Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Kecewa Amanda pada Alena


__ADS_3

"Alena Kakak duluan ya. Ini uang buat bayar makanan yang kita makan.." Amanda bangkit meninggalkan Alena yang diam mematung tak berkata apa apa.


Langkah kaki lemas tak berdaya dan Air mata nya keluar menyusuri dua pipi mulus nya berjalan terus menjauh dari rumah makan itu dan tak berniat kembali masuk ke rumah sakit untuk mengambil tas dan baju nya.


Apakah sipat yang di tunjukkan oleh Amanda itu terlalu egois, atau kah dia tahu diri bahwa dirinya dan Laksa tak bisa bersatu setelah jati diri orang yang di cintai terungkap bahwa kasta nya lebih tinggi.


Amanda terus berjalan menyusuri jalanan di siang hari hingga sampai di jalan penghubung dua kabupaten Sukabumi dan Bogor.


Suara dering telepon berkali kali Ia acuhkan dan tak di angkat oleh nya, pikir Amanda Ia mengetahui bahwa yang menelepon adalah Laksa atau pun Nyonya Besar Fatimah yang mengetahui dia tak kembali ke rumah sakit.


"Maafkan aku Kak Laksa, Maafkan aku Nyonya Besar Fatimah dan Tuan Riyan, aku butuh penenangan diri untuk sementara waktu dan akan segera melunasi hutang yang malam itu Kak Laksa berikan.." Ucap Amanda sambil berjalan, dan tiba tiba...................!


"Cittt..........................."


"Arhkk..........................."


"Braakkk................................"


Beberapa warga yang ada di sekitar berbondong bondong dan berlari lari kearah gadis yang terserempet mobil mewah, melihat keaadaan dan kondisi gadis itu.


Sedangkan sang pengendara turun dari mobil mewah itu setelah membantingkan kemudi setir nya kearah kiri hingga menabrak salah satu pembatas jalan.


"Alhamdulillah." Kata syukur dari para warga itu terucap setelah melihat kondisi gadis cantik dan supir serta satu orang lain nya dalam keadaan selamat.


"Nona, mari kita ke rumah sakit, takut nya ada luka dalam." anak muda pengemudi pemilik mobil mewah itu mengajak gadis yang terserempet mobil nya itu.


"Terima Kasih Tuan, ahk tak apa apa kok, hanya lecet biasa, mungkin pakai betadine sama hansaflas juga sudah sembuh beberapa hari ini saja.."


Beberapa detik kemudian lelaki setengah Tua berdiri di hadapan gadis setelah melihat keaadaan pemilik warung yang tidak kenapa napa.

__ADS_1


"Tuan Besar... Kata nya Nona ini tidak apa apa dan tak ingin di bawa ke rumah sakit.." Anak muda itu memberi tahukan pada majikan nya.


Amanda, menepuk nepuk seluruh tubuhnya, akibat terserempet dan jatuh ke samping jalan, hingga baju dan celana nya tampak kotor oleh debu, lelaki tua pemilik mobil mewah yang di akibatkan oleh sang supir mengantuk hingga mengakibatkan oleng dan menyerempet gadis yang sedang berjalan dalam lamunan, seluruh nya di perhatikan oleh lelaki setengah tua itu.


"Kenapa jantung ku berdetak dan tampak terasa tak asing dengan gadis ini.." Batin hati lelaki setengah tua itu.


"Non, muda dimana rumah mu, biar saya mengantarkan, penebus rasa bersalah ini.." Pria setengah tua menawarkan diri dan ingin mengetahui gadis yang terserempet mobil miliknya.


"Tuan tak usah repot repot, lagian saya tidak kenapa napa.." Tolak halus Amanda.."


"Sungguh saya tidak repot sekali, dan tak ada niat jahat dalam hati saya, ini ingin menebus kesalahan atas supir saya yang ceroboh, ayo saya antarkan Non muda ke rumah.." Kata Pria Tua itu dengan dalih menebus kesalahan sang supir pribadi nya.


"Baiklah...... Namun rumah ku jauh Tuan, ada di wilayah kabupaten Sukabumi.." Kata Amanda."


"Ahk.... Hanya Sukabumi, sekaligus tujuan ku memang mau ke kota Cianjur lewat jalur Sukabumi, itu lebih bagus satu arah ke tempat tinggal mu Non.."


"Mari....'' Ajak Pria Tua itu untuk berjalan ke arah mobil nya.


Setelah Amanda masuk dalam mobil mewah yang sedikit penyok depan nya akibat menghantam warung kaki lima tersebut, mobil pun langsung melaju pelan kearah kota Sukabumi dari jalan Ciawi.


"Non kalau boleh tahu siapa gerangan panggilan anda, agar saya tak merasa canggung untuk memanggil nya.." Pinta lelaki tua yang duduk di samping kiri supir pribadi nya.


"Tuan bisa memanggil saya dengan sebutan Amanda.." Jawab gadis itu dari belakang."


"Nama yang indah dan mengingatkan aku pada gadis yang mungkin sekarang seumuran mu Amanda.." Kata lelaki itu, mencoba menelisik dalam dalam gadis tersebut.


"Kenapa harus di ingat ingat Tuan gadis itu, Emang siapa gadis yang seumuran dengan ku..?" Tanya Amanda dengan pertanyaan yang begitu polos.


Sesaat lelaki setengah tua itu terdiam, Ia menatap kearah depan jalanan begitu lenggang, lalu setelah itu berkata dengan suara yang begitu berat namun menyayat hati Amanda.

__ADS_1


"Gadis itu adalah anakku, yang hilang selama sepuluh tahun yang lalu.."


"Maafkan hamba Tuan, tak seharusnya bertanya begitu hingga luka lama Tuan kembali lagi.." Lirih Amanda.


"Hehehehe santai aja Amanda, tak harus minta maaf segala, itu kejadian sudah lama dan harapan untuk mencari keberadaan anak gadis satu satu ku sudah mulai merosot dengan seiring waktu berjalan.." Terang lelaki itu.


"Ehk... Amanda perkenalkan nama saya Liu Smit.." Sambung lelaki tua itu.


"Senang berkenalan dengan anda Tuan Liu Smit.. Kalau boleh tahu saya akan ikut andil dalam pencarian anak gadis Tuan, itu juga bila anda berkenan.." Dengan mudahnya Amanda mengucapkan kata kata itu tanpa di pikir ulang terlebih dahulu.


"Terima Kasih... Terima Kasih banyak, saya keluarga sangat berkenan dengan permintaan anda.." Jawab Liu Smit semangat, ada satu secercah harapan penuh terhadap gadis itu dan pikiran serta insting nya gadis itu mirip seperti istri nya.


"Kita berhenti di Kafe yang ada di pusat kota untuk sekedar mengobrol dan menunjukkan beberapa informasi informasi tentang anak saya yang hilang sepuluh tahun ke belakang.." Sambung Liu Smit.


"Baik Tuan Liu Smit itu lebih baik.." Jawab Amanda."


####


Sementara di ruangan VIP rumah sakit rakyat. Alena kembali dengan wajah yang sayu berjalan tertunduk tak berani untuk mengangkat wajahnya di hadapan Kakak angkat nya itu.


"Kenapa kamu Alena? Dimana Amanda kok tidak bersama mu, bukan kah tadi berangkat bersama untuk makan siang..?" Tanya Sang Ibu yang tidak biasa melihat anaknya lesu seolah olah ada yang di sembunyikan.


"Tidak apa apa Bun! Pikir Alena Kak Amanda sudah kembali duluan.." Jawab nya dengan wajah yang masih menunduk.


"Katakan yang sebenarnya sayang, ada apa dengan kondisi mu yang tak seperti biasa dan dimana Amanda.." Kini yang bertanya adalah Fatimah seraya berjalan dan mengajak duduk adik angkat Muhammad Laksa Ilham itu.


Semua mata memandang, ke arah Alena yang sudah duduk di kursi bersama Fatimah, di antara mereka yang menatap adalah orang orang penting di perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP.


"Maaf..." Singkat kata yang di ucapkan oleh Alena.

__ADS_1


"Maaf untuk apa sayang..?" Tanya Fatimah penasaran di buatnya.


Bersambung.


__ADS_2