
"Kamu mirip seseorang yang telah hilang selama sembilan belas tahun Nak Laksa.." Kata Fatimah mengingatkan nya.
"Berarti saat itu aku masih seorang bayi Buk.." Terka Laksa.
"Yaa... Tapi dia seorang wanita.. Kamu mirip dengan seorang wanita yang malam itu aku dan kakakku serta dua wanita kembar yang melindungi nya di buru oleh para ninja ninja yang di datangkan dari salah satu musuh besar nya kakak iparku. Kalau boleh di ijinkan, aku ingin mengenal mu lebih dekat dengan keluarga kamu, boleh kah..?" Tanya Fatimah..
"Mohon maapkan saya buk... Buat pribadi tidak masalah, tapi aku harus ijin dan bertanya dulu kepada Kedua Orang Tua ku.." Kata Laksa polos.
"Kalau boleh Laksa tahu, kenapa wanita yang sangat mirip dengan ku di buru oleh ninja ninja itu..?" Tanya Laksa penasaran dengan berdesir hati nya sesaat.
Fatimah terdiam... Ia mengingat ngingat malam berdarah itu, seluruh pembantu dan orang orang yang tinggal di Mansion itu di bantai dengan keji dan sadis, tak ada ampun atau pun permohonan yang di kabulkan oleh para ninja yang di kirim oleh Tuan Naga Saki Sempur.
............................................................ 19 tahun ke belakang..
Seorang lelaki paruh baya baru keluar dari Masjid yang berada di area padepokan Macan Putih, selesai usai melaksanakan ibadah solat subuh berjamaah dengan para santri dan para warga lainnya.
Dari semalam pikiran dan hatinya penuh dengan kegelisahan dan rasa cemas teramat dalam entah apa yang akan terjadi sesuatu pada dirinya atau orang orang terdekat maupun kepada para murid didiknya itu.
Setelah sampai di rumahnya. Sang istri pun sudah selesai dengan aktivitas nya.. Lalu ia menghampiri suaminya yang baru pulang dari masjid untuk mencium tangan nya.
"Umi bikin kan kopi hitam sekalian tolong bawakan ponsel untuk menelepon anak kita yang ada di Jakarta." Pinta lelaki paruh baya yang biasa di panggil Kiayi Sepuh.
Istrinya mengangguk... Lalu berjalan kearah kamar untuk mengambil ponselnya dan kembali melangkah untuk memberikan ponsel kepada suaminya yang menunggu di ruangan keluarga.
"Abah ini ponsel nya.. Mau nelepon siapa pagi pagi ini.?" Tanya Sang istri seraya memberikan ponsel nya.
"Halimah.... Dari semalam Abah menghawatirkan anak itu." Jawab Kiayi Sepuh.
"Ohk.......!! Yaa sudah Umi ke dapur dulu untuk bikin kopi pesanan Abah.!!
"Iyaa! " Kata Kiayi Sepuh singkat lalu menempelkan ponselnya.
"Assalamualaikum.! Abah...." Kata seorang wanita di sebrang telepon.
"WaallAikum Salam.. Anakku Halimah! Bagaimana keaadaan mu Nak di sana.?" Tanya Sang ayah.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Imah dan suami serta Fatimah dalam keadaan sehat wall a'fiat.. Abah sendiri sama Umi gimana kabarnya.?" Tanya balik sang anak.
"Abah sama Umi di sini juga Alhamdulillah sehat Nak! Halimah syukurlah kalau kalian semua baik baik saja. Suami mu apakah sudah bangun.?" Tanya Kiayi Sepuh.
"Abah.... Suami Imah sudah keluar dari pagi juga setelah selesai salat subuh, dia mau menemui Kak Bimo dan Kak Syamsul yang ada di Mansion pondok Indah.. Kata nya ada sesuatu yang harus di kerjakan dengan bantuan mereka berdua." Terang Halimah kepada ayahnya.
"Apakah ada sesuatu yang akan di sampaikan pada suamiku Abah.. Nanti Imah sampaikan setelah Kak Harsya pulang." Sambung Halimah.
"Yaa... Sudah.... Nanti kalau suami mu pulang, bilang aja Abah nanyain.
"Iya siap Abah......" Jawab Halimah singkat.
