Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Bocah Sableng


__ADS_3

Satu jam lama nya Laksa dan pemilik Padepokan Cimande, akhirnya keluar dari kamar khususnya itu.. Aura ketampanan dari seorang pemuda yang tak di sangka Ia adalah ahli waris pemilik perusahaan terbesar se-Asia itu.


Dinda menatap nya penuh arti dan takjub kepada Laksa yang berjalan bersejejer dengan lelaki paruh baya.. Tapi kini rasa suka hatinya Ia akan pendam setelah mengetahui siapa pemuda itu.


"Dinda.... Maaf yaa lama menunggu Kakak keluar, karna banyak sesuatu yang harus di bahas..." Ucap Laksa setelah sampai di teras madrasah itu.


"Tak apa apa kok Kak..... Lagian Dinda juga betah di sini mengobrol bersama mereka.." Kata nya sambil menunjuk Srikandi Srikandi Padepokan Cimande yang ada di madrasah itu.


"Apakah urusan Kak Laksa sudah selesai.. Atau masih ada yang mau di urus..?" Tanya Dinda.


"Sudah Din...... Malahan ini juga mau pulang.." Jawab Laksa.


"Cucuku.......... Ajak lah empat wanita murid dari Padepokan Cimande ini, untuk menjadi pelindung dan keselamatan keluarga Orang Tua angkat mu.." Titah Kiayi.


"Aduhh Kek.................... Laksa garuk garuk kepalanya..," Ia pusing dari mana mikirin untuk makan dan gajih ke empat wanita hebat itu, sementara dirinya hanya tukang pulung rongsokan.


"Hahahahaha...... Cucu pe'a jangan banyak melamun, semua sudah di atur oleh bibi mu..." Sahut lelaki tua itu.


"Baiklah kalau begitu mah kek....... Ayo nona nona cantik ikut sama aku.." Kata Laksa dengan gaya santai nya itu... Hingga lelaki paruh baya dan para muridnya serta Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kek.... Aku pamit dulu ya..... Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.. Doa kan Cucu sableng ini agar selalu tampan dan berwibawa hehehehe.." Kekeh Laksa seraya mencium tangan pemilik Padepokan Cimande itu.


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Doa ku selalu menyertai mu... Ingat sesuai amanat tadi, jangan kau keluarkan pusaka itu bila tidak sedang terdesak.." Jawab Sang Kakek mengingat kan.


"Ok.." Balas singkat Laksa... Dinda... Dan kamu kamu kamu kamu... Lest' Go' kita berangkat.." Kata Laksa cuek dengan gaya bicara nya.


Mobil Honda jazz terbaru berwarna merah pun maju perlahan lahan keluar dari area Padepokan Cimande, melesat jalanan desa di senja itu di ikuti oleh Mobil Xenia berwarna silver dengan di dalam nya empat Srikandi Padepokan Cimande.


"Kak Laksa... Langsung ke rumah yang berada di parapatan Sukaraja.. Ayah dan Ibu serta Alena sudah berada di situ.." Ucap Dinda memberitahu kan.


"Kok bisa sih Din...?" Tanya Laksa pandangan nya lurus ke depan.

__ADS_1


"Yaa bisa lah Kak... Kan sudah di atur oleh Nyonya Besar Fatimah... Jadi Kedua Orang Tua ku, yang menempatkan posisi nya disitu.." Terang Dinda.


"Ohk begitu...... Ok deh Din.... Lest' Go'.." Ucap Laksa langsung menancap laju kendaraan nya dengan 60 km perjam.


Baru pertama kali aku melihat kak Laksa dengan dekat sipat dan karakter nya, yang kata orang orang begitu dingin, tetapi hari ini aku tahu, Kak Laksa orang nya lugas, cuek dan tidak menunjukkan sipat takut dalam dirinya.. Padahal beban berat berada dalam pundaknya.


"Kak boleh nggak aku bertanya satu hal yang mungkin menurut Kakak tak pantas... Tapi buat aku itu sebuah kata yang harus di ungkapkan.." Kata Dinda.. Tatapan mata nya sejenak kearah pemuda yang sedang mengemudi kan mobil, lalu buru buru menunduk


"Mau tanya apa.?" Yang pantas dan tidak pantas itu tergantung orang yang menjawab nya." Kata Laksa...


