jalan menuju kesebuah deretan Vila Vila mewah di daerah perkebunan teh itu.
"Ajis.... Kamu tunggu di sini jangan kemana mana, tunggu Paman Laksa datang menjemput mu ya.." Pesan sang Ayah kepada anaknya.
Asep Sukardi sudah tak kuat menahan sabar, menunggu kedatangan keponakan nya. Ia bertekad akan masuk dan menyelinap untuk membebaskan wanita berkerudung hitam yang kemungkinan di kamar satu lagi di sekap.
"Eman, ayah mau kemani dulu, Paman Laksa jemput pake apa.." Kata Ajis dengan kata kata nya masih Cadell belum lancar.
__ADS_1
"Ayah mau masuk ke dalam vila, di dalam vila ada bibi kulsum. Paman Laksa jemput pake mobil.. Ingat Ajis jangan kemana mana ya, tunggu datang Paman Laksa.." Kata Asep mengingatkan anaknya itu.
"Iya Ayah, Ajis unggu di cini. Unggu Paman Laksa Ampan datang.." Celoteh Ajis membuat Asep Sukardi hanya menatap dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah kenapa ingis, Ajis gak bakalan kemana mana kok, unggu di sini datang Paman Laksa.." Sambung Ajis, karna melihat sang ayah meneteskan air matanya.
"Nggak kenapa napa Nak.. Tadi mata ayah kemasukan debu jadi air mata nya tak sengaja jatuh.. Ayah masuk dulu ya, kamu tunggu di sini sampai Paman Laksa datang.." Ucap nya seraya mencium ubun ubun sang Anak.
"Iya ciap ayah.." Angguk Ajis.
Asep melangkah pergi meninggalkan bocah kecil bersama satu buah tas besar berisi pakaian, Ia menyelinap masuk melalui jalur belakang untuk membobol kamar yang kemungkinan wanita tetangga nya itu di sekap.
Kesempatan baik itu tak di sia sia oleh Asep, ketika ke lima penjaga sedang bermain poker untuk memperebutkan posisi pertama, yang akan tidur bersama janda anak satu yang tak lain Siti Kulsum Komariah itu.
***
"Hahahahaha... Hahahahaha.... Hahahahah...
"Sialan gue yang *****, ehk si kunyuk Diki yang duluan masuk menuju goa rimbun sigotaka.." Kesel Ray.
"Hahaha... Nasib loe Ray..." Diki berdiri seraya berkata dan berjalan ala pengantin yang akan membelah jalanan menuju surga dunia.
"Ceklek......" Ensell pintu di tarik Diki menoleh ke arah empat sahabat nya yang tampak terlihat kesal, Ia menjulurkan lidahnya dan langsung buru buru masuk ketika gelas kopi akan melayang ke arah muka nya.
Di dalam kamar tampak seorang wanita yang memakai kerudung hitam dan pakaian daster ala ibu ibu, terbaring lemas dengan kedua tangan nya terikat ke sisi ranjang kanan dan kiri.
Diki seketika menelan ludah nya, melihat pemandangan dari atas leher menelusuri sampai ke bawah celana, tampak lidahnya keluar ketika pandangan mata nya menatap ke arah dua bidang bulatan yang masih tertutup oleh pakaian itu.
"Hmmmmmmmmmm... Sungguh sangat menakjubkan ciptaan tuhan.." Gumam Diki seraya melangkah perlahan lahan.
Wanita yang kondisi nya sedang terikat tak berdaya, hanya bisa menahan sesak di dada nya, ketika pintu kamar itu terbuka dan lelaki usia di bawahnya masuk menatap penuh nafsu.
__ADS_1
Siti Kulsum tak bisa berteriak atau pun meminta tolong, karena mulut nya tertutup oleh lakban, tapi kesedihan nya itu terlihat ketika air matanya mengalir deras menyusuri kedua pipi putih nya itu.
"Yaa Tuhan, hamba mohon pertolongan mu, dari syetan yang nyata yang akan membuat hamba jatuh dalam lubang kenistaan ini.." Batin Siti Kulsum bergejolak.
Diki segera naik keatas ranjang dan jongkok di hadapan Kulsum, mata nya menatap tajam penuh nafsu, seringai licik di bibirnya tampak terlihat oleh Kulsum seakan akan ingin melahap nya.
Perlahan lahan tangan kanan Diki mulai aktif menjelajahi area leher yang tertutup kain kerudung, tangan nya mulai aktif masuk di balik kain itu membelai sangat lembut agar janda anak satu itu terbuai dengan sentuhan nya.
Perlakuan yang di berikan oleh lelaki yang baru masuk itu, membuat Siti Kulsum hanya bisa menahan gejolak nafsu b*Ira"hi nya dan air mata nya mengalir deras, hal itu tak menghentikan aktivitas Diki yang terus menerus memainkan titik di area rangsangan tersebut.
Hampir lima menit lamanya Diki memainkan di area jenjang putih leher Siti Kulsum, Diki pun mulai membuka satu persatu kancing daster yang hanya ada beberapa kancing saja di atas Gunung Kembar itu.
Karna asyiknya perbuatan yang di lakukan oleh Diki, tanpa sadar bahwa ada seorang lelaki yang sedang menerobos masuk lewat jendela kamarnya.
Melihat perbuatan yang di lakukan oleh lelaki anak buahnya Tuan Bruno itu, darah Asep Sukardi pun mendidih dan langsung naik melewati jendela, tanpa di rasakan keberadaan oleh Diki.
"Bajingan, dasar manusia hina..." Teriak Asep, langsung melompat dari jendela dan sapuan kaki Asep menghantam punggung Diki yang sedang asyik ******* ***** Gunung kembar milik tetangga Asep.
"Begh.......................!
"Bugh........................!
"Ahhk..........................!
Seketika Diki pun terpental langsung jatuh ke lantai dan meringis kesakitan yang di rasakan.
Asep langsung buru buru melepaskan ikatan yang mengikat tali Siti Kulsum menggunakan pisau yang sengaja Ia bawa untuk sekedar berjaga-jaga.
Sementara Diki yang terpental jatuh ke lantai langsung bangkit dengan exfresi wajah yang di penuhi emosi tingkat dewa.
Melihat seorang lelaki yang berusaha untuk membebaskan wanita yang ada di hadapannya, Diki pun langsung melepaskan serangan andalannya kepada lelaki itu.
__ADS_1
Bersambung.