Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Permintaan Fatimah


__ADS_3

Dinda waktu itu memperlihatkan pemuda yang Ia sukai kepada Fatimah... Sekilas Fatimah tersentak kaget hingga Ia menganga mulutnya.... Rasa penasaran Fatimah kepada Laksa pun kini terjawab sudah bahwa Ia adalah anak dari Nuri dan Ilham.


Tapi sebelum test DNA itu di lakukan dan hasil nya bahwa Laksa bener bener anak dari Nuri baru Ia percaya bahwa pemuda tersebut bukan anak dari Halimah, kakak kandungnya yang telah sembilan belas tahun menghilang.


"Nak..... Laksa untuk saat ini.. Ibu hanya ingin mengenal mu lebih dekat... Apakah kamu mengijinkan..?" Tanya Fatimah.


"Aduhhh Nyonya Besar........ Apa yang mau di kenal dari seorang pemuda yang berprofesi sebagai pemulung... Bisa bisa Drajat ibu turun drastis..." Keluh Laksa..


"Hehehehe....... Lihatlah sekeliling mu Nak... Bila ibu mau, untuk apa hidup di sini, yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan segala sesuatu bisa di dapat dengan mudah... Tapi Ibu meninggalkan semua nya dan hanya butuh ketenangan dalam menjalani hidup bersama suami dan satu anak yang baru duduk di kelas 11 di SMK Negeri Sukabumi." Kata Fatimah..


"Masuk akal juga sih........... Yaa udah terserah Nyonya Besar Fatimah saja..." Pasrah Laksa... Hingga Fatimah dan Dinda mengangguk tersenyum...


Obrolan mereka berdua pun berakhir dan waktu pun menunjukkan pukul 15:00 Hampir empat jam lebih mereka bertiga mengobrol.. Dinda pun berpamitan kepada Fatimah.


##################


Sementara di kota besar Ibu kota Jakarta.. Tepat nya di salah satu gedung pencakar langit, beberapa staf dan karyawan sedang di sibukkan dengan kondisi darurat perusahaan yang semakin tahun selalu merosotnya setelah sang pemilik perusahaan terbesar di Asia itu tak bergairah hidupnya, karena sampai detik ini wanita yang sangat Ia sayangi dan cintai di buru oleh pihak musuh.


Sudah hampir sembilan belas tahun lamanya, sang istri yang waktu itu sedang mengandung sembilan bulan, lari dari kejaran musuh bersama dua pembantu kembar nya dan sampai saat ini jejak nya tidak di temukan.


Para sahabat pemilik perusahaan terbesar se-Asia itu, sudah berusaha untuk menghibur nya tetapi kepedihan yang di alami nya semakin dalam dengan di tambah nya dua sosok pasangan paruh baya yang telah pergi menghadap sang ilahi, lengkap sudah kesedihan dan kepahitan hidup bagi sang pemilik perusahaan besar itu.


"Tok......... Tok.......... Tok........ Ketukan pintu dari luar terdengar oleh lelaki berusia 42 tahun itu yang berada di ruangan komisaris besar perusahaan miliknya.


"Masuk..." Teriak Lelaki itu dari dalam ruangan.!

__ADS_1


"Ceklek........ Lelaki yang usia nya hampir sama itu membuka pintu ruangan dan bibir nya tersenyum kearah kursi yang di duduki oleh sang empu perusahaan.


"Tua bangka sampai kapan kau akan terus menerus begini... Ikhlaskan lah semua takdir yang telah menimpa dirimu dan cepat lah selamatkan perusahaan mu ini, bila kau terus menerus begini, para bawahan dan seluruh karyawan perusahaan mu akan membencimu seumur hidup dan Kakek serta nenek bersama Kedua Orang Tua angkat mu yang sudah tenang di alam nya, akan ikut bersedih.." Kata Lelaki yang baru masuk itu memberi nasehat.


"Riyan...." Hanya itu kata yang terucap oleh lelaki yang di panggil tua bangka itu.


Orang yang di sebut dengan nama Riyan itu pun langsung duduk di kursi dan kini berhadapan dengan sang pemilik perusahaan, mata nya menatap tajam kearah nya lalu Ia pun berkata.