"A...Ak..... Aku.... Sudah jatuh cinta kepada kak Laksa dari dulu..." Kata Dinda dengan suara yang sangat pelan dan terbata bata.


"Hehehehe..... Bolehkah aku tak menjawab sekarang.. Tapi janji suatu saat setelah tugas ku selesai... Kakak akan memberikan jawaban kepada mu Din... Apakah itu akan di terima atau tidak.. Kakak belum bisa memutuskan nya.." Terang Jaya.


Dinda hanya mengangguk..." Itu hak Kakak.. Dengan ungkapan hati ini, membuat diriku terasa lega dan tak ada beban dalam diriku..


"Yaa Terima Kasih Din.. Karna di hati ini, untuk saat ini tak ada rasa untuk memikirkan tentang nama nya cinta atau pun pacaran.. Yang ada dalam pikiran kakak hanya, satu hal bagaimana menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Sang Kakek yaitu Kiayi Sepuh.." Ucap Laksa.


"Gak papa kok...." Kita udah sampai Din.. Belok kemana ke kanan atau kearah jalan Sagaranten..?" Tanya Laksa.


"Ke kiri Kak.... Nanti ada belokan ke kanan langsung masuk ke gerbang yang sangat tinggi.. Kedua Orang Tua ku dan Orang Tua Kak Laksa sudah berada di situ.." Terang Dinda.. Laksa pun mengangguk.


Sesampainya di tempat tujuan. Dua unit mobil saling beriringan pun langsung masuk dan dua satpam penjaga itu berlari untuk membuka pintu mobil Honda jazz.


"Terima Kasih Pak. Satpam.." Ucap Laksa ketika pintu mobil nya di buka..


"Sama sama Tuan Muda.." Jawab satpam itu membungkuk hormat..


Jelas bagi Laksa itu sangat risih dan tak biasa.." Aduh Paman jangan membungkuk dan jangan biasakan memanggil ku dengan sebutan Tuan Muda.." Pinta Laksa.


"Ohk.... Tidak bisa Tuan Muda.." Protes satpam itu..

__ADS_1


"Harus bisa Paman.." Kukuh Laksa...!


"Ohk itu sudah hal yang wajib di lakukan oleh saya sebagai bawahan.." Kata satpam dengan keras kepalanya.


"Sholat kali Paman yang wajib mah.. Hehehehe.." Canda satpam itu..


"Tuan Muda itu sudah menjadi aturan bagi kami selaku bawahan yang bekerja pada majikannya.." Kata satpam itu.


"Iya itu harus Pak satpam, emang harus seperti itu... Tetapi saya mau bertanya kepada dua Paman ini yang sedang bekerja di sini... " Kata Laksa.


"Silahkan Tuan Muda..!


Dinda dan ke empat Srikandi itu hanya bisa menganga lebar lebar mulutnya, keras kepala nya Laksa dan setia nya aturan satpam itu terhadap pekerjaan, hingga mereka berdua terlibat konflik obrolan receh.


"Begini paman dua............


"Sebentar Tuan Muda menyela ucapan anda.." Pinta satpam itu.


"Kenapa Paman.?" Tanya Laksa.


"Kok Paman dua.. Tuan Muda..!!


"Ohk kitu... Kan ini Paman satu dan yang ini Paman dua.." Terang Laksa sambil menunjuk ke arah satpam satu lagi yang berdiri di samping Dinda.


Satpam itu angguk angguk kepalanya..." Monggo di lanjut Tuan Muda..


"Baiklah.... Paman dua.... Menurut catatan buku kuno yang telah di rilis oleh profesor Muhammad Laksa Ilham.. Paman satu dan Paman dua di bawa kesini untuk bekerja disini menjaga keamanan dan ketenteraman pemilik rumah ini, oleh Nyonya Besar Fatimah.. Maka dengan ini profesor Muhammad Laksa Ilham memutuskan kepada Paman satu dan Paman dua, untuk tidak menyebut nama Tuan Muda Laksa.. Atau Tuan Besar Ilham atau Nyonya Besar Nuri dan Nona Muda Alena.. Keputusan itu sah dan tidak bisa di ganggu gugat.." Terang Laksa dengan gaya tangan di belakang dan berjalan mengelilingi kedua satpam itu.


"Dasar Bocah Sableng.." Gumam Ilham yang melihat adegan anak nya sedang memberi candaan kepada dua satpam rumah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2