"Kalau begitu Abah akhiri telepon nya. Kamu dan adik mu baik baik di sana. Assalamualaikum." Pesan Kiayi Sepuh.
"Iya Abah..... WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh." Jawab Halimah mengakhiri panggilan telepon nya.
##################
Sementara di pusat kota besar di salah satu apartemen yang di tempati oleh ketiga gadis yang berasal dari kota kecil untuk berkuliah. Satu di antara ketiga gadis itu tampak terlihat kesal dan mondar mandir sambil tangan memegang ponsel yang ia simpan dalam telinga nya.
"Bangsat..............!!
"Sialan..................!!
Maki seorang gadis cantik dengan rambut sebahu, beberapa kali Ia menelepon kekasihnya tapi nomornya tak aktif sama sekali.
Tampak raut muka yang kusut menahan emosi yang meluap-luap terlihat oleh dua sahabat nya di pagi menjelang siang itu, Kedua sahabatnya saling bertanya tanya dalam hatinya.
"Hani...... Kamu kenapa. Saya perhatikan dari tadi loe uring uringan terus.?" Tanya salah satu dari mereka berdua.
"Tidak uring uringan bagaimana, dari pagi gue telepon Kak Azis sampai sekarang nomor nya gak aktip." Jawab Hani seraya mengacak-acak rambut nya.
"Mungkin masih tidur Kak Azis Hani. Bukan kah Pacar loe sedang menjemput teman temannya dari kampung untuk bergabung dengan kita kita. Ya pas Kak Azis ketemu terus mereka kangen akhirnya bergadang sampai pagi." Timpal Dewi memberi saran untuk tenang dan santai kepada Hani.
"Hmmmmmmm. Mungkinkah.!! Gumam Hani.
__ADS_1
"Mungkin aja Hani." Sahut Indah.
"Sebaiknya loe samperin ke penginapan nya. Susah amat sih." Kata Dewi.
"Aku sih nyuruh nya langsung ke markas Kelalawar Hitam pas malam kita pertemuan dengan Nona Muda Anastasya dan Shintia bersama pemilik perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP. Tapi gak biasa nya ponsel Kak Azis gak aktip." Kata Hani penasaran.
"Tunggu satu jam lagi mungkin sebentar lagi aktip.! Atau coba kamu telepon Kak Firza yang sedang berada di markas besar." Saran Indah.
"Baiklah.........!! Aku coba menunggu satu jam dua jam mungkin bener kak Azis masih tidur akibat bergadang." Ujar Hani lalu melangkah menuju kamarnya.
"Hani....... Gue mau ke supermarket mau beli sesuatu. Loe mau titip nggak?" Tanya Dewi bangkit dari duduknya.
"Nitip rokok Sampoerna mild aja Wi." Pinta Hani yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ok.. Han..! Ayo Indah kita." Ajak Dewi dan Indah pun mengangguk lalu bangkit.
Selang beberapa menit kemudian Dewi dan Indah sudah berada di bawah dan langsung masuk menuju supermarket yang ada di area kompleks Apartemen.
"Indah... Kamu mau ikut ke puncak menyambut dua orang yang di datangkan oleh pemilik perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP khusus untuk menghabisi keluarga Kak Harsya.?" Tanya Dewi di sela memilih milih barang belanjaannya di supermarket itu.
"Tergantung Dew! Sekilas Ia memegang makanan yang di tata rapih di supermarket itu dan langsung menyimpan ke sebuah keranjang belanjaan.
"Maksud loe.?" Tanya Dewi penasaran!
Indah lalu berjalan mata nya menuju ke sebuah tempat roti roti di simpan dengan rapi....!
"Kalau buat saya sih tergantung Dewi....... Tergantung apakah saya akan di ajak oleh Hani atau pun Kak Dirga." Jawab Indah seraya tangan nya mengambil dua roti dengan rasa keju.
"Emang benar juga sih kata loe..... Kita berdua kan tidak terlalu penting di kalangan internal Nona Muda Shintia dan Nona Muda Anastasya." Ujar Dewi hingga Indah pun mengangguk.
"Ayo Dew.... Belanja nya sudah........." Ajak Indah...!
"Yoi.." Balas Dewi singkat mereka berdua berjalan menuju kasir untuk membayar dan membeli Rokok pesanan Hani.
Bersambung.
__ADS_1