
Dua hari menjelang pembuktian seorang Laksa yang di beri tugas khusus oleh Fatimah dan sang Kakek yang tak berwujud manusia..
Malam pun telah tiba, seusai pertemuan dengan Fatimah dan keluarga Syamsul.. Laksa tak pulang kerumah yang ngontrak di pinggiran kota Sukabumi.. Ia langsung pergi ke kota Bandung Barat yang ada di lokasi Citatah, menemui permintaan dari Sang Kakek, yaitu Kiayi Sepuh.
Dengan di antar nya sang gadis cantik, berkerudung putih, mobil Honda jazz itu pun kini sudah tiba di salah satu padepokan dengan tulisan Cimande.
"Tuan Muda Laksa kita sudah sampai di tempat tujuan.." Ucap gadis cantik itu..
"Dinda.... Kau dan aku sama.. Jangan lah kau panggil diriku dengan sebutan yang mewah itu... Bila kau masih bersitegang dengan perkataan itu.. Sebaiknya kau kembali lagi ke rumahmu.. Aku sendiri yang datang ke padepokan ini.." Kata Laksa ucapannya penuh penekanan..
"Ba.... Bai.... Baik.... Tu... Ehk... Kak..." Jawab Dinda terbata bata..
"Nah... Itu lebih baik... Ayo kita turun dan temui para senior padepokan ini.." Ajak Laksa.
"Ayo Kak..." Ucap Dinda lalu mereka berdua pun membukakan pintu mobilnya dan tampak orang orang yang memakai ikat kepala warna hitam berjumlah sepuluh orang sudah siap menghadangnya.
"Hahhahahahahahha........... Dinda sebaiknya kau di belakang kakak ya.." Pinta Laksa dengan tertawa lepas nya.. Dinda pun langsung buru buru beranjak ke belakang Laksa.
Satu dari sepuluh orang yang dirinya di namakan Padepokan Cimande, langsung melambaikan tangan nya untuk segera menyerang ke arah Laksa.
Sepuluh orang saling berpencar satu sama lain.. Tujuan ingin menyerang dari sisi kiri kanan, belakang dan depan...!
Laksa pun bersiap memasang kuda kuda nya.. Mata nya memandang menyeluruh kearah orang orang yang mengepungnya.
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz......!
Angin berhembus menusuk tengkuk kepala Laksa, merasakan aura mistis dalam penyambutan itu.. Ia menyadari sepuluh orang yang menyambut nya itu tak bisa di anggap remeh begitu saja.
"Hiattttttttttttt......................
"Serang................" Teriak mereka bersamaan...
"Tak.............
"Tik.............
"Tuk...........
"Hepp......................!
"Hebh....................!
__ADS_1
Dua puluh tangan secara bersamaan melawan dua tangan milik Laksa secara bersamaan, hingga suara perpaduan antara tangan ikut menimbulkan bunyi yang tak beraturan.
"Hahahahaha..... Apakah ini orang yang di kirim oleh Nyonya Besar Fatimah... Sangat lemah dan sampah.." Ucap satu dari sepuluh orang yang terus menerus melancarkan serangannya.
"Hehehe..... Hehehehe..... Anda semua bisa aja.... Aku belum tentu kalah kan... Sepuluh orang menghadapi satu orang tapi tak bisa menyentuh sedikit pun...." Kata Laksa membalas ledekan nya itu.
"Sialan kau berlaga, anak muda terima lah serangan pemutus garis keturunan.." Teriak sang pimpinan dari sepuluh lelaki berikat kepala itu.
"Hiatttttt.................!!
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...........!
Serangan di lancarkan kepada bagian wajah Laksa... Tapi Laksa dengan cepat menghindari nya, membaca gerakan dari sang pemberi serangan itu, lalu.......................
"Brakk.......................!
Dua tinju langsung mendarat mulus di perut sang lelaki yang tadi memberi serangan dan langsung terpental jauh...
Tak sampai di situ Laksa dengan gesit langsung memburu satu persatu lelaki yang tadi menyambut kedatangan nya dengan berolahraga...
"Bugh...................
"Bugh...................
"Ahkkkkkkk...................
"Bugh.....................
"Braakkk........................
"Ahkkkkkkk.....................
"Empat orang senior padepokan Cimande tumbang akibat sapuan tinju yang di lancarkan oleh Laksa... Hingga mereka berempat secara bersamaan terpental jauh, kini tersisa hanya lima orang saja....
"BERHENTI..........................................
