Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
Kunjungan Istri Firza kepada Bruno


__ADS_3

Satu unit mobil mewah Toyota Fortuner SUV, keluar dari gerbang Mansion yang ada di jantung Ibu kota negara ini,


Jalanan di pagi hari terasa begitu panas membentang area pusat kota, lalu lalang kendaraan di pagi hari itu begitu padat dan tampak mobil beraneka merek merayap secara perlahan lahan karna padat nya polusi kendaraan.


Tampak di salah satu mobil Toyota Fortuner SUV, yang terjebak dalam kemacetan di pagi hari itu, tak membuat dua orang wanita yang berbeda usia itu mengeluh, justru mereka tampak begitu asyik dengan obrolan di dalam mobil, untuk membunuh rasa bosan atas apa yang terjadi dalam perjalanan yang di lalui nya.


"Bun kita ke Bekasi, mau menemui siapa? Setahu aku ibu itu belum pernah keluar atau pun mempunyai teman untuk di ajak ketemu atau pun hanya untuk bertukar pendapat.." Gadis cantik dengan rambut terurai panjang dan pipi yang begitu putih bertanya pada wanita yang duduk di sebelahnya.


"Paman Baron! Ya Paman Baron, adik angkat Bunda yang ingin aku temui.." Wanita yang di panggil Bunda itu menjawab."


"Ummmmmmmm!


Gadis itu bergumam dan kening nya berkerut."


"Dinda! Kamu belum mengenalnya." Kata Bunda.


"Jelas lah, kapan Bunda memperkenalkan nya ke aku."


"Hehehehe.. Hari ini Bunda akan memperkenalkan pada mu, siapa Paman Baron.." Kekeh nya Bunda."


"Uhk..." Dengus nya Dinda menghentakkan nafasnya, membuat sang ibu tersenyum manis seraya mengelus ngelus rambut anak gadis nya itu.


Hampir 40 menit lamanya, mereka terjebak dalam kemacetan di pagi hari itu, akhirnya mobil Fortuner SUV pun keluar dari lalu lalang padat nya kendaraan dan langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju salah satu komplek elit di kota Bekasi.


Tak begitu lama hanya memakan waktu 40 menit saja, kini mobil yang di tumpangi oleh Dinda dan Bunda nya masuk ke salah satu gerbang tinggi yang tampak terlihat dua mobil mewah sedang terparkir di area halaman rumah tersebut.


"Dinda.. Ayo kita turun, tuh adik Bunda sama istri dan anaknya berdiri menyambut kedatangan Bunda.." Ajak nya, Dinda pun langsung mengangguk.

__ADS_1


Pintu terbuka dari kiri dan kanan, dua wanita turun dan mulai melangkah ke arah pintu masuk perumahan elit di kota itu, senyuman hangat di berikan oleh pemilik rumah.


"Kak Widia!


Lelaki berusia 40 tahun langsung melangkah beberapa langkah dan langsung mencium tangannya, di ikuti oleh istri dan seorang pemuda gagah tampan dan berwibawa.


"Gimana kabar mu Ron dan keluarga..?" Tanya Widia setelah basa basi penyambutan usai.


"Alhamdulillah Kak, ayo kita masuk ke dalam.." Ajak Lelaki setengah tua itu dengan senyuman.


"Ehk... Kakak Ipar! Ini Dinda kan anak gadis mu..?" Tanya wanita di samping lelaki setengah tua tersebut."


"Hehehehe." Iya, Sri, hampir lupa ngenalin anak gadis ku pada kalian.." Kekeh Widia!.


"Hmmmmm." Terkucilkan aku.." Keluh Dinda membuat mereka terkekeh."


"Santai aja Paman Baron tak usah meminta maaf segala.." Jawab Dinda, seraya mencium tangan lelaki tua itu.


"Baik.. Sangat Baik! Kak Widia anak mu, sangat cantik luar dan dalam.." Kata Baron seraya mengelus ngelus rambut Dinda.


"Alhamdulillah Kak! Dia harapan aku bertahan selama ini.." Widia berkata dengan exfresi mata berkaca-kaca.


