
Pemuda yang kini masih status lajang di usia dua puluh lima tahun itu, dengan telinga nya mendengarkan percakapan Tuan Fander yang Ia ketahui senior dari Anggota Macan Putih berbicara kepada pimpinan para Ninja yang di bawa khusus untuk membantai dua keluarga sekaligus, sedang membicarakan tentang seorang lelaki hebat yang sangat di bangga banggakan di Organisasi tempat dirinya bernaung, seketika darah nya mendidih, amarahnya meluap luap dan sorot matanya tajam menatap kearah lelaki bermata sipit itu. Pemuda itu langsung melompat kearah Fander dan membungkuk hormat seraya berkata.."
"Tuan Fander, dan Tuan Tuan lainnya, saya Junaedi Suparman putra bungsu dari almarhum Ujang Suparman memberi hormat.."
"Yaa, aku tahu..!! Fander berkata seraya tersenyum.
"Ijin kan hamba untuk melawan lelaki bermata sipit itu.." Pinta Junaedi.
"Aku Ijin kan, dengan satu syarat jangan membuat almarhum Ayah mu malu dan bersedih di alam itu, dengan dirimu yang tak mampu menghadapi Cucunguk itu.." Tunjuk Fander kepada Nagatomo dengan senyuman merendahkan.
"Siap Tuan..... Junaedi pun langsung membalikkan badannya dan kini di hadapannya lelaki yang secara ikut andil atas kematian sang Ayah."
"Tuan Nagatomo, sikap ksatria yang kau tunjukkan kepada kami semua, aku sangat mengagumi. Aku berjanji jika kau mati dalam pertarungan ini, maka mayat mu akan aku kuburkan dengan layak, tapi jika kau bisa menang maka kau dan wakil mu Tuan Yamamoto bebas pergi tanpa ada siapa pun yang menggangu mu.." Kata Junaedi yang sedari tadi mendengarkan tantangan dari nya kepada Tuan Fander. Ia memuji sikap jantan Nagatomo.
"Terima Kasih anak muda. Namun aku tidak akan berbasa-basi lagi. Keluar kan senjata mu dan kita bertarung sampai mati." Kata Nagatomo.
"Baik....... Baiklah....." Jawab Junaedi lalu mengeluarkan Sangkur warisan dari mendiang Ayah nya yang di simpan dalam pinggangnya.
Melihat lawan nya telah siap, Nagatomo pun mulai melakukan serangan dengan perasaan frustasi.
Pertarungan satu lawan satu itu terjadi cukup alot dimana mereka saling jual beli pukulan, tendangan dan tebasan senjata milik keduanya.
Semua para anggota Macan Putih dan sebagian Ninja Ninja serta anak buah Firza yang masih bernapas, belum sepenuhnya mati tertuju kepada duel antara Nagatomo dan Junaedi Suparman. Berbeda dengan orang orang yang baru datang ketempat pembantaian itu di ketahui bahwa mereka termasuk anggota tubuh perusahaan Tuan Besar Harsya Badzil Ismail Abdullah.
Fander dan Maman Tomat serta Iwan Kupluk, begitu juga dengan Ken dan Rex, hanya bisa melongo dan mulut menganga lebar, melihat seorang pemuda memakai topeng emas duduk santai di atas tubuh Fikri seraya menghisap rokok dalam dalam.
Mereka yang tak habis berpikir dan menggelengkan kepalanya, selain sedang merokok, pemuda itu dengan santai dan acuhnya menyuruh ke empat gadis berkerudung hitam itu untuk memijit tubuh tubuh nya yang di rasa pegal dan sakit. Hal serupa pun menjadi pusat perhatian Dewi dan Indah serta Mulyadi suaminya Nyonya Indah.
__ADS_1
"Apakah pemuda tengil ini anak dari Nyonya Besar Halimah yang telah hilang selama sembilan belas tahun itu.." Batin Dewi bertanya tanya. Begitu juga dengan indah yang sudah di beritahu oleh Dewi dalam sambungan telepon dan merahasiakan identitas nya terlebih dahulu.
"Sungguh kocak pemandangan itu.." Pikir Maman Tomat.!
Pemuda bertopeng emas itu, merasa dirinya dan kempat Srikandi nya di perhatikan oleh lima jajaran penting di perusahaan milik ayahnya, langsung berkata dengan nada acuh.
"Paman, Paman, ada apa menatap ku. Apakah Paman Paman mau merokok.." Laksa berkata dan menawarkan rokoknya.!
Mendengar perkataan dari pemuda bertopeng itu sedikit menyebalkan, salah satu dari lima orang itu mulai bertanya.." Anak muda anda siapa..?" Apakah lawan atau kawan..!
"Aduh Paman, kalau saya lawan, mana mungkin saya duduk di tubuh musuh.. Baiklah aku akan memperkenalkan diri ku.. Saya adalah supir pribadi kesayangan Nyonya Besar Fatimah.." Laksa berdiri dan langsung membungkuk hormat.
"Jad.... Ja... Ja..... Jadi.." Kata kata mereka berlima terhenti, ketika melihat kode dari pemuda bertopeng emas itu dengan jari telunjuk nya Ia simpan dalam bibir nya.
Laksa berjalan beberapa langkah dan menyodorkan satu demi satu rokok kepada mereka berlima dan mereka pun menerimanya dengan perasaan penuh kebingungan dan tanda tanya besar dalam hatinya.
"Paman Paman, saya ingatkan ya, menonton dua orang yang sedang berduel tanpa di temani dengan rokok dan wanita, di ibaratkan sayur tanpa garam hampa, hahhahahaha..." Laksa berkata seraya tertawa terbahak bahak, lalu mulai kembali lagi ke tempat semula dimana para gadis nya sudah siap dengan pijitin yang membuat seluruh tubuhnya rilex.
Fander dan keempat lelaki yang seumuran dengan nya, hanya bisa terpaku dan tak berani berkata, setelah tingkah yang tak masuk akal di tunjukkan oleh pemuda yang mempunyai perlindungan dari majikannya.
"Kakak senior lemah sekali dirimu, awas saja kalau kau sampai mati.."
Pikiran mereka buyar ketika Laksa dengan nada acuh berteriak kepada Junaedi yang salah langkah, hingga Nagatomo memanfaatkan keadaan segera mengirim tusukan kearah dada Junaedi.
Pemuda berusia 25 tahun mendengar teriakkan dari adik junior nya itu tersenyum, dan langsung membantingkan diri ke tanah dan bergulingan menghindari cecaran serangan lawan.
Nagatomo yang kini kian bersemangat menyerang tidak memikirkan pertahanan kaki nya.
__ADS_1
Tepat ketika dia akan mengirim tendangan kearah tubuh Junaedi yang masih dalam keadaan terbaring. Junaedi Suparman yang sudah menyangka serangan itu langsung menangkis dengan tangan kiri dan mengirim tusukan menggunakan tangan kanan.
"Hiattt............!
"Blezzzzzzzzz........!
"Arhkk..................!
Terdengar teriakan kesakitan dari mulut Nagatomo.
Dia yang terlalu bersemangat menyerang tak menduga akan mendapatkan serangan balik yang membuat kaki kanan nya mengalami cedera akibat tusukan Sangkur milik Junaedi.
Sambil terjingkat pincang Nagatomo langsung mundur dari arena bertarung dan segera merobek baju nya untuk mengikat bekas luka tersebut.
Kesempatan yang sedikit ini di gunakan oleh Junaedi untuk segera bangkit dan berdiri dengan senyuman manis.
"Uhk.... Senyum mu Kakak senior sangat menakutkan.." Teriak Laksa yang tengah asyik menerima pijitan tangan dari empat Srikandi itu.
Dewi dan Indah menghampiri pemuda bertopeng itu dengan senyuman manis, lalu duduk dan membelai wajah yang sebagian masih tertutup topeng.
"Terima Kasih, anak muda.." Ucap Dewi dan Indah bersamaan.
"Sama sama Tante... Duduklah dengan santai sebentar lagi akan selesai pertarungan ini.." Jawab Laksa.. Kedua wanita yang kini berdekatan dengan pemuda itu mengangguk.
"Kakak senior jangan di lama kan, selesaikan segera mungkin..." Teriak Laksa memberi perintah.
"Siap adik Junior.." Jawab Junaedi, langsung berlari dan menyerang secara membabi buta kepada Nagatomo yang lengah karena sedang mengikat luka yang di terima akibat tusukan.
__ADS_1
Bersambung.