Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Target Firza Keluarga Dewi dan Keluarga Indah


__ADS_3

"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan.!!


"Ahk....................!!


"Syetan..................... Alas.........." Teriak Firza, kesal karna sudah hampir sepuluh kali Ia menelepon kepada Jhon Koplak yang di beri tugas untuk membunuh Harsya dan Riyan seketika tidak bisa di hubungi..!


Dengan emosi yang tertahan dan darah mengalir kedalam pori pori nya, Sang Ketua Serigala Merah itu pun keluar dari ruangan khusus nya.


Sesampainya di salah satu ruangan yang tampak terlihat luas mirip seperti gudang Firza pun langsung berkata dengan nada teriak.


"Fikri............................!!


Lelaki berusia 25 tahun yang sedang memegang kendali barisan Anggota Genk Serigala Merah dengan rapi pun langsung menoleh dan berlari cepat kearah suara yang memanggil nya.


"Siap menerima tugas Ketua.." Ucap Fikri setelah sampai di hadapan Firza dengan napas ngos ngosan.


"Fikri... Segera berangkat bersama dua puluh Anggota kita ikut bergabung dengan para Ninja yang sudah di persiapkan oleh Tuan Besar Naga Saki Sempur dan malam ini saya tidak mau tahu target Keluarga indah dan Dewi yang menjadi Istri dari Riyan harus di bawa kesini dalam keadaan hidup atau mati..'' Ucap Firza memberi perintah.


"Siap Ketua... Kalau boleh tahu dimana letak posisi para Ninja yang sudah di persiapkan oleh Tuan Besar Naga Saki Sempur..?" Tanya Fikri.


"Sesuai rencana yang sudah di tetapkan dalam acara pertemuan malam itu.. Lima puluh Ninja kini sudah membaur di kota dimana tempat Indah dan Dewi berada.. Kamu dan dua puluh Anggota Genk Serigala Merah menunggu di jalan provinsi Sukabumi dan Cianjur.." Terang Firza.


"Siap Ketua detik ini juga saya akan berangkat dan tepat malam ini, tugas yang anda berikan akan sangat mudah untuk di laksanakan.." Jawab Fikri jumawa yakin bahwa tugasnya mudah.


Firza berlalu setelah memberi penjelasan dan perintah kepada Fikri selaku orang yang di percaya penuh oleh Firza selain Jhon Koplak.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu Firza pun sampai di salah satu rumah sederhana dengan menggunakan mobil mewah pemberian dari sang majikan Tuan Besar Simon.


Lelaki berusia empat puluh lima tahunan itu turun dari mobil dan langsung berjalan menuju sebuah pintu dimana seorang wanita memakai daster ibu ibu sudah menunggu kedatangan nya.


"Mawar.......... Dimana pemuda itu..?" Tanya Firza setelah sampai di pintu masuk dan kini berhadapan dengan wanita yang di panggil mawar.


"Dia ada di dalam, masuk lah terlebih dahulu..'' Pinta mawar.!


"Iya.! Buat kan aku kopi hitam." Titah Firza kepada wanita itu.. Hal itu langsung di balas anggukan oleh Mawar.


Sesampainya di ruangan tengah, bener saja apa yang di katakan oleh Mawar, bahwa pemuda itu sudah ada dan Ia sedang menikmati nikmatnya kopi di sertai isapan rokok kretek hingga ruangan tamu yang tak luas itu penuh dengan asap rokok.


"Siapa nama mu anak Muda.?" Tanya Firza yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Hamba Sardjono.!!


"Yaa..." Angguk nya.!


"Anak ini tampak terlihat biasa biasa aja, tak mempunyai kemampuan bertarung, apakah Mawar hanya omong doang, bahwa anak yang di hadapanku mempunyai kekuatan khusus.." Batin Firza bergejolak tak ada rasa percaya sedikitpun.


"Tuan Firza bila kau melihat ku dari mata kasar dan berucap dalam hati aku hanya orang biasa, itu adalah hal wajar.. Tapi bila ingin bukti boleh mencoba nya.." Ucap Sardjono menebak pikiran yang ada di hati Firza.. Hal itu membuat Sang Ketua Serigala Merah langsung tersentak kaget.


