
Sementara di luar kediaman Kenzo telah dikepung oleh anak buah Dewa.
Dewa menyuruh pak RT untuk mengetuk pintu kediaman keluarga Kenzo.
Pak RT membawa beberapa tetangga sesuai yang dijanjikan pada Jingga tadi.
Tok...tok....tok....
Belum ada respon apapun dari dalam.
Tok...tok...tok...
Kembali pak RT mengetuk pintu.
Tok...tok...tok....
"Pak Wawan... Bu Wawan... Kenzo..." semua dipanggil oleh pak RT.
Belum ada sahutan sama sekali.
Pak RT memandang yang lain, untuk mendapat persetujuan mendobrak pintu.
Sementara di dalam Kenzo masih mengungkung Jingga.
"Di luar pasti pak RT tak jelas itu. Meminta data-data kamu karena dianggap tamu yang menginap" kata Kenzo jengah.
"Emang harusnya begitu! Itu kan aturan sedari dulu" kata Jingga ketus.
"Tapi kan lo juga warga sini" timpal Kenzo.
"Warga sini yang engkau culik" tandas Jingga.
"Ha...ha... Awas saja kalau lo bilang yang tidak-tidak pada pak RT yang kepo itu" awas Kenzo.
"Kalau aku bilang?" Jingga seakan menantang.
"Maka aku tak akan menunggu kita menikah untuk menikmati tubuh kamu" seru Kenzo sembari menatap tajam Jingga.
"Tak akan kubiarkan sekali lagi tangan kotor kamu menyentuh tubuhku" kata Jingga menepis lengan Kenzo begitu saja.
Kenzo mulai naik pitam.
Dicengkeramnya lengan Jingga dengan kuat.
"Awas saja lo berani macam-macam sama aku" hardiknya.
Satu...dua.... Terdengar orang menghitung dari luar.
Sementara Kenzo melepas cekalan tangannya dan bergerak ke arah pintu untuk menyambut tamu tak diundang itu.
Tigaaaaaa....
Pas sekali dengan momen Kenzo membuka pintu.
Alhasil tendangan ketiganya mendarat manis ke badan Kenzo yang berada di balik pintu.
Kenzo terjerembab dan meringis kesakitan.
"Awas saja kamu pak RT. Anda telah melanggar privasi seseorang. Dan juga menganiaya warga" seru Kenzo penuh ancaman.
"Lantas? Pak RW akan kamu lapori? Silahkan aja! Bahkan kalau dipecat jadi RT aku akan senang karena tak mengurusi lagi warga macam kamu" kata pak RT tegas.
"Mana surat-suratnya?" pinta pak RT langsung menengadahkan tangan dan meminta untuk bertemu Jingga.
"Jingga sedang istirahat, karena masa pemulihan dari sakit nya tempo hari" kata Kenzo beralasan.
__ADS_1
"Oh ya, kalau begitu sekalian kita ke sini mau jengukin Jingga" sela bu RT yang datang belakangan bersama ibu-ibu yang lain.
Sebastian dan Dewa bermain cantik sekali hari ini.
Tak perlu mengotori tangan mereka secara langsung untuk mengamankan Jingga dari tangan Kenzo.
Dengan utusan pak RT semua telah diskenario.
Bahkan kali ini Sebastian dan Dewa cukup menunggu di kediaman pak RT, hanya anak buah mereka yang bersiaga di sekitaran rumah Kenzo.
"Kenzo" seru bu RT.
"Mana Jingga?" seru ibu-ibu yang lain.
"Aku di sini bu RT" kata Jingga dari balik ruangan.
"Aku sudah sembuh kok, aku ingin tengokin rumah dan juga makam ayah dan mama" kata Jingga kepada para ibu-ibu.
"Boleh, ayo kita anterin" ujar bu RT.
"Nggak perlu repot ibu-ibu. Aku sendiri yang akan mengantar calon istriku" bilang Kenzo.
"Owh, kita merasa nggak direpotkan. Ya kan ibu-ibu?" kata bu RT memprovokasi ibu-ibu yang lain untuk menyetujui ucapannya.
"Benar tuh. Apalagi kita semua bersyukur Jingga telah sembuh dan kembali pulih" sambut ibu yang lain.
"Nggak boleh. Jika selangkah saja Jingga keluar dari rumah ini, maka Jingga akan menanggung akibatnya" seru Kenzo dengan menghalangi jalan Jingga.
"Apa itu artinya kamu mengancam wargaku, Kenzo?" sela pak RT.
"Aku bisa melaporkan kamu ke yang berwajib" tegas pak RT.
"Laporkan saja, toh nanti siang aku akan menikahi Jingga. Apa ada yang salah jika aku menahannya di sini" lanjut Kenzo tak kalah sengit.
"Apa Jingga menyetujui? Jika Jingga bilang iya, maka akan kutinggal Jingga di sini" seru pak RT.
