
"Aku sungguh tidak mengerti Tuan Riyan, apa yang baru anda katakan.. Bisa kah kau menjelaskan nya.." Pinta Amanda.!
Mobil Pajero Sport yang membawa Amanda kini sudah sampai di kota Sukabumi dan langsung menuju ke sebuah jalan yang akan membawa gadis cantik itu pulang ke rumah nya..!
"Amanda.. Ini kartu nama ku dan nomor telepon sudah tertera di kartu nama ini.. Esok pagi atau malam nya, temui lah Wa Omah dan ketika Wa Omah sudah mengajak mu untuk mengobrol bersama dengan Cok Ben serta istri istri nya, kamu jangan lupa untuk memberikan nomor telepon ku pada mereka berempat, khususnya kepada Wa Omah..." Terang Riyan dan mobil pun terhenti tepat di sebuah gang yang menuju jalan kerumah nya Amanda.
Gadis itu hanya terpaku, pikiran nya berkecamuk, kenapa lelaki yang mengantarkan bisa tahu dengan semua yang ada di kampung nya itu.. Wa Omah.. Kakek Ucok dan Beni serta Kedua istri nya, Siapa mereka, setahu Amanda mereka hanya orang kampung yang sama dengan diri nya, hidup jauh dari kata mewah nya dunia.
"Ingat Amanda, ketika mereka berempat dan Wa Omah sudah duduk bersama segera nomor telepon dari saya untuk di berikan, agar Tuan Muda Laksa bisa sadar dan pulih dari koma nya.." Riyan nongol dari jendela mobil untuk sekedar mengingatkan gadis itu yang sudah turun dari mobilnya.
*****
"Wa Omah... Kakek Ucok Kakek Beni dan Nenek kembar, begitu lah yang ingin Nda sampaikan dan berikan sebuah kartu nama ini untuk Wa Omah, karna kata Tuan Riyan sadar nya Kak Laksa ada kaitannya dengan Amanda.." Gadis itu menjelaskan panjang lebar semua yang di bicarakan oleh Riyan Putra Pratama.
Halimah menerima kartu nama dari Amanda, Ia tersenyum sumbing di bibirnya.. Ponsel pun di ambil dari saku celananya, lalu kontak telepon pun di pencet.
"Halo. Siapa ini..?" Tanya satu suara dari sebrang telepon.
"Riyan kamu sekarang posisi dimana?" Aku Halimah Ihsan Permana ingin bertemu hari ini dan detik ini juga.." Sosok wanita yang di latih langsung oleh Kiayi Sepuh kini telah kembali dan menggetarkan tulang tulang Cok Ben dan istri Istri nya.!
Dunia akan berubah, Dimana sosok macan betina telah turun gunung, tak akan ada yang mampu menghalangi nya, mereka yang berani berurusan akan musnah di telan auman seekor singa betina.
"Nyo... Nyon... Nyonya....... Besar.." Si penelepon yang ada di sebrang telepon itu terbata bata.. Hingga suara nya langsung terhenti begitu saja!
"Nyonya Besar.. Saat ini juga Riyan akan langsung meluncur ke tempat anda.." Kata si penelepon yang tak lain Riyan sahabat dari suaminya itu.
__ADS_1
"Itu lebih baik saya tunggu.. Usahakan kamu seorang diri datang kesini.." Kata Fatimah menekan.
"Menerima perintah Nyonya Besar.." Kata Riyan, lalu panggilan pun berakhir.!
###################
Di waktu yang sama, tepatnya di wilayah barat jauh dari pelosok kota di salah satu bukit Gunung yang tampak angker di daerah itu.
Sosok lelaki paruh baya dengan melingkar di leher nya seutas tali putih dan tangan memegang tongkat dengan kepala tongkat itu sebuah kepala manusia, keluar dari gubug reot berjalan menghampiri tiga pemuda yang sudah meninggalkan Padepokan nya selama dua tahun itu.
"Kalian masuklah dan beristirahat terlebih dahulu.." Ucap lelaki paruh baya itu, mampu menggetarkan seluruh tubuh ketiga lelaki itu hingga lemas tak berdaya.