"Hahahahaha....... Hahahahaha..... Aku percaya, percaya dengan kau bisa membaca pikiran dan hatiku, kamu mempunyai ilmu kebatinan yang sangat mumpuni dan tugas ini memang lebih cocok aku serahkan kepada diri mu.." Tawa Firza pemuda di hadapannya itu memang bisa di andalkan.


Mawar pun datang membawakan gelas berisi kopi hitam permintaan dari Firza sambil bertanya." Ini kopi yang kamu minta, apakah sudah berdiskusi dengan keponakan ku.?

__ADS_1


"Yaa sudah.!!


###########


Sementara di salah satu pusat kota kecil daerah Jawa Barat, tepatnya di salah satu rumah yang paling mewah di antara rumah rumah lain nya, tampak seorang wanita setengah tua yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di telinga nya menelepon seseorang yang tak kunjung di angkat.


Dewi Istri dari Riyan Putra Pratama, hatinya begitu gelisah sesaat setelah menerima kabar telepon dari sahabat nya yang hanya berjarak lima kilo rumah nya, mengabarkan bahwa dirinya dalam intaian orang orang berpakaian misterius dan bermata sipit.


Kegelisahan yang di rasakan oleh Dewi dan Indah, bukan isapan jempol karena waktu perang besar terjadi kedua Orang Tua nya serta kerabat kerabat nya tewas di bunuh oleh para ninja yang sebelum kejadian itu para ninja itu berbaur dengan masyarakat yang ada di kampung Orang Tua mereka.


Panggilan pun terhubung, kata salam di terima oleh Dewi setelah hampir tiga puluh menit Ia telepon tak di angkat oleh Riyan.


"Istriku ada hal penting apa kau menelepon kepada ku, yang tengah sibuk bersama Harsya..?" Tanya Riyan dari sebrang telepon.


"Mohon Maaf suamiku.. Tapi aku dapat informasi dari Indah bahwa aku dan Indah sedang dalam intaian orang orang misterius bermata sipit... Mereka semua mengingatkan ku tentang pembantaian sembilan belas tahun yang lalu, dimana mereka adalah para Ninja yang di kerahkan oleh Naga Saki Sempur selaku musuh utama Tuan Besar Harsya.." Terang Dewi menjelaskan panjang lebar tentang dirinya menelepon.


"Yaa...... Mereka bener para Ninja istriku.. Tapi kau bersama anak anak kita dan keluarga Indah jangan khawatir, usahakan setelah Magrib berangkat menuju kediaman Syamsul.. Aku bersama Harsya dan Anggota Macan Putih akan mencegatnya dan membumi hanguskan malam ini.." Ucap Riyan dengan amarah yang di tahan tampak exfresi wajah nya penuh Aura membunuh.


"Tapi suamiku aku takut, sebelum sampai di lokasi dimana kamu dan para Anggota Macan Putih mencegat para Ninja Naga Saki Sempur, mereka sudah menghabisi ku dan Indah.." Kata Dewi.


"Kamu tenang saja istri ku.. Orang orang kita sudah berada di tempat kamu dan Indah berada, yang penting kamu segera informasikan kepada Indah agar tak menaruh curiga bahwa kamu sudah mengetahui sedang dalam intaian pihak musuh.." Terang Riyan.


"Baiklah kalau Suami ku sudah berkata begitu. Dan saat ini juga aku akan menelepon Indah untuk memberikan kabar apa yang kau katakan.." Ucap Dewi pasrah, padahal dalam hatinya di selimuti oleh ketakutan yang akan terjadi di depan matanya.


"Silahkan istriku, kamu tenang saja dan santai tidak akan ada yang menyentuh keluarga kamu dan Indah selama Riyan Putra Pratama masih hidup.."

__ADS_1


Panggilan telepon suami istri pun berakhir dan Dewi segera menelepon sahabat nya Indah, menjelaskan semua apa yang baru saja di katakan oleh suaminya.!


Bersambung.


__ADS_2