Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Penjelasan Dari Laksa


__ADS_3

"Bibi Fatimah nanya, bibi bertanya tanya... Hahahahahha.." Laksa mencoba menggoda Fatimah yang di buat nya penasaran dengan apa yang di miliki oleh Laksa.


"Bocah Sintinggggggggggg..." Teriak Fatimah.."


"Pletakk................!


"Ampun bibi, cuma bercanda, ampun.." Laksa merengek meminta ampun karna lagi dan lagi terkena pukulan tangannya kearah kepalanya.


Semua orang di buat nya tercengang dan geleng geleng kepala atas tingkah konyol pemuda itu yang bisa bisa nya menggoda seekor maung yang bila marah membuat seluruh tubuh nya lemas.


Rasa penasaran pun melekat dalam pikiran Junaedi dan seluruh Anggota Macan Putih yang berada di sini, siapakah pemuda itu, dengan berani nya dan mengacuhkan pertanyaan dari Nyonya Besar Fatimah, atau bisa di sebut tubuh dari padepokan Macan Putih.


"Ayo jelaskan, dimana kamu belajar beladiri, baru bibi bisa mengampuni kelakuan yang sinting ini.." Ucap Fatimah setelah memukul kepalanya, kini telinga nya yang menjadi targetnya.


"Hehehehe, baik baik Laksa jelaskan tapi lepaskan tangan bibi yang menjewer telinga ku.." Pinta Harsya sambil terkekeh.


"Aish........ Awas kau kalau tak menjelaskan nya.." Ancam Fatimah, seraya melepaskan jeweran nya.


Sesaat Ia mengelus ngelus telinga yang tampak memerah dan panas akibat terkena jeweran dari sang bibi, lalu setelah itu Laksa menarik napasnya dalam dalam, matanya menadah keatas mengingat pertemuan tiga tahun yang lalu dimana Ia di paksa untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh lelaki tua itu.


............................... Malam itu tepat malam Selasa Kliwon. Usia ku kalau gak salah 16 tahun karna baru kelas satu SMA.


Seperti biasa hari hari ku menjalani aktivitas di malam hari dengan mengumpulkan barang barang bekas bersama sang ayah..


Tepat di pukul 23:00 dan karung goni yang aku bawa sudah lumayan berat dengan barang di dalam seperti kaleng serta botol minuman, aku pun melangkah untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Ketika hendak melewati jembatan yang ada di kota tempat aku dan ayah mengumpulkan barang barang bekas, ada seorang lelaki tua menegur ku.


"Anak muda tolong berhenti sebentar..! Lelaki Tua yang tengah berdiri di bahu jalan mencoba menegur seorang pemuda yang sedang memikul barang bawaan dengan karung goni.


Laksa pun lalu berhenti dan karung goni yang Ia pikul dalam punggung nya seketika di turunkan, setelah itu lalu bertanya kepada lelaki tua itu.


"Iya Kek ada apa.?" Laksa bertanya dan berdiri di samping lelaki tua itu.


"Anak muda, apakah kau mau tahu siapa diri kamu sebenarnya.. Jalan hidup mu seperti ini tak layak buat kamu yang mempunyai tanggung jawab besar di pundak mu.." Lelaki tua itu berkata dan memberikan sebuah pilihan yang tak di mengerti oleh Laksa.


"Maksud dari Kakek..!!


"Aku bener bener tak mengerti Kek.." Ucap Laksa kini wajahnya menoleh dan kedua matanya menatap kearah lelaki tua itu, Tampak keriput di wajahnya terlihat dan keyakinan bahwa usia nya menginjak 70 tahunan.


"Hei.............. Anak Muda..... Ingat Gunung Kencana, Kakek Tua ini menunggu mu..." Teriaknya dari sebrang jalan, Laksa hanya melongo dan entah ada dorongan apa kepalanya mengangguk dengan sendirinya.


Dalam berkecamuk pikiran dan hatinya, Laksa pun kembali memikul karung goni yang sempat Ia simpan dan meneruskan perjalanan menuju rumah nya.


Singkat Cerita, Laksa pun mencoba memenuhi permintaan dari lelaki Tua itu yang menunggu nya setiap malam Selasa dan malam Jumat di sebuah bukit yang di kenal dengan Nama Gunung Kencana.


Sesampainya di salah satu puncak Gunung Kencana, benar saja kakek tua itu sudah menunggu nya dan langsung memperkenalkan diri nya bernama, Kakek Guntur.


"Bibi Fatimah, Tuan Besar dan yang ada di sini, malam itu Kakek Guntur tidak mengajarkan ku tentang tehnik beladiri atau pun Ajian..." Terang Laksa.


"Lalu apa atuh Sa yang di ajarkan oleh Kakek Guntur itu, Bibi tak percaya, jelas jelas kamu jago dalam beladiri dan mampu mengalahkan sepuluh murid inti padepokan Cimande dan dengan kedua mata ini, bibi melihat mu mampu mengalahkan Junaedi yang jelas jelas ilmu beladiri nya berada di tingkat atas.." Kata Fatimah.

__ADS_1


Laksa terdiam, wajah nya menunduk... Bibi Fatimah malam itu Kakek Guntur hanya memerintahkan Laksa untuk berpuasa mutih dan mengajarkan sebuah amalan yang entah apa manfaat aku gak tahu.."


"Puasa mutih.!!


"Yaa bibi.." Angguk Laksa.!


"Empat puluh satu hari aku menjalani puasa mutih dan empat puluh satu malam amalan aku hapalkan di sepertiga malam, yang entah apa kegunaan atau manfaat nya, Laksa bener bener tak tahu."


"Muhammad Laksa Ilham, setelah kau menjalankan apa yang di suruh oleh Kakek Guntur selama empat puluh satu hari satu malam..?" Tanya Harsya penasaran dengan cerita dari anak nya.


"Tuan Besar, aku masih ingat waktu itu.. Tepat di malam Jumat dimana aku dan Kakek Guntur berpisah, dia sempat berpesan.."


"Cucuku, tugas ku sudah selesai dan malam ini, malam perpisahan bagi kita, aku akan kembali ke tempat dimana aku tinggal semestinya."


"Cucuku setelah kepergian ku, aku harap kau tak pernah meninggalkan Gunung Kencana ini, karena semua rahasia dalam dirimu, akan terungkap di sini. Siapa Dirimu.?" Dari Mana asal mu..?" Dan Harus kemana langkah hidup mu.


"Bersiaplah, Kakek akan memberikan mu satu Anugrah, yang akan berguna untuk menghadapi setiap kesulitan mu." Terang Kakek Guntur malam itu.


"Tuan Besar, Paman Riyan dan Bibi Fatimah, malam itu Laksa di suruh untuk duduk bersila sambil membaca amalan yang di berikan oleh Kakek Guntur selama tiga jam lebih tanpa harus membuka mata.


Saat itu diriku pokus pada apa yang di katakan oleh Kakek Guntur dan tak ada rasa dalam pikiran ku untuk memikirkan yang lain, jiwa dan raga bersatu dalam kalbu menerima semua yang telah di tentukan oleh sang illahi, hangat dan sejuk seluruh darah yang mengalir pada tubuhku malam itu hingga tak terasa pagi pun berlalu dan itu terakhir kali nya Laksa berpisah dengan Kakek Guntur, yang bisa di maksud adalah guru spiritualnya.


"Jadi mohon maaf sekali, bahwa aku Laksa, tak pernah sama sekali belajar beladiri, adapun sekarang atau pun sebelum belum nya mampu menghadapi apa yang menjadi lawan ku, mungkin itu hanya sebuah Anugrah atau pun Khodam yang ada dalam tubuhku.." Terang Laksa kepada semua yang ada di halaman luas milik Fatimah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2