
Pukul 02:00 dini hari rumah sakit rakyat Ciawi.
Fatimah dan Amanda mulai gelisah dan mondar mandir di depan pintu ruang operasi. Hati nuraninya mulai berpikir yang macam macam saat ini.
Dalam kekelutan batin mereka berdua, tampak pintu ruangan itu terbuka dan muncul lah seorang dokter dengan wajah kelelahan.
Begitu Dokter itu muncul, Fatimah langsung memberondong Dokter tersebut dengan pertanyaan.
"Dokter... Bagaimana dengan keponakan saya?" Apakah operasi nya lancar.?" Apakah dia akan baik baik saja.?" Fatimah bertanya dengan satu tarikan nafas.
"Nyonya Fatimah.. Operasi berjalan dengan lancar. Saat ini pasien sudah melewati masa masa kritis." Kata Dokter itu sambil menarik nafas panjang. Tampak terlihat dari wajahnya bahwa dia juga merasa sangat bersyukur dengan kesuksesan operasi yang di lakukan nya bersama dengan team.
"Syukur lah. Terima Kasih dokter... Terima Kasih banyak.." Kata Fatimah tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagia nya itu.
Sementara Amanda langsung bersujud syukur atas operasi yang di lakukan oleh Dokter bersama team nya berhasil menyelamatkan pemuda yang sangat Ia kagumi karena sipat dan adab nya itu, walau pun dalam hatinya itu menyimpan ribuan pertanyaan kepada Laksa, yang tampak terlihat spesial di hati Nyonya Fatimah dan Tuan Harsya. Belum di tambah lagi perlakuan khusus tiga Srikandi Padepokan Cimande yang memanggil Laksa dengan sebutan Tuan Muda.
Bagi Amanda, hal itu bukan sekedar supir pribadi Nyonya Besar Fatimah, melainkan Laksa itu masih ada darah dari Tuan Besar Harsya karna sekilas wajah nya sangat mirip.
Ketiga Srikandi Padepokan yang kala itu tidur tidur ayam segera terjaga dan berulang kali mengucapkan puji syukur.
Baru saja Fatimah dan Amanda akan duduk di kursi ruang tunggu itu, dari ujung lorong tampak sepasang suami istri beserta seorang gadis berusia 16 tahun berjalan kearah nya.
"Bu Nuri.. Pak Hilman.. Alena, kalian di antar siapa kesini..?" Tanya Fatimah. Sementara Amanda hanya bisa diam membisu dirinya tidak tahu siapa yang datang itu.
"Menjawab anda Nyonya Besar Fatimah.
__ADS_1
"Kita sekeluarga di antar oleh salah satu pengawal Tuan Besar Harsya, dan kata beliau, kami sekeluarga yang akan menjaga Muhammad Laksa Ilham, agar kesehatan dan kondisinya semakin membaik.." Kata Ilham menerangkan.
"Ohk. Begitu, bagaimana kondisi dan acara haol ayah ku.?" Tanya Fatimah.
"Alhamdulillah acara berlangsung tentram dan ketika kita sekeluarga berangkat kesini, acara tersebut masih belum beres, menunggu satu mubaligh lagi untuk tampil di panggung.." Terang Ilham.
"Nyonya Besar bagaimana keaadaan anak saya beserta adik ipar dan Dewi satu.." Kata Ilham lagi, Dia ingin mengetahui kondisi mereka bertiga.
"Baru saja Dokter mengatakan bahwa operasi berjalan lancar. Mungkin sebentar lagi Laksa akan di pindahkan dari ruang operasi. Sementara untuk Pak Asep Sukardi dan Srikandi satu keadaan tidak separah Laksa serta dari tadi sore sudah di ruangan inap.." Terang Fatimah dengan menghela nafasnya panjang panjang.
"Oh... Syukur lah. Nyonya Besar Fatimah dan Non Muda sebaiknya anda berdua istrahat lah, biar kami yang gantian berjaga.." Kata Nuri. Dia bener bener tak tega sesaat melihat keaadaan Fatimah yang tampak kelihatan dari wajahnya kelelahan dan sangat kuyu.
"Bu Nuri. Aku tidak bisa. Hatiku belum tenang, sebelum melihat seperti apa keaadaan keponakan ku." Kata Fatimah.