"Aku tak akan menikah dengan Kenzo pak RT" tukas Jingga dengan jelas.
"Kita sudah tunangan Jingga!" seru Kenzo mengingatkan.
"Jangan mengada-ada. Berkat kamu culik aku sudah ingat semua. Bukankah tunangan kita sudah diputus saat kamu menikahi kak Rima" tandas Jingga mengurai semua.
"Mari bu RT" ajak Jingga melenggang keluar rumah Kenzo.
Kenzo hanya bisa mengepalkan tangannya erat
Misi kali ini gagal lagi dia mendapatkan Jingga.
Rencana yang diprediksi lancar, nyatanya tak semudah yang dikira oleh Kenzo.
Warga setempat tempat dia tinggal ternyata tak memihak pada diri Kenzo.
"Awas saja kalian!!!" gumam Kenzo mengancam semua.
"Aku hubungin Andre saja. Bilang kalau misi kali ini gagal" ujar Kenzo bermonolog.
Dan benar saja, saat Kenzo menyalakan ponsel yang sengaja dimatikan olehnya sedari kemarin banyak sekali notif pesan masuk.
Salah satu diantaranya, notif pesan dari Andre.
Banyak umpatan, sumpah serapah yang ditujukan kepada Kenzo karena mengkhianati mereka tanpa memberitahu kemana Kenzo membawa Jingga.
Panggilan Andre langsung masuk ke ponsel yang dipegang oleh Kenzo.
"Posisi?" tanya Andre begitu panggilan terhubung.
__ADS_1
Kenzo memberitahu posisinya sekarang.
Sejenak tak ada sahutan dari Andre.
"Sialan lo. Terlalu jauh lo bawa Jingga. Butuh empat jam perjalanan untuk sampai sana" umpat Andre.
"Di mana Jingga sekarang?" sela Andre menanyakan keberadaan Jingga.
"Bersama ibu-ibu komplek ziarah ke makam orang tuanya. Jangan marah-marah, aku yakin Jingga aman dan di bawah kendaliku jika berada di sini" ujar Kenzo penuh percaya diri.
"Lekas bawa balik Jingga ke sini! Terlalu jauh posisi lo dari jangkauan. Jika terjadi apa-apa maka kita tak ngejamin bisa ngelindungin lo" jelas Andre.
Emang apa yang akan terjadi. Jingga sudah dalam genggaman. Tak ada yang perlu aku kuatirin lagi. Pikir Kenzo.
Kenzo sepertinya melupakan pengaruh bos Blue Sky saat ini.
Biarin ajalah. Biarkan saja Kenzo lengah.
Oleh ibu-ibu, bukannya Jingga diajak ziarah terlebih dahulu. Tapi malah diajakin ke kediaman pak RT.
"Lho, kok ke rumah pak RT?" seru Jingga yang ternyata kembali ingat jalan di kompleks perumahan itu.
"Betewe, makasih pak RT atas bantuannya" bilang Jingga.
"Sama-sama Jingga. Sudah menjadi kewajiban kita semua untuk ngelindungin warganya dari marabahaya" kata pak RT.
Jingga lumayan kaget saat mendapati Dad Tian dan uncle Dewa berada di kediaman pak RT.
"Loh?" Jingga terbengong.
"Mereka menunggumu" seru pak RT.
Dad Tian, "Dewa kita langsung balik aja. Aku tak mau terjadi apa-apa lagi dengan Jingga" tandas Dad Tian.
"Tapi?" sela Jingga.
"Kenapa Jingga?" tanya uncle Dewa.
"Aku mau ziarah ke makam ayah dan mama uncle" jelas Jingga.
"Kita anterin" seru uncle Dewa menimpali.
"Apa tak buat repot uncle?" kata Jingga merasa tak enak.
"Demi keamanan kamu. Kita tak ingin kecolongan lagi. Langit sangat mengkuatirkanmu Jingga" bilang uncle Dewa.
Jingga pun menurut.
Jingga mendatangi makam dengan diantar oleh Dad Tian dan juga uncle Dewa.
Dan benar, apa yang dikuatirin oleh uncle Dewa beneran terjadi.
Kenzo terlihat menyusul ke makam dan saat ini dia telah diamankan oleh beberapa anak buah Dad Tian.
"Kalau dia melawan, antarkan dia ke pihak berwajib. Ada banyak bukti untuk menjebloskannya ke penjara" kata uncle Dewa penuh intimidasi agar Kenzo jera.
"Jangan kasih kesempatan lagi. Serahkan saja laki-laki ini ke pihak berwajib. Sertakan sekalian bukti-bukti yang memperberat hukumannya" kata Dad Tian tanpa ampun untuk Kenzo.
Dad Tian mengibaskan tangan, seolah sedang membersihkan debu seperti Kenzo.
"Kita balik" ajak Dad Tian beserta rombongan. Meninggalkan Kenzo yang masih berada di bawah cekalan anak buah Dad Tian.
Bui telah siap menunggunya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading