
"Kriiiiing..................................!!
"Kriiiiing...................................!!
"Kriiiiing....................................!!
Suara panggilan telepon terdengar nyaring di ruangan itu, ponsel yang berdering itu lalu buru buru di angkat oleh wanita berusia 35 tahun tersebut dan berkata."
"Assalamualaikum."
"Halo Laksa, kamu dimana posisi sekarang.?"
"Bibi mencemaskan mu.! Ponsel tak bisa di hubungi lagi." Kata seseorang dari sebrang telepon bertanya secara beruntun.
"Hehehehe, maafkan Laksa bibi, batu ponsel nya lobet Laksa tak sempat ngecas dulu."
"Posisi saat ini Laksa sedang berada di bawah kaki bukit Gunung Kencana.." Ucap Laksa memberi tahukan posisinya.
"Tunggu kamu di situ biar bibi yang jemput kamu ya.." Fatimah merasa bersalah kepada keponakan tentang sebuah penekanan yang harus begini begitu.
Fatimah tahu isi hati keponakan nya itu, setelah semalam Ia bermimpi Ayah nya datang dan memberi tahu tentang anak dari Halimah atas permintaan nya.
"Tak usah bibi. Laksa hanya ingin minta tolong, kalau bisa itu juga.." Ucapannya terhenti ada rasa tak berani untuk mengatakan keinginan dalam hatinya, walaupun bibi nya itu akan mengabulkan permintaan nya itu.
"Mau minta tolong apa, bibi pasti akan mengabulkan nya.."
Laksa diam, Ia sudah terlalu malu untuk berbicara. Tapi tanpa ada kendaraan pribadi dirinya tak bisa bergerak secara leluasa.
"Muhammad Laksa Ilham, kenapa diam, apakah kamu masih di situ..?" Fatimah bertanya karna tak kunjung ada jawaban dari keponakan nya itu.
"Begini bibi, kalau boleh Laksa, meminjam lagi uang untuk membeli satu unit motor, agar tugas yang di berikan oleh Sang Kakek terasa mudah, motor yang seken aja, paling harga sepuluh jutaan.." Ucap Laksa dengan keadaan yang terpaksa.
Tadinya Ia ingin membeli mobil untuk menyelesaikan semua musuh musuh dari Sang Ayah, tetapi karna rasa malunya kepada Fatimah yang telah memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Kedua Orang Tua dan Adik angkat nya belum di tambah lagi, Ia sempat meminjam uang dua ratus juta untuk biaya operasi gadis yang baru Ia kenal beberapa jam saja.
__ADS_1
Walaupun dirinya adalah Sang pewaris perusahaan terbesar se-Asia yang mempunyai aset triliun, tapi itu bukan milik nya, melainkan milik ayahnya dan kenapa Laksa berpikir begitu karna beban yang akan di jalani di hadapannya penuh dengan sebuah jebakan kematian buat dirinya.
Panjang lebar nya malam mencurahkan isi dan hati nya kepada Sang Kakek atas permintaan nya itu, lir ibarat makan buah simalakama.. Di samping harta dan jabatan yang melimpah di depan mata, Ia juga harus siap mengorbankan nyawanya.
"Apakah tidak bisa di bilang dengan pesugihan kalau begitu..
"Yaa jelas itu sama saja dengan pesugihan, secara singkat aku mendapatkan semua yang aku inginkan, dari hidup kemiskinan, menjadi orang yang kaya raya secara singkat, tapi ancaman kehidupan yang aku lalui di hadapannya adalah sebuah nyawa yang bisa kapan saja melayang."
"Muhammad Laksa Ilham, bibi sudah tahu isi hatimu, sekarang posisi dimana, bibi akan menjemput mu.." Kesal Fatimah bisa bisa keponakan itu berkata begitu.
"Bibi ihk..............."
"Cepat serlock sekarang juga jangan banyak alasan yang tak di mengerti.." Fatimah berkata penuh dengan penekanan.
"Baiklah.... Tapi bibi sendiri kesini nya.." Pasrah Laksa, jelas kalah keras kepalanya Laksa melawan Fatimah.
"Iyaa keponakan ku yang paling keras kepala, sekarang posisi kamu serlock, bibi akan datang seorang diri.."
"Iyaa.. Sudah Bibi, Laksa serlock alamat nya..."
##########
Empat puluh menit berlalu, satu unit mobil sedan Marcedez Benz C-Class berhenti tepat di salah satu mushola yang ada di bawah kaki bukit Gunung Kencana.
Tampak terlihat dari dalam mobil seorang pemuda yang sedang duduk di teras mushola, berpakaian lusuh dan terlihat di area celana bawahnya noda tanah becek, menghisap rokok dalam dalam lalu asapnya Ia keluarkan.
Harsya yang berada dalam mobilnya bersama Fatimah, meneteskan air matanya, ketika pemuda yang sedang duduk itu tampak seperti pengemis.
Harsya sebelum nya sudah di beritahu oleh Fatimah akan mimpi malam itu, tadinya Ia tak percaya dan hanya menganggap bunga tidur saja, tapi setelah melihat keaadaan anaknya yang kondisinya seperti itu, Ia pun berargumen dengan otak dan hati nya, bahwa anak yang baru dua hari Ia temukan sangat tertekan.
Mereka berdua turun dari mobil, Laksa tersentak kaget melihatnya, lalu bangkit dan berjalan kearah mereka berdua seraya mencium tangan masing masing.
"Dasar bibi Tukang Bohong... Bilang nya sendiri tapi ini kenapa ayah ikut juga.." Keluh Laksa.
__ADS_1
"Hehehehe, Maaf Ayah mu maksa ingin ikut kata nya mencemaskan mu.." Alasan Fatimah.
"Uhk.... Ayah ini, Laksa sudah besar tak perlu di cemaskan.." Laksa berkata dengan bibir yang cemberut.
"Anakku, emang bener kamu itu sudah besar, tapi sipat dan kelakuan mu kaya bocah, wajarlah ayah mencemaskan mu.." Ucap Harsya.
"Ahkk............" Rajuk Laksa, hingga Harsya pun tersenyum.
"Bibi, Laksa tadi makan di warung itu, tapi belum di bayar.." Ucap nya malu malu.
"Apa barusan kamu bilang hah.." Kaget Fatimah dan Harsya secara bersamaan.
"Biasa aja kali muka kalian berdua, Aku tadi makan di warung itu dan belum di bayar jadi sekarang minta uang lima puluh ribu untuk membayar makanan yang sudah aku makan.." Terang Laksa menjelaskan nya.
Harsya hanya bisa geleng geleng kepala nya, begitu juga dengan Fatimah yang menepuk keningnya, bisa bisa nya orang terkaya di negara nya bisa melakukan hal yang bisa membuat pamor keluarga nya itu jatuh.
Fatimah pun lalu mengeluarkan uang satu lembar pecahan seratus ribu kepada Laksa dan berkata.." Cepat bayar, bibi dan Ayah mu menunggu mu di mobil jangan lama lama.
"Iya.!
Laksa berlalu melangkah menuju warung yang ada di pinggir jalan untuk membayar makan dan rokok.
"Fatimah aku tanya sama kamu sudah berapa hari kamu mengetahui Laksa adalah anakku..?" Harsya berkata setelah masuk ke dalam mobil penuh dengan penekanan.
"Sepuluh Hari Kak.!
"Sepuluh hari.....................! Harsya tersentak kaget seraya memukul kemudi setirnya, Ia kecewa kepada Fatimah.
"Maaf Kak, Fatimah salah... Tadinya setelah acara haol ayah selesai, aku dan Dinda akan membawa Laksa ke Jakarta untuk mengurusi semua surat surat pemberkasan agar, Ia bebas dan bisa melakukan apa yang di inginkan nya, tanpa harus meminta ijin atau pun berkata untuk meminjam uang kepada ku.." Terang Fatimah memberikan alasan nya.
"Apakah dengan cara yang kamu lakukan begitu, hingga Laksa hidupnya tertekan sebagai ahli waris perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY.." Tebak Harsya.
"Mungkin Kak...." Lirih Fatimah.
__ADS_1
Bersambung.