"Baik lah. Kita sama sama akan menunggu di sini.." Jawab Nuri mengalah.
Melihat keaadaan Laksa, mereka berempat pun cukup lega dan mengucapkan rasa syukur.
"Alhamdulillah ternyata Kak Laksa baik baik saja." Ucap Hati Amanda.
"Nyonya anda sudah melihat keaadaan keponakan mu. Sekarang sebaiknya anda bersama Non Muda istrahat lah.." Kata Ilham menganjurkan agar Fatimah dan gadis di sampingnya segera beristirahat.
"Baik lah. Aku meminta tolong kepada kalian bertiga, untuk berjaga jaga. Pak Ilham dan Bu Nuri berjaga duluan selama dua jam, lalu nanti bangun kan saja saya bersama Amanda dan Alena untuk bergiliran.." Kata Fatimah lalu mereka segera menyusul perawat yang membawa Laksa ke ruangan VIP.
Sementara Ketiga Srikandi berjaga-jaga di ruangan dimana Srikandi satu di rawat. Sedangkan untuk Paman Asep Sukardi di di jaga oleh Fander dan Bimo.
__ADS_1
****************************
Malam masih di kuasai oleh Sang Raja malam, kicauan burung malam saling bersahutan dengan sesekali di timpali oleh suara suara jangkrik dan tongeret.
Di salah satu perbukitan yang ada di lokasi dua jalan perbatasan antar kecamatan di kota kecil itu, tampak tiga lelaki sedang duduk di sebuah sahung yang berada di tengah tengah bukit Gunung Kuncung.
Tiga lelaki itu, kini posisinya menjadi target buruan atau istilah DPO dari pihak kepolisian dan para Anggota Macan Putih, setelah perbuatan yang di lakukan nya itu tak berhasil serta di gagalkan oleh Bimo dan para bawahan nya.
Semua aplikasi yang di punya dalam ponsel masing masing, ia matikan, agar pelarian dirinya tidak bisa di lacak oleh alat pelacak yang di punya oleh kepolisian.
"Ray... Mungkin esok kita langsung menuju wilayah barat dan langsung menemui guru kita.." Kata Diki di sela ucapan nya itu.
"Yaa kita harus segera menemui Guru kita dan menutup segala permasalahan yang terjadi tadi siang.." Jawab Ray.
"Itu sangat susah, permasalahan kali ini sangat patal dan kemungkinan guru kita akan terlibat dengan ke tangkap nya Sueb, Imron dan Karto.." Kata Andri ikut memberi masukan.
"Santai aja, guru kita akan terlibat dalam masalah ini, para pihak lawan, akan beranggapan dan menjurus kepada majikan Tuan Bruno, yang tak lain Tuan Muda Firza sang Ketua Genk Serigala Merah.." Ray meyakinkan sahabat Andri yang kemungkinan terbesar guru nya akan menjadi incaran mereka.
"Yaa.. Aku juga sependapat dengan Ray.." Ucap Diki.
"Namun aku masih penasaran dengan pemuda yang datang tiba tiba, lalu menyerang Sueb dengan membabi buta, cara bertarung nya tidak bisa di lihat dia dari padepokan atau perguruan di negri ini.." Sambung Diki.
"Tenang saja rasa penasaran mu akan terbuka ketika kita sudah menemui guru kita.." Kata Andri, dirinya pun sama hal merasakan rasa penasaran yang teramat dalam. Ini karena secara langsung Ia bertarung dengan Laksa. Berbeda dengan Ray yang sedang menghadapi ke-tiga Srikandi Padepokan Cimande siang itu.
"Yaa.. Esok subuh kita berangkat ke wilayah barat, dan usahakan memakai masker untuk menghindari pihak kepolisian dan para anggota Macan Putih yang kemungkinan sudah tersebar di daerah Jawa Barat.." Kata Ray mengingat kan nya, hal itu mereka berdua mengangguk.
__ADS_1
Obrolan di malam menuju dini hari itu, tak terasa hingga mereka bertiga pun terlelap dalam dingin nya malam, di daerah pegunungan yang cuaca nya begitu dingin dan mampu menusuk tulang.
Bersambung.