
"Video mana?" tanya Jingga.
"Waktu wanita itu datang dan menunjukkan kalau dia hamil. Pasti pihak kampus akan menyuruh mereka berhenti kuliah" kata Firman ikutan gemas.
"Aku nggak sepicik itu lah Firman. Biar saja mereka memfitnah, yang penting aku tak melakukan itu. Nyatanya siapa yang jadi tunangan siapa yang hamil. Iya kan?" ulas Jingga.
"Anjing menggonggong kafilah berlalu. Begitu kah?" sambung Firman.
"Cuekin aja kali. Seperti kataku tadi" bilang Mega.
Mereka bertiga masuk ke kelas dengan pandangan mahasiswa lain tertuju pada Jingga.
"Berasa seperti selebriti" gumam Jingga.
"Ha...ha...gimana kalau kita balas mereka secara halus" bisik Mega.
"Gimana caranya?" sela Firman yang ternyata juga kepo dengan urusan Jingga dan Kenzo.
"Issshhhh ikut-ikut aja" seru Mega.
"Ya kali aku diajak" ucap Firman.
Mereka bertiga tak tahu jika pak Hakam telah masuk kelas mereka.
"Jingga, Mega, Firman jika ingin arisan, keluar sana di toilet" sapaan pembuka pak Hakam.
Yang lain pun langung geerrrrrr menertawakan mereka bertiga.
Selesai jam kuliah pak Hakam. "Jingga, besok nonton yuuukkk" ajak Mega.
"Ikut dong say" seru Firman.
"Yaelah loe lagi loe lagi" sela Mega.
"Kukabari besok pagi aja dech" jawab Jingga.
"Nggak ada penolakan. Besok siang kujemput loe di kost" ujar Mega.
"Oke, pagi aku bersih-bersih kost dulu" ujar Jingga.
.
Jingga tengah berberes kost kala ponselnya berdering.
"Halo" sapa nya tanpa melihat siapa yang menelpon, karena sedang membersihkan kolong tempat tidur.
"Halo Nak, kamu ada di mana? Kok enggak ada di kost?" kata ayah terdengar di ujung telpon.
Jingga tentu saja kaget saat ayahnya mengatakan itu.
"Aku ada di kost loh" jawab Jingga.
"Ayah sama mama di kost kamu nak" bilang ayah.
Matih aku. Aku belum bilang kalau aku pindah. Batin Jingga.
Aku musti beralesan apa nih. Ayah sama mama datang pakai nggak bilang lagi. Jingga memutar otak untuk mencari alasan yang jelas.
"Nih, ayah sama mama aja kan? Nggak ada yang lain?" maksud Jingga tanpa menyebutkan nama Kenzo.
"Barusan ayah nelpon Kenzo, tapi tak aktif" bilang ayah.
__ADS_1
Kebetulan yang meguntungkan nih. Batin Jingga.
"Yah, kukiriman alamat kost aku yang baru. Tapi tolong jangan bilang kak Kenzo. Ntar alesannya apa, aku sampaiin setelah ayah sama mama sampe" kata Jingga.
"Iya nak, lekas lah" suruh ayah.
Jingga menutup panggilan dari ayahnya, dan mengetik alamat kos yang kini telah ditinggali olehnya.
Tak sampai tiga puluh menit, kembali ponsel Jingga berdering.
"Ya yah" jawab Jingga setelah menggeser ikon hijau di layar ponsel.
"Oke, Jingga menunggu di depan gerbang" kata Jingga setelah memberitahu arah yang harus dilewati oleh mobil ayahnya.
Jingga melambaikan tangan kala melihat mobil dengan plat nomor yang sangat dihafalnya itu. Karena hanya itu yang dipunya oleh keluarga Pramono, nama ayah Jingga.
Jingga menyambut dengan tergopoh kedatangan ayah dan mama nya yang tak bilang-bilang itu.
Jingga memeluk mama yang hampir tiga bulan tak bertemu. Dan hanya saling melihat lewat panggilan video.
"Yah, Mah ayo masuk dulu!" ajak Jingga.
"Ngapain kamu pindah nak? Bukannya di sini lebuh jauh dari kampus?" tanya mama.
"Lingkungannya enak Mah. Dan fasilitas kamarnya lebih enakan sini daripada yang sebelumnya" terang Jingga sembari menyalakan pendingin ruangan.
Ayah meneliti sekeliling dan barusan menyusul ke kamar putri tunggalnya itu.
"Bener kok apa yang dibilang Jingga. Bersih juga. Terus di depan juga ada pos ronda" imbuh ayah.
"Kapan kamu pindahan?" tanya mama.