"Sabar, Kak, sebaiknya kita masuk ke dalam dan obrolan di lanjutkan di dalam ruangan sambil ngopi.." Ajak Baron tak di lama kan lagi Widia pun mengangguk.


Setelah mereka masuk kedalam ruangan, dan pembantu rumah pun sudah menghidangkan beberapa cemilan dalam meja kaca tersebut untuk menemani obrolan di siang itu.


"Baron, bagaimana bisa suami saya menjadi incaran ke-tiga petinggi perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dan kenapa dua wanita Nyonya Besar Kobra Company Group sudah tidak percaya terhadap suami ku..?" Widia langsung pada inti nya bertanya, membuat Dinda langsung terkejut penasaran mendengarkan nya.

__ADS_1


"Itu sudah lama Kak.. Dan beberapa kali aku sudah memberi tahukan pada Kakak, namun dengan santai Kak Widia berkata itu tidak mungkin.." Terang Baron."


"Yaa, Kakak tadinya gak percaya karna bagaimana pun juga kesuksesan dari TRI FUTURE COMPANY GRUP dan Kobra Company Group hampir 90 persen suami ku yang berjasa.." Alasan Widia pada adik angkat nya.


"Kak ipar, ada satu ulasan dari ibu ku waktu aku masih belum nikah.." Istri Baron berkata memberikan saran dan masukan, Widia pun langsung menoleh kearah wanita yang usia nya di bawah dirinya.


"Anakku seandainya kamu nanti mempunyai suami, atau pun bekerja pada orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kesuksesan yang di inginkan, dan kamu sendiri ikut andil dalam mencapai kesuksesan itu, dengan cara yang haram di lakukan nya, maka itu akan bertahan paling lama sepuluh tahun. Setelah itu dia akan memantau dalam kesetiaan, persahabatan dan persaudaraan, lalu kedepannya orang orang itu akan kembali melakukan cara licik untuk mengusir dan menjatuhkan dirimu, karna batas perbuatan yang di lakukan oleh mu sudah selesai di dalam tulisan yang ada dalam lauhilmahfud.


"Lalu bila itu terjadi pada ku Bu, apa yang harus aku lakukan.." Istri Baron waktu itu bertanya pada sang Ibu, yang kini kemungkinan terjadi pada suami Kakak iparnya."


"Segera tinggalkan dan kembali lagi pada Fitri.."


"Bila itu tidak bisa Bu.."


"Tunggu lah, apa yang di buat nya akan merasakan hasilnya dari kamu tuai.."


"Kakak Ipar, mohon maaf sebelumnya, itu hanya sebuah amanah dari mendiang ibu ku waktu itu saat aku masih perawan, maaf bila kata dan nasehat ku tak berkenan dalam hati Kak Widia.." Terang Istri Baron.


"Sri.... Kenapa harus meminta maaf, Justru Kakak sangat malu terhadap mu dan Baron, atas ulah dari suami ku yang menghalalkan seribu secara demi ambisi nya.. Bahkan Dinda pun berulang kali ingin mengobrol dengan Ayah nya, dan segera bertobat atas apa yang telah di perbuat nya itu, namun aku hanya memberikan pilihan tentang apa yang kini di miliki oleh kehidupan kami.." Terang Widia sesaat mata nya menatap kearah Dinda yang duduk di sebelah kiri sambil membelai rambut indah tersebut.


Hening sesaat dalam ruangan itu, setelah dua obrolan wanita yang bergelar Ibu dan Istri, Dinda diam membisu berhadapan dengan lelaki muda dua tahun di atas usianya.. Baron sendiri hanya menarik napasnya dalam dalam lalu mengeluarkan nya dengan kasar.


"Kak.. Jadi apa yang akan di lakukan setelah semua tahu dengan apa yang akan terjadi..?" Baron bertanya mencairkan suasana keheningan di siang itu dalam ruangan keluarga.


Widia tertunduk tak bersuara, tatapan kebawah pikiran dan hatinya nya berkecamuk penuh dengan ketakutan yang akan terjadi."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2