Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Paksaan Kenzo


__ADS_3

"Aunty Tania baik kok. Nilai aja ntar kalau ketemu" bilang Mega seakan mempromokan Tania. Padahal tanpa dipromosikan, istri dari dokter Arka Danendra itu sudah terkenal dan malang melintang di dunia hukum. Sesuai jurusan yang diambil mereka bertiga. Jingga, Mega dan Firman.


"Ke kantin yuk. Laper juga bahas hal yang tak perlu" seru Firman.


Di kantin tak kalah heboh saat Jingga dan rombongan datang mencari bangku kosong.


"Wah, si pengganggu hubungan orang udah datang aja. Lapar kali ya dia" celetuk salah satu mahasiswa yang ada di kantin.


Mega hendak menghampiri tapi keburu dicegah oleh Jingga.


"Ngapain repot ngurusin orang yang sibuk menggibah. Gunakan energi kamu untuk hal-hal positif Mega" seru Jingga.


"Bener juga. Orang yang ngolok kamu, belum tentu juga lebih baik. Apa kurang kerjaan kali ya?" sindir Mega.


"Bisa jadi" tukas Jingga.


"Pesan apa kalian? Aku aja yang ke sana" seru Firman.


"Oke dech" bilang Mega setuju.


"Nih" Mega menyodorkan menu makan yang selesai ditulisnya.


"Baiklah sayang, semua pasti akan kulakukan asal kamu senang" canda Firman.


"Jangan sok, lihat tuh yang duduk di pojok sebelah kanan kamu" olok Mega.


"Upssss...bisa dicincang gue" Firman menutup mulutnya dan segera berlalu untuk pesan makanan setelah melihat Langit dan Bintang yang berada di sana.


Mega menertawakan Firman yang barusan berlalu.


Bahkan semua mata yang tadi memandang sinis ke arah Jingga, sekarang jadi tak perduli lagi. Apa juga karena kedatangan Langit dan Bintang. Dua cowok idola sekaligus cowok yang bikin segan mahasiswa lainnya.


Bintang yang melihat keberadaan Mega dan Jingga ikutan gabung semeja. Sementara Langit masih sibuk dengan laptop di depan mata dan tak mau menyusul Bintang.


"Jingga, lo udah makan belum?" tanya Bintang semakin akrab.


"Ngapain kakak ke sini? Jangan bilang mau modusin Jingga. Awas saja ya!" sergah Mega.


"Lo ini jadi cewek kolot amat sih, sudah seperti uncle Tian aja" ledek Bintang.


"Gue ngedeketin Jingga, karena ingin nambah teman aja. Kecuali kalau Jingga mau kujadiin pacar. Ya nggak Jingga?" candaan Bintang semakin menjadi.


"Tolak aja Jingga. Dia nggak jauh beda sama Kenzo" olok Mega.

__ADS_1


"Eh enak saja, nggak sama lah. Aku ganteng dia enggak. Aku pintar taekwondo, dia payah. Aku sudah mau lulus, dia ngajuin judul skripsi aja belum" olokan Bintang semakin meluas.


"Kak, balik sana. Tuh kak Langit sendirian" suruh Mega ke Bintang.


"Ya terserah gue. Langit kalau sudah mantengin laptop begitu. Yang ada aku dianggurin dan dianggep gapura kampus. Didiemin mulu" tolak Bintang untuk kembali semeja dengan Langit.


Alhasil mereka kumpul berempat setelah Firman balik ke meja setelah pesan makanan.


"Oh ya Jingga, week end ini cabut yuk. Bosen juga kemana-mana sama Langit dan Mega mulu" kata Bintang.


Sebuah cubitan mendarat manis di lengan Bintang.


"Pergi aja sama mama Catherine dan papa Reno" sela Mega.


"Loh nggak papa, asal Jingga juga mau. Sekalian lah kenalan sama papa dan mama" imbuh Bintang.


Saat asyik mengobrol, kembali seseorang menghampiri Jingga dan teman-temannya. Dia yang bagai cenayang bagi Jingga, karena selalu muncul di waktu yang tidak tepat.


"Jingga, aku ingin bicara serius sama kamu" katanya yang selalu mengatakan itu kembali membuat Jingga malas mendengarkan.


"Kak, aku musti bilang berapa kali. Aku sudah nggak ada hubungan dengan Kenzo. Kalau kamu ingin memilikinya, silahkan saja. Toh aku juga tak rugi" tandas Jingga.


"Kalau tak mau jangan dipaksa dong. Aneh!" sela Mega.


"Bukan urusan kamu" ujar Rima ketus kepada Mega.


"Apa kamu bilang? Jangan buat fitnah" sergah Rima.


"Cih, kamu sungguh pintar bersilat lidah kak. Jangan kamu kira aku tak tahu, siapa yang melempar bola panas tentang gosip yang beredar" kata Jingga membuat nyali Rima sedikit menciut.


"Jika kakak tak mengklarifikasi, aku tak segan melaporkan kakak yang sudah membuat berita palsu dengan menjelekkan namaku" bisik Jingga di telinga Rima.


Dengan bersungut, Rima berlalu meninggalkan Jingga.


"Emang yakin kalau penyebar beritanya dia" seru Mega.


"Enggak" jawab Jingga kepedean.


"Tapi kalau melihat reaksinya begitu sepertinya iya" sela Firman.


"Padahal aku hanya gertak sambal aja tadi" ujar Jingga.


"Kepedean kalian tuh" olok Bintang yang masih berada di sana.

__ADS_1


"Biarin" jawab Jingga dan Mega bersamaan.


Selepas dari kantin, ternyata jam mata kuliah berikutnya dosen tak bisa datang dan ditunda minggu depan.


"Jingga jalan yuk" ajak Mega.


"Sori dech, aku nggak bisa kali ini. Aku mau ke bank bentar, kemarin atm ku keblokir gara-gara salah pin" terang Jingga.


"Issshhhh dasar lo pikun" olok Mega.


"Mendingan gue nyusul ke bunda aja" seru Mega.


"Oke dech. Aku duluan ya. Bye" sahut Jingga.


Jingga melenggang ke parkiran sepeda motor.


Hampir setahun Jingga tinggal di kota ini, Jingga mulai hafal dengan jalan dan rute yang ada.


Kala melewati jalan protokol, di bawah panas terik sebuah mobil yang sangat dihafal oleh Jingga tiba-tiba memotong jalan sepeda motor Jingga.


Hampir saja Jingga terjatuh karenanya. Segala umpatan lewat begitu saja di benak Jingga kala melihat sosok seorang laki-laki yang selalu menghantui dirinya beberapa hari terakhir ini.


"Apalagi?" kata Jingga dengan ketus.


"Aku nggak mau putus sama kamu" ujar Kenzo menegaskan.


"Jangan picik Kenzo, ada bayi kak Rima. Tanggung jawablah!!!" tandas Jingga.


Kenzo yang sudah memendam emosi beberapa hari ini, mulai tak sabar menghadapi Jingga.


Kenzo menarik kasar lengan Jingga dan mendorong Jingga untuk masuk ke dalam mobil miliknya.


"Aku tak mau" Jingga berusaha menolak tarikan Kenzo.


Kenzo tak perduli.


"Kak, jangan nekat!" Jingga masih berusaha menolak.


"Aku akan teriak, kalau kakak memaksa" ancam Jingga.


"Teriak aja" kata Kenzo tetap dengan emosi meluap.


Kenzo tetap memaksa Jingga, sementara tangan Jingga berpegangan erat dengan stang sepeda motornya yang terparkir.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2