"Teriak lelaki paruh baya keluar dari aula madrasah memakai kopiah haji dan sorban berwarna putih..
Laksa seketika berhenti tangannya yang sudah siap melayang kan pukulan ke arah lelaki yang tersisa lima orang lagi, ketika suara teriakan itu terdengar dari aula madrasah padepokan Cimande.
"Anak Muda perkenalkan nama mu.........." Ucap lelaki paruh baya seumuran dengan Kiayi Sepuh.
__ADS_1
"Salam hormat Pak Kiayi.. Perkenalkan nama ku Muhammad Laksa Ilham.. dari kota Sukabumi.. Kedatangan ku ke Padepokan Cimande atas perintah dari Kiayi Sepuh, pemilik Padepokan Macan Putih.." Ucap Laksa memperkenalkan seraya membungkuk hormat.
"Hahahahaha........ Hahahahaha.... Akhirnya kau datang juga anak Muda... Aku lelaki Tua sudah putus asa menunggu kedatangan mu ke Padepokan ini.." Tawa lepas sang pemilik padepokan Cimande.
"Ayo kesini Nak.... Masuk... Kita tak ada waktu lagi.." Pinta lelaki tua itu.
"Siap Kiayi......... Laksa pun lalu mengikuti langkah kaki sang pemilik padepokan Cimande itu.. Sedangkan Dinda sendiri menunggu nya di aula madrasah bersama para Srikandi Cimande.
Sesampainya di dalam ruangan khusus, tempat lelaki Tua itu, ma'rifat seorang diri kepada sang pencipta.. Laksa pun di suruh duduk dan sang Kiayi memberikan sebuah kotak yang berisi sebuah Pusaka berbentuk keris.
"Cucuku..... Jangan kau gunakan pusaka ini bila dalam tidak terdesak... Tetapi seandainya posisi kamu sedang terdesak menghadapi musuh... Baru lah kau gunakan..
Pusaka ini di sebut dengan nama Keris Pusaka Setan Kober, dimana keris ini dibuat oleh Empu Supo Mandragi dari Tuban. Ingatlah Cucuku dalam keadaan terdesak baru kau gunakan.." Terang lelaki tua mengingat kan berkali kali.
"Baik... Kiayi... Laksa akan selalu mengingat nya.." Kata nya lalu Ia mencoba untuk memegang pusaka yang di berikan oleh sang pemilik Padepokan Cimande.
Getaran seluruh darah yang ada di dalam tubuh Laksa mengalir begitu cepat dan keras, hingga mata nya menyala nya penuh dengan aura membunuh....
"Cucuku.... Kuasai hawa mu dan satukan hati mu dengan keris setan Kober itu, agar bisa kau kendalikan..
"Pertama tama... Tarik napas dalam dalam lalu keluarkan secara halus... Lalu pejamkan kedua mata seraya hati membaca bismillahirrahmanirrahim.." Titah lelaki tua itu.
Laksa pun menuruti apa yang di katakan oleh lelaki paruh baya itu, sedangkan beliau pun menetralisir kan tenaga dalamnya melalu telapak tangan nya kearah punggung Laksa, yang bergetar seluruh tubuhnya, waktu penyatuan antara dua nurani..
"Pokuslah cucuku, pada penyatuan dua hati... Hati kamu dan Hati Pusaka keris setan Kober.." Pinta Kiayi..
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...............
"Wuzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz................
Sang pusaka keris itu pun terlepas dari tangan Laksa... Terbang kemana mana dalam ruangan itu... Sedangkan Laksa masih terpejam matanya memurnikan hawa murninya untuk menyatukan antara hati keris dan hati dirinya...
Lelaki tua itu tersenyum sumbing... Pikiran dan hatinya sudah berhasil sepenuhnya, bahwa sang keris itu sudah menyatu......
Dengan kedua matanya.. Ia melihat Pusaka Keris Setan Kober itu melayang layang dan langsung melesat menusuk kedalam dada Laksa, lalu seketika lenyap..
"Cucuku kau sudah berhasil buka lah mata mu sekarang juga.." Ucap lelaki paruh baya itu.
Perlahan lahan Laksa pun membuka matanya... Ia celingukan kesana kesini mencari pusaka itu.. Sang pemilik Padepokan Cimande hanya tersenyum.
"Pusaka itu sudah menyatu dalam dirimu. Kapan kau mau menggunakan nya.. Ia akan datang secara tiba tiba dalam genggaman tangan mu.." Sambung lelaki tua.
__ADS_1
Bersambung.