
"Nyonya Besar... Makan sudah.. Cuci mulut juga sudah, sekarang kita bahas pada inti dari anda mengundang ku untuk makan di restoran yang menurut pandangan hamba ini mewah." Kata Laksa tatapan matanya tajam kepada Syamsul dan Lasmi.
"Yaa tapi sebelum kita membahas ke inti utamanya.. Bagaimana kamu ingin melakukan balas dendam atas penghinaan dan tamparan dari Syamsul terhadap dirimu Sa.." Kata Fatimah.. Hal itu langsung membuat Syamsul dan Lasmi bersimpuh di kaki Laksa dengan balutan Air mata kepasrahan.
"Nak.... Laksa.... Hiks.... Hiks..... Kami berdua menyesal dan memohon ampun.. Sesaat terlena dalam harta dan jabatan, kami berdua tampak terlihat bodoh dan sangat bodoh tak melihat tingginya langit dan dalam nya lautan.. Sudi kah Nak Laksa, memaafkan kami berdua.." Lirih Syamsul.
"Jujur dalam hati ini.. Bibi Fatimah.. Sakit waktu itu memang sakit.... Tapi apa guna membalas dendam kepada orang yang berada dalam naungan keluarga Besar Harsya badzil Ismail Abdullah.. Itu hanya buang buang tenaga saja...." Ucap Laksa.. Membuat Fatimah pun bangga kepada keponakan nya itu..
"Hanya karena keluarga Tuan Besar Syamsul mempunyai jabatan dan harta yang melimpah, mereka semua nya merendahkan orang yang mempunyai kasta di bawahnya.. Ingatlah harta itu hanya titipan.." Sambung Laksa.
"Jadi bagaimana cara menyelesaikan nya Sa..?" Tanya Fatimah..
"Biarkan saja lah... Aku sudah memaafkan nya, ketika malam itu pemilik Padepokan Macan Putih datang menghampiri ku, dan memberikan wejangan nya.." Terang Laksa..
"Aku harap sipat sombong angkuh dan Adiguna. Tuan Besar Syamsul dan Nyonya Besar Lasmi, mau mengurangi sipat sipat yang sangat di benci oleh manusia dan Tuhan.." Sambung Laksa..
"Hehehehe.... Laga mu Laksa, tadi sebelum kau makan, ucapan mu tidak sesuai yang baru saja di katakan.." Kata Fatimah seraya terkekeh.
"Setelah di timbang dan di putuskan dalam otak yang bercabang dan masuk dalam hati yang bersih, maka saya sang pemulung barang rongsokan memutuskan untuk memaafkan mereka berdua... Apalagi setelah melihat cantiknya Nona Dinda....."Terang Jaya... Hingga membuat Fatimah dan Dinda melongo dengan kata kata yang tak bertuah.
"Ais....... Kau tak jauh berbeda dengan sipat Ayahmu Sa..." Ucap Fatimah.
"Syamsul dan kau Lasmi... Untuk kali ini saya tidak akan memperhitungkan masalah mu empat hari yang lalu, kau telah menampar dan menghina rendah calon Supir kesayangan ku.." Terang Fatimah.
"Terima Kasih banyak Nyonya Besar Fatimah... " Ucap mereka berdua bersamaan.
"Ini hanya sebuah peringatan, kalau lagi kau Syamsul dan Lasmi... Terlihat dan mendengar lagi kau menghina orang selain Laksa... Jangan salahkan aku dan keluargaku kejam...." Ancam Fatimah..
"Tak akan lagi... Seandainya aku atau istri ku.. Merendahkan lagi dan menghina orang seenaknya.. Nyonya Besar percaya lah... Dengan tangan ini, aku Syamsul bersumpah akan membunuhnya.." Ucap nya..
__ADS_1
"Baiklah aku pegang ucapan mu.... Sebaiknya kita langsung membahas ke rencana yang akan kita jalani.." Ucap Fatimah..
"Silahkan Nyonya Besar.. " Ucap Syamsul dan anggukan mereka bertiga..
"Syamsul dan kau Lasmi... Melanjutkan obrolan malam itu, bahwa haol kematian ayah ku, Kiayi Sepuh yang akan di adakan di kediaman itu, sudah terendus oleh pihak musuh dan menurut kabar serta informasi yang di susupkan oleh interen anak buah saya di orang orang Serigala merah, menargetkan keluarga anda dan keluarga Indah, Dewi, Kakak iparku..." Kata Fatimah terdiam sejenak berhenti melihat exfresi dari mereka bertiga.
Tampak exfresi wajah Syamsul dan Lasmi begitu juga dengan Dinda, menahan amarahnya.. Berbeda dengan Laksa dia hanya tenang saja mendengar nya..
"Bibi Fatimah... Apakah Tuan Besar Harsya dan yang lainnya sudah mengetahui tentang informasi yang baru saja anda katakan..?" Tanya Laksa..
"Sudah....... Sa.!
"Lalu tanggapan Tuan Besar Harsya.!
"Entahlah....... Kakak iparku acuh seakan semangat hidupnya sudah tak ada lagi, Ia sudah tak peduli dengan semua ini... Hanya satu yang membuatnya Ia akan bersemangat dengan di temukan nya Istri dan anaknya.." Keluh Fatimah.
"Nyonya Besar.. Jadi bagaimana rencana mu, menghadapi serangan dari para Ninja yang di kirim oleh Tuan Naga Saki Sempur dan menghadang Genk Serigala merah untuk melindungi beberapa keluarga yang menjadi target mereka..?" Tanya Syamsul.
"Aku tidak punya rencana sama sekali.." Ucap Fatimah.
"Terus apakah kita semua akan pasrah begitu saja dan apa yang selama ini kita perjuangkan akan hancur begitu saja... Mana orang orang kuat Macan Putih..?
"Mana Ucok dan Beni......
"Mana Fander.........
"Mana Ken dan Rex bersama anak buah nya.....
"Mana orang orang dari Brigadir Jenderal Anton Sideka yang selalu berada dalam barisan terdepan..
__ADS_1
"Mana orang orang Tuan Besar Suhardi.. Di antara nya Maman Tomat..
Syamsul bertanya kepada Fatimah tentang kokoh nya kekuatan Macan Putih dan perusahaan milik Tuan Besar Harsya.
"Anda bertanya kemana mereka.?" Mereka semua tergantung sang induk.. Bila sang induk sudah berdiam maka mereka pun akan mengikuti nya..." Jawab Fatimah..
"Jadi................... Kalimat Syamsul berhenti dan langsung menundukkan kepalanya ketika Fatimah memberikan kode mata yang menatap tajam.
"Laksa.......... Ini di dalam ponsel sudah tersedia Poto dan nama nama orang yang berada dalam naungan kita... Sebaliknya di tempat penyimpanan Poto lagi, ada orang orang yang menjadi target buruan kita.." Ucap Fatimah memberikan sebuah ponsel yang sangat mewah bernilai puluhan juta.
"Baik bibi... Laksa mengerti dan mohon maaf kalau boleh meminta satu hal, yang mungkin menurut bibi Fatimah dan Dinda serta Kedua Orang Tua Non Dinda sangat tak tahu malu..." Ucap Laksa dengan berterus-terang nya.
"Silahkan keponakan ku yang paling tampan dan menggemaskan.." Ucap Fatimah..
"Satu lagi dong ponsel bermerek dan berharga puluhan juta nya.. Untuk adikku Alena.. Hehehehehe.." Kekeh Laksa...
"Uhk.... Di kira apa... Ternyata hanya sebuah ponsel..!! Itu tak jadi masalah.." Ucap Fatimah..
"Terima Kasih bibi ku yang paling cantik hahahhahaha.." Ucap Laksa tertawa.
"Uhk.................... " Dengus Fatimah.
"Syamsul kau tahu kan apa yang harus di kerjakan.. Semua kebutuhan keluarga Laksa dari rumah dan barang barang lainnya kau yang urus.. Tapi semua nya kau rahasia kan identitas diri keponakan ku itu... Seandainya identitas diri Laksa tersebar........ Aku tak akan menyalahkan orang lain... Kalian bertiga yang akan menanggung akibat nya.." Ancam Fatimah.
"Nyonya Besar...... Jadi Laksa ini......................................
"Yaa dia adalah anak kandung kakak ku yang hilang sembilan belas tahun yang lalu... Ibu Nuri dan Pak Ilham dua orang tua yang telah merawat keponakan ku, atas perintah dari Inah dan Ineh yang kini keberadaan nya entah dimana.. Kemungkinan terbesar Kakak ku Halimah masih hidup.." Terang Fatimah.
Bersambung.
__ADS_1