"Baik Eyang Guru.." Ketiga nya menjawab serempak dan langsung beranjak masuk kedalam gubug itu.
Setelah ketiga lelaki muda itu masuk, sosok pria paruh baya itu pun langsung menatap tajam keatas langit, mata batinnya mengelana mencari kedua muridnya yang tak bersama dengan mereka bertiga.
"Tap.... Tap.... Tap......" Langkah kaki Kakek tua itu terdengar mistik di area kampung yang di juluki oleh warga sekitar dengan sebutan kampung siluman, yang konon katanya Kakek tua yang mempunyai kesaktian di luar nalar akibat bersekutu nya dengan bangsa siluman ular.
"Kreakk....................."
"Kenapa kalian bisa kalah oleh seorang bocah tengik yang kekuatan nya jauh dari kalian berdua hah.." Kakek Bara berjalan dengan menggunakan tongkat di usia yang hampir seratus tahun lebih itu.
"Eyang Guru.. Kami bertiga sudah menganggap enteng musuh yang tampak terlihat dari mata batin tidak mempunyai kekuatan dan daya tempur, namun setelah berkelahi dengan nya, kami sadar bahwa pemuda itu bukan kaleng kaleng.." Terang Ray menjelaskan.
"Dia adalah Cucu dari musuh ku dan murid dari Kiayi Geni Ulum.. Dia di beri ilmu oleh seorang lelaki busuk yang keberadaannya tak bisa di lihat oleh mata biasa.. Hanya orang orang pilihan yang bisa melihat siapa yang mengajarkan ilmu beladiri tingkat dewa.." Kakek Tua renta itu duduk bersila bersama ketiga murid nya.
__ADS_1
"Apakah ada wejangan buat kami bertiga Eyang Guru, untuk menghadapi pemuda itu.. Karna kami setelah mendapatkan wejangan serta nasehat dari Eyang Guru, akan langsung menyelamatkan Sueb, Imron dan Karto.." Terang Ray.
"Tak ada wejangan dan nasehat dari Eyang.. Karna ketiga teman mu saat ini sudah bebas, mungkin esok sore sudah berada di sini bersama Cucu buyut ku. Bruno.." Kakek Tua itu menjelaskan sangat detail menurut pandangan mata batinnya.
Mereka bertiga tidak terkejut sama sekali dengan apa yang di ucapkan oleh gurunya.. Bila Guru nya sudah berkata begitu.. Ucapan nya akan selalu benar dan tak mungkin salah..
"Kalian bertiga malam ini naiklah ke puncak Gunung Siluman dan bertapa untuk mendapatkan sebuah Pusaka dari penunggu Gunung itu.." Titah Guru nya itu.
"Siap Eyang Guru." Mereka bertiga serempak menjawab dan beranjak pergi keluar dan akan langsung naik ke puncak Gunung Siluman.
###############
Satu jam telah berlalu, orang yang di tunggu akhirnya datang juga. Tampak di halaman rumah panggung berhenti sebuah mobil Pajero Sport warna putih..
Tak lama kemudian dalam mobil sosok lelaki berusia 40 tahun keluar dengan stelan memakai jas dan sepatu hitam yang sangat mengkilap.
"Bip..... Bip.... Bip.... Bip....!
Mobil Pajero Sport itu terkunci otomatis. Lelaki itu menatap keseluruh halaman yang begitu asri di perkampungan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan di provinsi Jawa Barat tersebut.
Dalam rumah panggung beberapa teman lama lelaki berusia 40 tahun itu keluar menyambut dirinya dengan penuh senyuman bahagia terpancar dari wajahnya yang sudah menua, namun masih tampak gagah.
"Sahabat ku.... Sang maestro perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP. Selamat datang.." Salah satu lelaki tua berusia 50 tahun menyambut kedatangan sahabat nya seraya meregangkan kedua tangannya.
"Jendral Macan Putih.. Tuan Ucok Situ Merang anda terlalu memuji ku.." Lelaki yang tak lain Riyan Putra Pratama itu menyambut pelukan hangat yang telah hampir 19 tahun tak jumpa.
__ADS_1
Bersambung.