Laksa Sang Pemulung

Laksa Sang Pemulung
PERCUMA KEK


__ADS_3

Di dunia ini sebenarnya memiliki tujuh macam alam ghaib dan kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia. Masing-masing alam ditempati oleh bermacam- macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing. Aktivitas mereka tidak bercampur, setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alam manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lainnya yang juga mempunya badan jasmani.


Sedangkan penghuni 6 alam lainnya mereka mempunyai badan dari cahaya atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus, mahkluk yang tidak kelihatan. Di 6 alam tersebut tidak ada hari yang terang berderang seperti alam manusia karena tidak ada matahari. Menurut literatur, Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang.


Alam Kajiman. Yakni mereka yang hidup di rumah-rumah kuno masyarakat yang bergaya aristokrat, hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka biasanya tinggal di daerah-daerah pegunungan dan tempat- tempat yang berhawa panas. Dan dikenal dengan sebutan merak Jim oleh masyarakat.


Tampak seorang pemuda yang sedang duduk di sebuah Glodok Kayu yang begitu halus dan berwarna emas kekuningan terpaku menatap keseluruh literatur bangunan bangunan bergaya kuno itu, mirip sebuah kerajaan jaman dahulu.


Entah berapa lama nya Ia duduk di bangku kayu itu seraya pikiran nya melanglang buana entah apa yang di pikirkan saat ini, hingga seorang lelaki tua menegurnya.


"Assalamualaikum... Hai anak muda kita bertemu lagi.."


"WaallAikum Salam..." Jawab pemuda itu berkerut kening, menerka nerka lelaki tua itu.


"Kake.... Kakek........ Guntur.." Pemuda yang duduk di bangku kayu bersulam emas itu berdiri dan suara nya terbata bata.


"Hehehehe.... Ingatan mu sangat kuat anak muda,masih bisa mengenali diriku yang tiga tahun lalu aku membimbing dirimu di salah satu Bukit Gunung Kencana.." Kata Kakek itu memegang kedua pundak pemuda itu.


"Tak akan pernah lupa, orang yang memberikan sebuah ilmu kepada ku Kek.." Jawab pemuda itu.


"Anak muda, ayo kita jalan, ada banyak yang harus Kakek perlihatkan padamu ketika kau kembali ke alam yang masih menyatu dengan jasmani mu." Ajak kakek Guntur.


"Jalan kemana Kek.? Apa yang mau di perlihatkan kepada ku..?" Tanya pemuda itu berkerut kening nya.

__ADS_1


"Pokok nya ikut saja.. Kiayi Sepuh sudah memberi ijin kepada Kakek untuk membawa mu jalan jalan.." Ucap nya.


"Yaa Uwiss.... Les Go..." Laksa singkat membalas nya lalu berjalan mengikuti irama langkah Kakek Tua tersebut.


Entah berapa menit lamanya, Kakek tua dan pemuda itu sampai di salah satu, bangunan yang tampak asing bagi dirinya, namun Ia tahu bahwa bangunan itu seperti rumah panggung yang ada di daerah pinggiran kota di Jawa Barat.


"Muhammad Laksa Ilham.... Ayo kita masuk ke dalam rumah itu.." Ajak Kakek tua.


Pemuda yang bernama Muhammad Laksa Ilham pun hanya mengangguk pelan, jantung nya berdetak kencang seakan akan seseorang yang berada di dalam rumah panggung itu ada ikatan darah yang begitu kental.


Setelah masuk ke dalam rumah panggung itu, dengan tanpa permisi terlebih dahulu, pemuda yang di bawa oleh lelaki tua itu terkejut bukan main setelah apa yang di lihat di dalam rumah panggung tersebut.


"Paman Riyan.... Amanda!


"Anak muda dua orang itu kau sudah kenal kan dan tahu posisi jabatan dari seorang pria yang kau panggil Riyan itu.. Namun Kakek membawa mu bukan untuk dia dan gadis itu, tetapi untuk satu wanita yang duduk di sebelah gadis bernama Amanda itu.. Perhatikan lah seluruh wajah di wanita itu.." Terang Kakek Guntur menunjuk wanita setengah tua tersebut.


Laksa terdiam membisu, melihat dengan seksama seluruh wajah wanita yang sedang mendengarkan penuturan dari Riyan Putra Pratama. Lalu Laksa pun tersenyum seraya berkata.."


"Aku sudah tahu Kek siapa wanita itu.." Ia memalingkan wajahnya dan langsung membalikkan badannya untuk keluar dari rumah panggung tanpa di suruh oleh Sang Kakek.


"Kenapa kau keluar Cucu ku.." Tegur salah satu Kakek yang tiba tiba datang dan kini di hadapannya.


"Kakek bertanya kenapa aku keluar...." Aku tahu Kek di dalam itu siapa... Dia Ibu ku.. Ibu kandung ku.. Tapi apa daya aku di dalam hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh nya... PERCUMA KEK..." Tegas Laksa dengan nada tinggi namun menyayat kalbu.

__ADS_1


Sang Kakek yang bergelar Kiayi Sepuh di alam Fana itu tersenyum manis sebelum Ia berkata kepada pemuda anak dari pasangan suami istri Harsya dan Halimah itu.


"Muhammad Laksa Ilham... Saat nya kau kembali pada raga mu, berkumpul kembali dengan Kedua Orang Tua serta Paman dan Bibi mu..." Tuntaskan semua sampai tak bersisa segala permasalahan yang ada dalam interen perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP dan Organisasi Macan Putih sampai ke akar akarnya." Terang Kiayi Sepuh memberi wejangan pada Laksa.


"Apakah aku bisa..?" Tanya Laksa.


"Pasti bisa dan harus bisa, pikirkan sendiri cara nya oleh mu..." Lelaki Tua yang Laksa tahu Ia adalah Kakek Guntur keluar melayang dari rumah panggung dan berdiri di hadapan Laksa.


"Ahk...... Sok tau.." Gerutu Laksa, menimpal ucapan dari Kakek Guntur, hingga terkena jitakan dari Kiayi Sepuh.


"Pletakk........."


"Aduhhh........." Kek... Sakit eyy.." Ringis Laksa.


"Lagian kau pesimis amat jadi orang... Cucu sableng dan sedeng sedikit gila serta bisa membuat orang orang tensi darah nya itu naik, perlu kamu tahu yaa... Kamu itu di dukung penuh oleh Orang-orang Macan Putih dan perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP, belum di tambah lagi padepokan Cimande dan para makhluk yang tak kasat mata..." Apakah pantas hati mu itu ragu untuk menyelesaikan tugas yang aku berikan.." Kiayi Sepuh memberi penjelasan tentang kekuatan yang dimiliki oleh Laksa untuk melawan dan memberantas semua musuh dari Kedua Orang Tua nya itu.


"Hahahhahahahah..... Hahahhahahaha....." Entahlah Kek.. Kepribadian ku, menurun dari siapa? Aku tak tahu, namun aku memperlihatkan senyuman dan tingkat kejahilan yang membuat orang lain marah atau pun kesal, semua itu hanya untuk melampiaskan sesuatu yang ada dalam hati ku selama sepuluh tahun ini.." Tawa lepas Laksa yang Ia di tunjukkan kepada Kiayi Sepuh dan Kakek Guntur.


"Kakek dan Kakek Guntur mungkin tahu alasan berkata begitu, tanpa harus di perjelas.." Sambung Laksa, membuat kedua lelaki tua berwujud arwah itu hanya menatap iba kepada Laksa.


Saat itu keheningan tiba tiba melanda di area itu, tadinya Kakek Guntur ingin memperkenalkan satu demi satu siapa orang orang yang ada di dalam rumah pasangan suami-istri Inah dan Ineh.. Namun maksud nya itu seketika urungkan di saat Laksa mengetahui siapa wanita yang sedang duduk dengan gadis itu


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2