"Harsya Badzil Ismail Abdullah... Sang Tukang Ojeg Tampan.. Aku pun merasakan kesedihan dan kepedihan mu yang teramat dalam.. Andai saja waktu bisa di putar lagi, aku bersama orang orang yang setia kepada mu, rela untuk menukarkan nyawa ku dengan nyawa istri mu.." Ucap Riyan lalu Ia termenung, mengingat ngingat malam yang begitu panjang tragedi berdarah keluarga Harsya dan Halimah.


"Sudah lah Riyan, jangan kau ungkit lagi masa lalu itu.. Hingga hatiku tak menerima tentang kematian istriku dan anak yang ada dalam kandungan nya.. Sembilan belas tahun aku mencoba untuk melupakan tetapi tidak bisa dan kini kau datang ingin mengungkit lagi masa kelam itu, maka kau dan yang lainnya siap siap untuk tidak bekerja di perusahaan ku karna, saya jamin perusahaan ku ini akan binasa.." Keluh Harsya dengan mata berkaca-kaca..


"Ok......... Aku tak akan mengungkitnya lagi.. Tetapi saya mohon kau kembali kepada Harsya yang dulu, Harsya yang ceria, Harsya yang bisa membuat orang orang di sekitarnya tertawa hah.." Kata Riyan sedikit nada membentak.


"Maaf sahabat ku.... Tetapi........ Kalimat nya terhenti ketika ponsel nya berdering..


"WaallAikum Salam Warohmatuullahi Wabarakatuh.. Kak Harsya lagi dimana.. Apakah Fatimah mengganggu waktu kakak..?" Tanya satu suara di sebrang telepon yang tak lain adik Istrinya itu.


"Tidak adikku... Emang ada apa.?" Tanya Harsya..


"Begini Kak... Fatimah hanya mau ngasih tahu.. Hari Minggu sekarang haol kematian ayah mertua mu lima belas tahun yang lalu yang biasa di acarakan di padepokan Macan Putih sekaligus mendoakan Kak Halimah yang sampai saat ini, apakah sudah meninggal atau belum, karna belum terbuktinya jasad dari kak Halimah.


"Yaa Kakak seperti biasa tidak akan datang, karna bagi kakak itu terlalu menyakitkan, adikku.." Keluh Harsya.


"Tapi Kak..... Sekali ini saja kakak hadir dalam acara haol itu yang akan di adakan di kota Sukabumi.. Di kediaman Syamsul... Fatimah mohon untuk kali ini saja.." Ucap nya dengan nada memaksa.

__ADS_1


"Harsya bungkam seribu bahasa, biasa adik iparnya tak begitu, bila dirinya sudah berkata tidak... Fatimah selalu menuruti nya.. Tetapi ia sampai bermohon untuk datang dan yang lebih anehnya lagi haol kali ini di kediaman Syamsul... Sebenarnya ada apa...." Batin Harsya bergejolak.


"Kak Harsya apakah masih di sana.?" Tanya Halimah menunggu jawaban dari sang kakak iparnya.


"Masih........... Adikku....!


"Jadi bagaimana Kak. Apakah kakak mau menghadiri acara nanti malam Senen..?" Tanya Ulang Fatimah..


"Insyaallah lihat nanti ya Fatimah.." Jawab Harsya...!


"Pokoknya Fatimah tak mau tahu Kakak harus datang.." Katanya penuh dengan pemaksaan...


"Baiklah...... Kakak akan datang... Puas kamu adik paling cerewet..............!


"Hehehehe..... Makasih Kak Harsya........ Lalu telepon pun di tutup...


"Uhk........... " Dengus Harsya seraya mengacak rambutnya.


"Kenapa..?" Tanya Riyan..


"Seperti biasa Fatimah meminta ku, untuk hadir dalam acara haol Kiayi Sepuh dan istrinya.. Bukan aku gak mau datang, tetapi bila aku menginjak ke padepokan Macan Putih itu... Hati ini teringat Abah dan Umi serta istriku yang entah masih hidup atau tidak.." Terang Harsya.


"Ohk.... Apakah seperti biasa kau tidak akan datang..?" Tanya Riyan..


"Yaa kan tadi kamu sendiri mendengarkan nya, tapi Fatimah memohon kali ini untuk datang dan yang gue aneh sekarang haol nya mau di laksanakan di kediaman Syamsul... Aneh kan pikirku.." Kata Harsya...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2