"Kemarin" kata Jingga menjawab pertanyaan mama.
Mama mengeluarkan perbekalan yang dibawa dari rumah. Ada beberapa camilan kesukaan Jingga.
Jingga yang melihat nya langsung saja meraih makanan ringan itu.
"Tau aja mama" ujar Jingga dan langsung memasukkan ke mulut setelah berhasil dibuka olehnya.
"Jingga, kamu belum jawab pertanyaan ayah loh" kata ayah.
"Tanya yang mana? Kak Kenzo?" tandas Jingga.
"Heemmmm" gumam ayah.
"Aku dan kak Kenzo putus Yah" ujar Jingga, dan tak mau lagi menyembunyikannya di depan ayah dan mama nya yang telah berada di depan Jingga.
Jingga tak mau menunda lagi. Niat awalnya ingin memberi tahu ayah dan mama saat libur semester, tapi nyatanya ayah dan mama nya kini telah datang duluan.
"Kenapa?" tanya ayah heran.
Jingga dan Kenzo yang masih baik-baik saja kala mereka pamitan balik ke kota tempat mereka meraih asa ini.
Jingga menarik nafas panjang.
"Kak Kenzo mengkhianatiku" jawab Jingga singkat.
"Jingga, jujur lah!" suruh ayah. Karena jika sampai terjadi gagalnya pernikahan ini, maka akan membuat keluarga Wawan salah sangka.
"Ayah kenal kak Rima kan?" tanya Jingga.
__ADS_1
"Iya kenal lah. Rima anak dari paman kamu kan? Kakak dari mama mu" pertegas ayah.
"Sekarang kak Rima hamil anaknya kak Kenzo" beritahu Jingga.
"Apa aku salah jika memutuskan tali pertunangan ini?" tanya Jingga.
Jingga menunjukkan video yang dikirimkan Firman kala Rima memberitahu Kenzo kalau dirinya sedang hamil anak dari Kenzo.
Ayah menggenggam erat tangannya. Greget karena ulah Kenzo.
"Sudahlah yah jangan marah. Untung saja yang di atas menampakkan aib nya sekarang. Daripada ntar setelah menikah" kata mama mencoba untuk menahan amarah sang suami.
"Pulang dari sini, kita langsung ke rumah Wawan saja Mah. Kita kembalikan saja cincin yang diberikan oleh Kenzo dan keluarganya" kata ayah masih emosi.
Saat sedang bicara serius dengan ayah dan mama ponsel Jingga berdering.
"Siapa?" tanya mama.
"Teman kuliah Jingga Mah" bilang Jingga.
"Aku otewe Jingga. Siap-siaplah. Keburu main tuh film baru" kata Mega tanpa titik koma.
"Hhhmmmm" gumam Jingga sembari melihat ke ayah dan mama.
Tak enak dengan mereka yang jauh-jauh datang dari luar kota untuk mengunjungi anak nya.
"Pergilah. Ayah dan mama istirahat dulu di sini" bilang mama disertai anggukan sang ayah.
"Oke Mega, aku siap-siap" jawab Jingga penuh semangat.
Ayah dan mama saling pandang sepeninggal Jingga. Dan tersenyum.
Bagi mereka kebahagiaan Jingga putri semata wayangnya adalah yang utama.
Tok...tok...terdengar pintu kamar diketuk.
Mama beranjak membuka pintu. Terlihat di sana cewek cantik seumuran Jingga.
"Temannya Jingga?" tanya mama.
Mega yang masih terkejut akan ada nya orang tua Jingga segera menyalami dan mencium tangan keduanya.
"I...iya tante. Saya Mega, teman seangkatan dan satu jurusan sama Jingga" kata Mega mengenalkan diri.
"Asli mana Mega?" tanya mama biar akrab.
"Owh, kebetulan saya tinggal di kota ini tante" jawab Mega.
"Oooo, asli sini ya?" tanya ayah penuh sabar. Ayah Pramono yang usianya sepertinya di atas Dad Tian.
"Iya Om. Kapan-kapan boleh yaa Om main ke rumahnya Jingga" kata Mega yang ramahnya di atas rata-rata itu.
"Tentu. Silahkan saja. Bagi Om yang penting ada ijin orang tua, pintu Om terbuka lebar untuk teman-teman Jingga" seru ayah Pramono.
"Makasih Om" dan bersamaan dengan itu Jingga keluar kamar mandi dan segera bersiap.
Jingga dan Mega pamitan kepada ayah dan mama untuk pergi.
Ternyata di bioskop di mall terbesar itu ada Firman dan beberapa temannya menunggu kedatangan duo cewek cantik itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading