
"Bawa mereka ke markas besar Macan Putih.." Fander yang berkata kepada anak buah Bimo itu.
"Baik menerima perintah dari anda Tuan Fander.." Kata lelaki itu membungkuk hormat.
Setelah pembersihan beres di Vila itu, Fander beserta Bimo langsung beranjak menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit dimana Laksa bersama dua orang lainnya yang terluka di rawat.
Sedangkan Ken dan Rex bersama Para Anggota Macan Putih pergi ke markas besar untuk mengintrogasi tiga orang yang kemungkinan anak buah Firza.
##############
"Dokter............ Tolong dok.!!
Tampak seorang wanita muda baru saja keluar dari mobil sambil berteriak dengan panik membuat para petugas rumah sakit juga ikut panik.
Tak lama kemudian para staf medis berdatangan dengan membawa meja emergency dan langsung membawa tiga orang dalam keadaan pingsan dan berlumuran darah menuju langsung ke unit gawat darurat.
"Tolong beri jalan..!
"Ayo cepat..!
Begitu mereka sampai di depan pintu unit gawat darurat, para staf medis itu segera menghentikan seorang gadis yang berteriak tadi bersama dengan tiga wanita yang usia nya di atas untuk tidak ikut serta masuk kedalam ruangan tersebut.
"Maaf Nona Nona Muda. Kalian tidak boleh ikut ke dalam." Kata staf seorang wanita.
"Baik suster, tolong lakukan yang terbaik buat ketiga pasien.." Kata Gadis cantik itu.
"Bagaimana ini Teh sari, Tuan Muda Laksa sangat parah kondisi..?" Tanya Dewi empat kepada Dewi tiga yang tak lain namanya Sari dengan wajah gelisah.
__ADS_1
"Kita hanya bisa menunggu di sini. Teh Intan tenangkan lah, mari kita berdoa bersama sama, semoga Tuan Muda dan Teh Dewi serta Paman Tuan Muda baik baik saja." Kata Dewi tiga kepada Dewi empat dengan nama aslinya Intan.
"Lama sekali ya mereka Teh Intan, Teh Sari.." Kata Dewi dua yang tadi tampak exfresi wajahnya keringatan.
"Sabar lah Teh Wulan. Mungkin saat ini para dokter sedang berjibaku untuk menyelamatkan mereka bertiga. Ini karena walau bagaimana pun cedera yang di derita oleh mereka cukup serius.." Kata Teh Sari bijak dalam memberikan jawaban.
"Apa yang di ucapkan oleh Teh Sari itu bener Teh Wulan, sebaiknya kita tenangkan dan berdoa semoga mereka melewati masa kritisnya.." Terang Teh Intan, dan mereka pun mengangguk.
####################
Iring iringan mobil mewah membelah jalanan di siang itu, suasana jalan menuju kota Ciawi tak seperti biasanya, hari ini masyarakat di hebohkan dengan lintasan lintasan mobil mobil mewah berharga miliaran itu.
Mobil Lamborghini Sian, tampak menambah kecepatan nya ketika saat itu pengemudi mobil tersebut mendapatkan pesan dari Fander bahwa keadaan anak yang baru beberapa hari bertemu dalam keadaan kritis dan di bawa ke salah satu rumah sakit rakyat di kota Ciawi.
"Bajingan kau Firza, kalau sampai anak ku kenapa napa. Aku bersumpah akan membuat mu mati segan hidup pun tak mau.." Rutuk Harsya dengan emosi yang meluap luap.
"Semoga aja Riyan.. Aku bener bener menyesal kenapa tadi waktu di mall, membiarkan anakku pergi untuk menjemput Paman nya.." Keluh Harsya.
"Takdir anak mu itu penuh liku liku, dan kita sebagai Orang Tua yang telah makan pait nya asam garam kehidupan, harus bisa menunjukkan atau mengajarkan jalan kearah yang lebih baik.." Saran Riyan kepada Harsya.
"Yaa.. Terima Kasih sahabat ku, kita sudah sampai kamu atur para pengawal untuk berjaga jaga." Kata Harsya memberi perintah, lalu kemudi pun di belokan dan masuk menuju sebuah bangun serba putih bertuliskan rumah sakit rakyat.
Tampak beberapa pengawal berlarian dan membukakan pintu untuk dua mobil yang posisinya di bagian tengah.
Dua lelaki berusia 40 tahunan lebih keluar dari mobil mewah Lamborghini Sian serta satu wanita anggun yang begitu masih tampak cantik di usia 36 tahun itu, langsung di sambut oleh Tuan Fander, Tuan Bimo yang telah menunggunya dari beberapa menit yang lalu.
"Apakah di RS ini, Laksa dan dua orang lain nya di bawa oleh tiga Dewi Padepokan Cimande dan Non Amanda.?" Kata Tua Besar bertanya.
__ADS_1
"Bener sekali Tuan Besar. Sebelum nya saya dan Bimo sudah masuk ke dalam dan ketiganya di ruangan unit gawat darurat.." Fander menjawab pertanyaan dari majikannya itu.
"Hmmmmmmmm. Ayo kita masuk.." Ajak Harsya.
Langkah kaki Harsya dan Riyan, segera di serobot oleh Fatimah yang, tergesa gesa dan menghawatirkan keponakan nya itu.. Hal itu membuat Harsya dan Riyan hanya tersenyum melihatnya, bukan Ia tak mencemaskan keadaan Muhammad Laksa Ilham yang tak lain anak kandungnya itu, tetapi ada satu alasan yang di pikirkan dalam hatinya.
Pikiran Harsya saat ini, tertuju pada pihak musuh, bila Ia memperlakukan khusus anak nya itu di depan umum, bisa di pastikan Laksa akan di buru oleh orang orang dari perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dan Genk Serigala Merah, walau bagaimana pun mereka akan memutus rantai keturunan keluarga ternama itu.
Begitu Fatimah tiba. Amanda dan ke-tiga Srikandi Padepokan Cimande langsung menghampiri nya dan mengatakan situasi serta kondisi nya.
"Dokter tidak mengijinkan kami untuk masuk, Nyonya Besar..'' Kata Amanda dengan exfresi mata merah karna sudah habis nya air mata nya itu.
"Tidak apa apa sayang. Sebaiknya kita tunggu saja." Jawab Fatimah seraya memeluk erat gadis yang di sukai oleh keponakan nya.
Beberapa menit kemudian, Harsya bersama Riyan dengan di ikuti dua pengawal setia nya Fander dan Bimo pun datang, lalu Harsya pun langsung berdiam diri di depan pintu ruangan itu, dengan menahan rasa tegar di hati nya, padahal siapa sangka dalam hatinya Ia menangis histeris.
Cukup lama juga Harsya, Riyan dan yang lainnya menunggu dengan gelisah. Ini terutama bagi Amanda. Dia di depan matanya sendiri bagaimana melihat pemuda yang mengulurkan tangannya dari jurang kenistaan terluka begitu parah.
Tampak seorang dokter bersama beberapa staf keluar dari ruangan itu. Dan langsung di sambut oleh Harsya dengan sebuah pertanyaan.
"Dokter bagaimana dengan keadaan tiga pasien yang di bawa oleh bawahan saya..?" Tanya Harsya.
"Maaf, sebelum nya dengan siapa saya berbicara dan apa hubungan anda dengan pasien..?" Tanya Sang dokter itu.
"Nama saya Harsya Badzil Ismail Abdullah dan ketiga pasien itu adalah saudara saya. Oh ya... Tuan Dokter di samping saya ini adalah, pacar dari salah satu pasien yang di bawa.." Harsya menunjuk dengan jempol ke arah Amanda yang berdiri di samping Fatimah.. Amanda seketika tercengang dengan ucapan yang di ucapkan oleh pemilik perusahaan terbesar se-Asia itu.
Bersambung.
__ADS_1